Gadis Jebakan

Gadis Jebakan
Good Night, My Fiance...


__ADS_3

Kanaya merasa ada yang tidak beres di sini. Kenapa bisa Arkha tiba-tiba saja bertemu dengan kekeknya. Ada apa sebenarnya diantara mereka. Hingga dengan mudah kekasihnya itu meluluhkan hati kakeknya begitu saja.


Di posisi yang masih sama, Kanaya menanyakan hal yang membuatnya sangat penasaran. "Kok bisa kamu ketemu sama Kakek? Apa ada projek bareng? Tapi sepertinya tidak, deh. Karena aku tahu betul Kakek seperti apa," Kanaya membenarkan posisinya dan berniat menjauh dari Arkha, namun pria itu kembali menarik dirinya agar tetap di posisinya saat ini.


"Kamu meragukanku, hmm?" Arkha begitu gemas pada kekasihnya. Lalu semakin mengeratkan pelukannya pada Kanaya. Seolah tidak ingin terpisah meski satu inchi saja.


"Bukan begitu, hanya aneh saja. Memangnya apa yang sebernarnya kalian rencanakan? Apa Kakek nggak marah saat melihat beritamu dengan wanita lain?" Sejujurnya Kanaya tidak mau membahas Arkha dengan wanita lain. Akan tetapi dirinya juga ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi diantara Arkha dan kakeknya. Meskipun pembahasan ini akan terdengar menyakitkan di telinganya.


Wajah Kanaya berubah murung seketika. Dia merupakan tipe wanita yang tidak bisa menyembunyikan emosinya. Wanita mana yang tidak sakit hati, jika melihat pasangannya berada di samping wanita lain. Terlebih lagi mempublishkan hubungan mereka ke publik. Perih, itu sudah pasti.

__ADS_1


Arkha menyadari perubahan emosi kekasihnya. Lantas menarik dagu wanitanya itu, agar menatap dirinya.


"Kamu percaya kan, sama aku? Di dalam hatiku, mataku, pikiranku, cuman hanya ada dirimu, Sayang. Tidak akan ada yang menggantikan posisimu," yakinkan Arkha pada Kanaya. Lalu mengecup mesra bibir kekasihnya tersebut. "Maafkan aku telah menyakiti hatimu. Tapi aku mohon, bersabarlah sebentar lagi. Aku akan menyelesaikan semuanya." Arkha memeluk erat tubuh Kanaya. Menaruh kepala wanita itu di dadaanya. Sesak melihat wanita yang dia cintai meneteskan air mata akibat ulah dirinya.


"Janji?" ucap Kanaya dengan tatapan memohon.


Arkha mengecup kedua mata Kanaya secara bergantian. "Aku janji, Sayang. Aku tidak akan menyentuh wanita lain, selain dirimu," tegas Arkha. "Tapi kamu juga harus mau bertemu dengan Kakekmu lagi, karena aku sudah menyanggupi permintaannya. Dengarkan penjelasan darinya, agar amarah dan dendammu terhadap Kakek menghilang. Karena mereka melakukan itu atas permintaan kedua orang tuamu sendiri," jelas Arkha menangkup wajah Kanaya. Berharap wanitanya itu mendengarkan saran darinya.


"Baiklah, akan aku coba. Kapan kita akan bertemu Kakek?" Kanaya memutuskan untuk memperbaiki semuanya. Dia sudah lelah hidup dalam kebencian.

__ADS_1


Arkha tersenyum mendengar keputusan Kanaya yang mungkin berat wanita itu pilih. Namun, biar bagaimana pun sikap keluarga kita, keluarga tetaplah keluarga selamanya. Karena ikatan darah tidak bisa dihapus begitu saja.


"Besok sore bagaimana? Karena aku pagi sampai siang ada rapat dengan Ursulla," Arkha langsung menutup mulutnya karena tanpa sadar menyebut nama wanita lain. Takut-takut akan membuat sakit wanitanya itu, lantas Arkha segera meminta maaf. "Sayang, maaf. Bukan maksudku menyakitimu," ucap Arkha.


Namun, Kanaya tak membalas. Wanita itu kemudian membalikkan tubuhnya. Dusta jika dia berkata baik-baik saja saat pasangannya menyebut wanita lain. Apalagi wanita ini yang tengah menjalin kasih dengan Arkha, meskipin hanya pura-pura.


"Sayang...," lirih Arkha berusaha membujuk wanitanya.


"Sudah larut, segeralah istirahat. Biar besok nggak telat," balas Kanaya yang membelakangi Arkha. Menahan rasa nyeri serta buliran bening yang memaksa menerobos keluar.

__ADS_1


Arkha tahu dirinya salah. Maka kemudian dirinya memeluk Kanaya dari belakang. Mengusap lembut kepala Kanaya. Menyibakkan anak rambut yang menutupi wajah cantik wanitanya tersebut. Ia tidak mau memaksa Kanaya lagi. Membiarkan wanita itu untuk tenang kembali.


"Good night, My Fiance," ucap Arkha sembari mengecup leher Kanaya bagian belakang. Kemudian merapatkan posisi mereka. Memeluknya hingga mereka sama-sama memejamkan mata mereka.


__ADS_2