Gadis Jebakan

Gadis Jebakan
Candu


__ADS_3

"Yakin, tidak mau dibahas lagi? Sayang sekali, padahal aku ingin merasakan rasa yang selalu ingin aku merasakannya lagi. Apalagi pada saat melihat kamu merintih, kasihan tapi aku ingin melihatmu seperti itu di bawah kuasaku," kata Arkha dengan nada serta mimik wajah yang memelas ia perlihatkan kepada Kanaya.


Lagi dan lagi, apa yang dilakukan Arkha sukses membuat Kanaya memukul lengan kekar pria itu. Sementara yang dipukul semakin terkekeh karena berhasil membuat wanitanya kesal terhadap dirinya.


"Apa-an sih! Minggir, mending aku menemani Mama berkemas daripada sama kamu di sini. Yang ada isinya mesum terus!" Kesal Kanaya. Ia sangat malu saat ini. Terlebih lagi pria yang usilnya minta ampun malah mengingatkan kejadian bersejarah di antara mereka.


Kanaya beranjak dari duduknya, niat hati ingin membantu Dina saja daripada bersama Arkha di sini. Yang ada dirinya akan semakin panas, karena ucapan pria itu. Namun, niatannya itu terpaksa harus ia urungkan pada saat tangan kekar Arkha mencegah dirinya.


"Nay, tunggu dulu. Permbahasan inti yang kita hadapi belum kita bahas," cegah Arkha. Menarik lembut tangan Kanaya agar wanitanya itu duduk kembali di tempatnya.

__ADS_1


"Apa?" Tanya Kanaya dengan wajah bingung yang sangat kentara.


Permasalahannya, tidak ada hal penting yang harus mereka bahas, pikir Kanaya. Sedangkan pria ini mengatakan jika mereka ada bahasan yang kelihatannya harus segera di selesaikan.


"Nay, apa kamu nggak kepikiran menikah denganku?" tanya Arkha langsung pada intinya. Kali ini tidak ada guratan candaan di wajah pria itu.


Setelah memutuskan untuk tetap tinggal di sisi Arkha, di saat itulah Kanaya juga memutuskan untuk belajar mencintai Arkha. Menerima pria itu dengan segala ketulusannya. Namun, sekali lagi. Cinta tidak bisa dipaksakan begitu saja. Karena ia datang dan pergi sesuka hati.


"Iya, aku tahu. Tapi permasalahan utama yang kita hadapi, kenyataan kita yang pernah melakukan itu, Nay. Apa kamu nggak takut hamil di luar nikah? Sementara nanti jika kamu hamil duluan sebelum kita menikah, maka kita tidak diperbolehkan untuk saling menyatu, sebelum anak itu lahir. Lalu jika anak itu lahir, kita juga diharuskan untuk melakukan ijab lagi. Karena kalau tidak, maka nasab anak itu hanya akan menjadi anakmu saja. Apa kamu tidak kasihan dengan dia? Jika memang seandainya dia hadir lebih cepat dalam keadaan kita belum sah," jelas Arkha panjang lebar.

__ADS_1


Entah ini merupakan bujuk rayunya yang memakai cara sehalus mungkin untuk mengikat Kanaya, atau memang itulah hal yang paling dia takutkan.


Bukan perkara sulit untuk Kanaya memahami semua itu. Meski tinggal di negara bebas, akan tetapi keyakinannya sama dengan Arkha. Juga dulu orang tuanya merupakan orang yang taat. Bukan hal asing lagi apa yang dikatakan oleh Arkha.


Kanaya terdiam, nampak memikirkan semua konsekuensi yang ada jika memilih opsi yang salah. Meski apa yang dikhawatirkan belum tentu hadir di tengah-tengah mereka. Namun, tidak memungkiri hal itu akan terjadi juga. Mengingat malam itu mereka tidak pakai pengaman. Berlangsung begitu saja.


"Nay, tolong pikirkan dengan matang. Jangan sampai kita akan menyesal di kemudian hari," ingat Arkha yang terkesan mendesak Kanaya agar wanita itu cepat mengambil sebuah keputusan yang tidak akan menimbulkan sesal, nantinya. Karena penyesalan selalu datang di akhir. Jika datang di awal, namanya pengawalan.


Maaf, ini hanya sebatas pengetahuanku saja. Jika memang salah, mohon untuk mengkoreksinya😊

__ADS_1


__ADS_2