Gadis Jebakan

Gadis Jebakan
Nervous


__ADS_3

Tidak berapa lama mobil yang ditumpangi Arkha terparkir dengan sempurna di plataran rumah yang sangat besar dan halaman yang begitu luas. Sejenak membuat Kanaya tertegun. Ia jadi teringat kediaman kakeknya yang pernah ia tinggali sewaktu dirinya masih kecil. Karena semenjak ayahnya memutus hubungan dengan kakeknya, mereka hidup begitu sederhana.


Di depan rumah itu, Kanaya melihat ada seorang wanita yang sangat cantik dengan wajah yang sedikit bule, namun lebih dominan wajah Asia. Terlihat wanita itu tengah duduk di kursi yang ada di teras, seraya memangku camilan, dengan sebuah buku yang ada di pangkuan tangannya. Sesekali wanita itu memasukkan camilan ke dalam mulutnya, setelah itu mengusap lembut perutnya yang membesar.


"Ayo turun," ajak Arkha setelah mematikan mesin mobilnya.


Kanaya menggelengkan kepalanya pelan, ia belum siap untuk bertemu dengan keluarga dari pria ini. "Kamu duluan saja, aku menunggu di dalam mobil saja," balas Kanaya.


Arkha memaklumi sikap Kanaya yang seperti itu. Wajar saja menurutnya, karena jni merupakan pertama kalinya bagi Kanaya datang ke negara ini, dan langsung diajak berkenalan dengan keluarganya. Canggung itu pasti ada. Nervous pun juga sudah pasti. Maka, Arkha memutuskan untuk turun terlebih dulu. Karena kakak cantiknya itu nampak begitu penasaran dengan kedatangannya.

__ADS_1


Arkha membuka pintu mobil lalu melangkah keluar dan menuju ke arah wanita cantik yang kini tengah menutup mulutnya. Tak percaya melihat kedatangan dirinya. Lantas tidak menungu lama, wanita itu nampak berlari ke arah Arkha dan menghambur ke dalam pelukannya.


"Aduh, Kak. Hati-hati dong, jangan lari seperti tadi. Mana udah nggak enak lagi , saat dipeluk," goda Arkha pada wanita itu. Langsung saja wanita itu memukul lengannya.


"Nih mulut kalau ngomong masih saja suka bener," ucap wanita hamil tersebut yang kemudian mencubit mulut Arkha.


"Kak ... ini mulut masih digunakan. Jangan di cubit gini. Harusnya tuh dicium, atau...," Arkha sengaja tidak meneruskan ucapannya.


Mendengar itu, membuat Arkha diam tak bergeming. Justru karena dirinya tak pernah menyentuh Shanaz lah yang membuatnya meninggalkan dirinya.

__ADS_1


Melihat Arkha yang diam, membuat Tanisha sadar denga apa yang baru saja ia ucapkan. Meskipun udah lama tidak bertemu, lantas Tanisha tidak melepas begitu saja mengawasi Arkha. Ia selalu menaruh orang untuk melindungi adik kecilnya tersebut. Jadi, tidak heran jika dirinya mengetahui semua tentang Arkha. Termasuk kegagalan asmara yang Arkha alami beberapa waktu lalu.


"Oh, ya. Kamu pulang membawa siapa lagi? Bule?" tanya Tanisha mencoba mengalihkan topik. Ia tidak mau adik kecilnya itu merasa kurang nyaman dengan bahasan mereka.


Arkha menggaruk kepalanyayan tak gatal, setelah Tanisha menanyakan tentang wanita yang berada di dalam mobilnya. "Ah, itu ...." Arkha nampak bingung menjelaskannya.


Salah bicara sedikit, pasti fatal akibatnya. Karena kakaknya yang satu ini cukup jeli dalam menilai sesuatu yang ada di sekitarnya. Maka tak heran jika kakaknya ini mendapat julukan seperti itu.


Melihat Arkha yang nampak bingung bagaimana menjelaskan kepadanya. Tanisha dapat menganggap, jika wanita itu adalah target Arkha. Karena adik kecilnya ini sampai berani membawa wanita itu pulang kesini. Sedangkan dengan wanita sebelumnya, bahkan Arkha tidak mengenalkannya pada keluarganya. Apalagi kepada kakak kandung pria ini, Yutasha. Yang merupakan kakak ipar Tanisha.

__ADS_1


"Mangsa barumu?" bisik Tanisha. Membuat Arkha salah tingkah. "Awas, jangan kelewat batas. Kalau nggak ingin ketahuan sama Kak Yuta. Kalau sampai ketahuan, sudah pasti dibikin geprek kamu sama dia. Kamu tidak lupa dengan tabiat Kak Yuta, kan?" tanya Tanisha kemudian menyeringai saat wajah Arkha berubah pucat.


Tanisha menduga, adik kecilnya ini pasti melewati batas yang sudah ditentukan oleh Yutasha. Wanita bar-bar yang tidak akan memberi ampun pada adiknya, jika Arkha melakukan hal yang melewati batasannya.


__ADS_2