
"Apa ini tidak keterlaluan, Tuan? Bisa-bisanya Tuan juga mengatur hal percintaanku juga. Meski kita pernah melakukan kesalahan, dan saya mau tinggal bersama Tuan sampai satu bulan ke depan, bukan berarti Tuan juga seenaknya mengatur kisah asmaraku juga!" Protes Kanaya tidak terima kalau Arkha terlalu mengatur dirinya sesuai yang di surat perjanjian yang mereka buat.
Setelah kejadian beberapa menit yang lalu, akhirnya Arkha berhasil mengajak nego Kanaya. Dia menulis surat perjanjian yang hampir seluruh isinya menguntungkan dirinya. Arkha berpikir hanya dengan cara seperti ini lah dirinya bisa menjerat Kanaya.
"Apa aku salah dengan permintaanku?" Tanya Arkha kembali.
Kini mereka duduk di ruang santai yang terdapat di apartemen Arkha.
"Enggak, permintaan Tuan nggak salah. Tapi, di poin nomor tiga, kenapa Tuan melarangku untuk berinteraksi dengan pria lain, selain Tuan!" Menipis sudah stok kesabaran yang Kanaya miliki.
__ADS_1
"Itu hal yang wajar, dong! Kita ini terbilang sedang menjalin sebuah hubungan, kan? Jadi, apa yang aku tulis di sana seharusnya tidak masalah." sanggah Arkha. Meski itu merupakan akal-akalannya saja.
Mana mungkin mau dia membagi miliknya kepada orang lain. Arkha bukanlah tipe orang yang dermawan jika itu menyangkut miliknya.
"Astaga, Tuaann! Hubungan kita ini tidak bisa diartikan seperti itu. Hubungan kita ini merupakan hubungan simbiosis. suatu hubungan yang saling menguntungkan. Tuan akan merasa tenang, jika berdekatan dengan anak Tuan, dan saya akan mendapatkan jaminan hidup yang lebih layak lagi jika bersama Tuan, tentu saja semua hutang yang saya miliki harus Tuan lunasi. Cukup adil, bukan?" Kali ini Kanaya bisa tersenyum senang, karena bisa memukul telak Arkha.
Maka dari itu, sekarang tugas Arkha ialah harus secepatnya bisa mengambil hati wanita ini. Kalau perlu dia akan melakukan apa yang selama ini ia karang kepada Kanaya. Itulah jalan terakhir yang akan Arkha pilih.
"Call Me, Arkha. No, Tuan." Arkha menegaskan kepada Kanaya agar memanggilnnya dengan sebutan nama saja, bukan tuan atau apalah itu yang sering disebutkan sama Kanaya.
__ADS_1
"Arkha? Jadi nama Tuan itu, Arkha? Bukan Tuan Penculik?" Kanaya bertanya sambil mengangguk-ngnggukkan kepalanya. Terlihat begitu menggemaskan di mata Arkha. Ingin sekali dirinya mengecup kembali bibir ranum yang sedikit terbuka tersebut.
Karena terlalu gemas dengan respon dari Kanaya, membuat tangan Arkha tidak tahan lagi untuk tidak menarik kedua pipi Kanaya yang agak chubby tersebut.
"Bukankah itu sebutan yang kau berikan kepadaku, Nona?" Geram Arkha seraya menarik gemas pipi Kanaya. Hingga membuat wanita itu cemberut kesal padanya.
"Tau, ah! Lebih baik aku tidur saja, daripada berdebat sama kamu. Malah bikin emosi terus," putus Kanaya. Kemudian dia beranjak dari duduknya, lalu mulai melangkahkan kakinya menuju anak tangga. Namun, sebelum kakinya menapaki anak tangga tersebut, Kanaya menoleh ke arah belakang dan menatap Arkha dengan tatapan penuh pertanyaan. "mmm ... Kak, di mana aku harus tidur malam ini?" tanya Kanaya dengan salah tingkah. Antara malu dan ragu melebur menjadi satu. Karena dia tidak mungkin memanggil Arkha hanya dengan sebutan nama saja. Dilihat dari penampilannya, Arkha terlihat lebih tua darinya. Maka dari itu Kanaya memanggilnya dengan sebutan 'kak'.
"Tentu saja di kamarku." Jawab Arkha dengan santai tanpa menatap ke arah Kanaya lagi. Dia lebih memilih menikmati kopi yang tadi dibuatkan oleh Kanaya untuknya.
__ADS_1