
"Ada sesuatu yang ingin aku pastiin sama kamu," ucap Arkha. Kanaya pun memperhatikan wajah pria itu, menatapnya lekat.
Memang pria berdarah asia ini tidak memiliki cacat fisik sedikit pun. Lalu kenapa dirinya sangat terlambat sekali menyadari hal itu da juga ketulusan pria ini bukanlah isapan jempol semata. Arkha selalu memperlakukan dirinya dengan baik, bahkan mengutamakan kepentingan dirinya. Daripada kepentingan pria itu sendiri.
"Apa?" Tanya Kanaya. Seingatnya ia sudah menceritakan tentang dirinya.
"Apa kamu tidak ingin menemui Kakekmu? Biar bagaimana pun dia adalah keluarga yang kamu punya saat ini," tanya Arkha dengan hati-hati. Takut-takut jika wanitanya itu akan tersinggung atau merasa tidak nyaman dengan persoalan yang ia bahas.
__ADS_1
Kanaya diam sejenak, tidak serta merta menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Arkha kepadanya. Wanita bule itu terkihat memikirkan sesuatu, hingga membuat Arkha merasa tidak enak. Niatnya hanya ingin memperbaiki hubungan Kanaya dnegan keluarganya. Karena bagaimana pun sikap mereka di masa lalu, akan tetaoi hubungan darah tidak bisa menghapuskan jalinan yang menghubungkan mereka. Sampai kapan pun itu. Keluarga tetaplah keluarga.
"Maafkan aku, jika aku telah menyinggung perasaanmu," ucap Arkha kemudian karena melihat wajah Kanaya yang berubah murung. Arkha memeluk Kanaya lebih erat lagi dari arah belakang, seraya berkata, "maafkan aku, aku tidak akan menanyakan sesuatu yang memang tidak ingin kamu bahas. Terlebih lagi membuatmu terluka. Aku hanya ingin kamu merasa tidak sendirian lagi di dunia ini, Sayang. Masih banyak yang menyayangimu, seperti aku," bisik Arkha di sela pelukannya kepada Kanaya.
"Bukannya aku tidak mau memperbaiki hubunganku dengan mereka," lirih Kanaya pada akhirnya. "Aku hanya masih takut. Takut aku akan membenci mereka lebih dalam lagi, setelah mengetahui alasan mereka yang menyebabkan orang tuaku mati. Aku takut merasakan rasa sakit itu kembali, jika mereka mengatakan yang sebenarnya. Sejujurnya, aku juga sangat merindukan Kakek. Tapi aku tidak bisa bertemu dengannya. Aku belum siap," lirih Kanaya.
Tanpa ia sadari, bulir bening itu mengalir begitu saja membasahi pipinya. Rasa sesak di dadaa karena merindukan orang terdekatnya, namun secara bersamaan juga rasa takut menghinggapi dirinya. Takut jika pada nyatanya yang mereka lalukan untuk melindungi keluarga mereka yang lain, demi kepentingan bersama. Sedangkan harus mengorbankan keluarganya yang lain.
__ADS_1
Cukup lama mereka diam dalam keadaan hening. Baru kemudian Arkha berucap setelah di rasa Kanaya bisa menguasai emosinya. "Bolehkah aku ikut campur dalam permasalahanmu? Karena kamu masih membutuhkan mereka. Mereka keluargamu, Sayang. Aku akan berada di sampingmu, jika kamu takut menghadapi kenyataan yang akan mereka berikan nanti," terang Arkha dengan nada penuh kelembutan.
Bukan tanpa alasan Arkha membuka luka lama yang dimiliki Kanaya. Namun, tidak menutup kemungkinan jika mereka nantinya akan mbutuhman restu dari wali Kanaya di dalam pernikahan mereka. Karena pada nyatanya Kanaya masih mepunyai keluarga.
Kanaya menatap Arkha begitu intens. Meyelami manik cokelat mata pria itu. Menelisik ketulusan dan kesungguhan yang dipancarkan oleh mata itu. Ia bersyukur, pria ini tidak lelah untuk meyakinkan dirinya. Hingga ia mempunyai seseorang yang benar-benar tulus kepadanya.
"Apa kamu yakin? Kamu tahu sendiri, bukan? Aku berasal dari keluarga yang tidak biasa. Bahkan kami menutup diri dari publik," Kanaya memastikan kembali niatan Arkha yang ingin ikut campur dalam permasalahan keluarganya. Jujur saja, dirinya cukup takut jika nantinya akan melukai Arkha. Pria yang mencintai dirknya dengan semua ketulusan yang dimiliki pria itu terhadap dirinya.
__ADS_1
"Asal kamu tetap di sisiku, bertaruh nyawa pun aku siap, Sayang." Ucap Arkha penuh dengan keyakinan. Membuat Kanaya tersentuh dengan ucapan pria Asia ini.
Aaahhhh ucapanmu, Mas😍 menyebabkan dedek diabet, karena terlalu banyak mengandung glukosa😅