Gadis Jebakan

Gadis Jebakan
Menyicipimu


__ADS_3

Setelah mempertimbangkan tawaran yang diberikan Gladio kepada dirinya, akhirnya Revald menerima untuk menjadi anak angkat dari Lilliana dan Philip. Mereka berdua pun juga tidak mempermasalahkan hal itu dan malah senang jika Revald, sahabatnya Arkha yang akan menjadi anak angkatnya.


Segala sesuatu sudah mereka urus untuk menjadikan Revald sebagai anaknya secara resmi. Sedikit susah memang, karena mereka berbeda negara dan usia Revald yang bukan anak kecil lagi. Namun, atas kekuasaan yang Gladio miliki, semuanya berjalan sesuai kemauan pria lanjut usia tersebut.


"Apa semuanya sudah selesai, Sayang?" Tanya Lilliana kepada Revald yang tengah mengurus data dirinya di Kedubes yang menurus data Revald berpindah kewarga negaraan. Tentu saja semua melalui syarat yang berlaku. Tidak bisa pindah begitu saja.


"Sudah, Mom," jawab Revald yang sedikit kikuk memanggil wanita paruh baya yang terlihat masih cantik di usianya yang suda tidak muda lagi ini dengan sebutan Mommy. Sesuai permintaan wanit itu sendiri. Karen Kanaya sedari dulu tidak mau memanggil Lilliana dengan sebutan itu. Kanaya tetap bersikukuh memanggil Lilliana dengan sebutan bibi.


"Apa tidak sebaiknya Kakek kamu juga kita bawa pindah ke sini dan tinghal bersama kita, Sayang? Kasian jika membiarkan dia sendirian tinggal di sana," usul Lilliana. Wanita ini memang paling tidak bisa mengabaikan orang yang sudah lanjut usia tinggal sendirian. Padahal, sewaktu Revald masih berada di Indonesia pun dia sering meninggalkan kakeknya berada di rumah sendirian.

__ADS_1


"Aku tidak bisa memutuskannya sendiri, Mom. Lebih baik nanti kita bicarakan saja kepada Kakek. Siapa tahu juga nanti Kakek bisa menjadi lawan untuk Kakek Gladio," balas Revald dengan senyuman penuh arti. Membuat Lilliana tidak mengerti apa yang dimaksud oleh anak angkatnya ini.


"Apa maksud kamu, Sayang?" tanya Lilliana yang melihat keanehan di senyuman Revald. Saat ini mereka tengah berada di dalam mobil menuju jalan pulang. Dengan Revald yang mengemudikan mobil pemberian Lilliana.


"Kakek Vano juga bisa beladiri, Mom. Akan sangat lucu jika kedua Kakek itu bertarung di atas arena," ucap Revald seraya terkekeh lirih membayangkan jika dua pria lanjut usia itu saling bergelut. Mungkin bisa menjadi sebuah hiburan tersendiri. Karena sehabis mereka adu fisik, pastilah diantara mereka akan mengeluhkan tulang mereka.


Tentu saja hal itu membuat Lilliana menggelengkan kepala. Ternyata pria muda ini sama jahilnya seperti Arkha. "Ada-ada saja kamu itu." Balas Lilliana seraya memukul lengan Revald dan dibalas sebuah senyuman oleh Revald.


Sementara itu di rumah yang terbilang jauh lebih kecil dari kediaman Burrack, terlihat ada sepasang anak manusia yang berselimut kemesraan. Kanaya yang sedang membuat kue dari resep terbarunya, selalu diganggu oleh suaminya. Arkha selalu mengekori kemanapun Kanaya bergerak. Hal itu membuat Kanaya merasa risih dan tidak nyaman dalam menyelesaikan kegiatannya.

__ADS_1


"Sayang ... bisa tidak kamu jangan ngikutin aku terus? Kapan selesainya kalau kamu terus begini?" protes Kanaya membalikkan tubuhnya hingga kini menatap ke arah Arkha. Menatap suaminy itu denfan oenuh rasa kesal. Karema suaminya itu sedari tadi selalu mengganggu dirinya.


"Enggak bisa," jawab Arkha dengan santai. Membuat Kanaya semakin kesal. "Karena aku sudah tidak sabar ingin menyicipinya," bisik Arkha kemudian seraya menarik lembut pinggang Kanaya hingga sang istri jatuh ke dalam dekapannya.


"Kamu beneran mau menyicipi kue yang sedang aku buat?" tanya Kanaya penuh harap.


"Tentu saja aku mau, Sayang," ujar Arkha menatap penuh selera ke arah sang istri yang terlihat begitu menggemaskan dengan wajah yang ternoda oleh tepung. Seraya penampilan Kanaya yang hanya menggunakan kaos oblong Arkha. Terlihat begitu kebesaran di tubuh Kanaya yang ramping. "Aku mau menyicipimu terlebih dulu, sebelum menyicipi kue buatanmu," bisik Arkha sembari membalikkan tubuh Kanaya hingga membelakangi dirinya. Menekan sedikit tubuh sang istri hingga tertumpu pada pinggiran meja. Lalu tangannya mulai merambah masuh ke dalam kaos yang sedang dikenakan Kanaya.


"Mmhh ... jangan seper ... ssshh!!" Kanaya sudah tidak sempat melayangkan protes lagi kepada suaminya, di saat tanpa pemanasan terlebih dulu Arkha menyatukan dirinya.

__ADS_1


~Bersambung~


Maaf, baru bisa up lagi. Karena di sini sudah nggak ada konflik, hanya tinggal kegilaan Arkha pada Kanaya. Lalu akan ada spoiler beberapa part sebagai pembukaan cerita Revald.


__ADS_2