Gadis Jebakan

Gadis Jebakan
Mulai Bercerita


__ADS_3

Melihat anggukan kepala dari Kanaya yang sebagai jawaban wanita itu, Tanisha menahan geram terhadap Arkha. Bagaimana bisa masalah sebesar ini pria itu tidak mengatakannya pada keluarganya, atau setidaknya bercerita kepada dirinya. Seperti yang dilakukan pria itu selama ini.


"Apa kamu tertekan selama ini?" tanya Tanisha dengan nada suara yang lirih. Ia tahu, pasti ada sesuatu dibalik semua ini. Hingga Arkha memilih untuk diam.


Kini mereka ada di kamar Tanisha. Sedangkan Arkha entah kemana pria itu. Mumpung Kanaya tidak bersama Arkha, maka Tanisha bisa dengan leluasa mengorek informasi dari Kanaya.


"Bicara saja padaku, aku akan membantumu nanti. Begitupun dengan Kak Yuta, jika dia tahu permasalahan yang kamu hadapi," bujuk Tanisha karena Kanaya tidak kunjung menjawab pertanyaan darinya.


Kanaya nampak bimbang untuk bercerita kepada Tanisha, takut jika sampai Arkha mengetahuinya. Karena kini hidupnya bergantung pada pria itu.

__ADS_1


"Apa Kakak bisa membantuku?" Tanya Kanaya yang pada akhirnya berani membuka suara. Tanisha mengangguk dengan tegas. Mengisyaratkan jika wanita yang sedang hamil ini akan membantu Kanaya.


"Baiklah, aku akan bercerita dari awal. Agar Kakak nggak salah paham terhadapku dan menganggapku wanita yang tidak baik," ucap Kanaya kemudian mulai bercerita. "Aku dan Arkha pertama kali bertemu di sebuah tempat hiburan malam yang ada di kota LA. Pada saat itu, kami sama-sama dalam keadaan patah hati. Tidak lama kemudian aku mabuk. Lalu set--" ucapan Kanaya terpotong pada saat ada yang membuka kamar Tanisha tanpa diketuk terlebih dulu.


Tidak berselang lama dari terukanya pintu kamar tersebut, munculah Arkha dari balik pintu. Seketika wajah Kanaya berumah gusar. Takut-takut jika pria itu mendengar ucapannya.


"Sayang, ternyata kamu di sini?" Tanya Arkha. "Aku mencarimu dari tadi. Kamu tau, kan? Kalau aku tidak bisa jauh darimu meskipun itu hanya satu jengkal saja," ucap Arkha terdengar begitu manis. Namun, tjdak bagi Kanaya. Wanita itu semakin terlihat cemas pada saat Arkha mendekat ke arahnya.


"Kalau mau melakukan hal mesum, jangan di kamarku!" Protes Tanisha.

__ADS_1


Arkha terkekeh ketika melihat Tanisha yang seperti itu. Ia lupa jika kakaknya ini tidak ditemani suaminya di samping. Karena Devan baru akan tiba malam nanti.


"Ah, iya. Kakak, kan udah lama dikasih anggur sama Kak Devan," goda Arkha lalu segera menjauh dari Tanisha dan berlindung di belakang Kanaya.


Sontak saja hal itu memicu emosi wanita hamil tersebut. Lantas Tanisha mengejar Arkha dengan langkah lebar. Ingin sekali memukul mulut adik kecilnya itu agar tidak lagi meledek dirinya.


"Sini kamu kalo berani!" Seru Tanisha. Kalau dulu, mungkin dirinya akan mengejar Arkha dan langsung memiting pria itu. Tetapi kini ia tidak bisa melakukan itu, dikarenakan ada dua nyawa yang bersemanyam di perutnya. Hingga membuatnya tidak leluasa bergerak.


Arkha terus saja menggoda Tanisha, hingga membuat Kanaya merasa berkecil hati karena semenjak sampai di rumah ini perhatian Arkha tidak lagi tertuju padanya. Ada yang kurang di dalam dirinya. Entah mengapa, mungkin saja karena sudah terbiasa menerima perhatian dari pria itu.

__ADS_1


Aku sedang berpikir apa, sih? Bukannya mereka keluarga yang hangat? Lantas apa yang kamu perdebatkan, wahai perasaan. Tanya Kanaya pada dirinya sendiri. Melihat tingkah Arkha dan Tanisha membuatnya rindu akan sebuah keluarga. Rindu akan perhatian kedua orang tuanya padanya. Namun, ia harus kuat menjalani ini semua. Demi kehidupan baru yang tumbuh di dalam perutnya. Tanpa sadar Kanaya mengusap perutnya sendiri, dan hal itu mampu menarik perhatian Arkha yang tengah berdebat dengan Tanisha.


__ADS_2