
Sementara itu, Stevani menatap heran ke arah Kanaya. Pikirnya, bagaimana bisa wanita biasa itu terlihat dekat dengan dua pria keren yang ada di kota ini. Terutama Arkha. Pria itu terkenal tidak bisa dijangkau. Bahkan, oleh seorang model papan atas sekali pun. Pria itu akan mengacuhkan mereka dengan sangat kejamnya.
Ada begitu banyak presepsi yang menumpuk di benak Stevani. Wanita itu lantas meminta maaf pada Arkha. Dia masih ingin menpertahankan karirnya di sini.
"Maaf, Mister. Saya agak lepas kendali," lirih Stevani seraya menundukkan kepalanya.
Mendengar kalimat Stevani, Kanaya menggelengkan kepala. Kenapa wanita itu tidak meminta maaf saja padanya. Bukankah itu hal yang sangat simpel untuk dilakukan? Tetapi kenapa wanita rubah itu berkata sedemikian. Seolah dirinya yang melakukan kesalahan.
Mengetahui Kanaya sedang kesal, Arkha menarik lembut lengan Kanaya dan segera pergi dari sana tanpa menghiraukan permintaan maaf Stevani. Yang dia pedulikan sekarang ialah membuat suasana hati Kanaya senang lagi.
"Kita mau kemana, Tuan? Aku sedang kerja sekarang. Nggak bisa seenaknya saja keluar seperti sekarang ini," Kanaya menghentikan langkahnya.
Jika dirinya tetap mengikuti Arkha, berarti dia juga sudah siap menerima pesangon dari Keanu, besok. Kalau memang Keanu tidak akan memecatnya, maka Kanaya sendiri yang akan mengundurkan diri dari restoran tersebut.
Kanaya bukanlah orang yang egois. Ia sadar betul sikapnya selama ini yang sering kali meminta ijin. Dan Kenau juga selalu memperlakukan dirinya dengan spesial. Tentu saja hal itu membuat iri pegawai yang lain.
__ADS_1
"Bisa nggak, sekali saja kamu tidak melakukan protes?" gemas Arkha dengan sikap Kanaya. Lalu mencubit pelan pipi mulus Kanaya, hingga membuat wanita itu semakin cemberut.
"Apa Tuan mau menanggung biaya hidupku setelah ini?" tanya Kanaya tiba-tiba. Membuat Arkha sedikit kaget mendengarnya.
Tumben-tumbenan wanita ini bertanya hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. "Hanya selama aku menganggur saja. Tidak akan lama, kok," Kanaya pasrah, jika memang Arkha menolak.
Namun, keputusannya untuk mengundurkan diri dari restoran ini sudah bulat. Ia tidak mau lagi menjadi beban Keanu, dan menjelekkan nama baik Keanu di depan para pegawai pria itu.
Arkha nampak aneh dengan sikap Kanaya saat ini. Untuk memeriksanya, lantas ia menempelkan telapak tangannya pada kening Kanaya.
"Nggak panas. Tapi kenapa kamu bersikap aneh seperti ini?" tanya Arkha dengan raut muka yang bingung.
"Panggil aku dengan sebutan sayang, jika ingin aku memenuhi kebutuhanmu," ucap Arkha sembari tersrnyum penuh arti. Dia tidak akan menyiakan apapun itu yang datang kepadanya. Sifat jahilnya memang tidak pernah lepas dari pria ini.
"Kak," balas Kanaya malas. Kemudian memilih masuk ke dalam mobil Arkha, tanpa sang pemiliknya menawarkan terlebih dulu.
__ADS_1
Arkha menggelengkan kepala melihat tingkah Kanaya. Tercetak jelas di wajahnya jika wanita itu sedang putus asa dan pasrah. Mulut yang biasanya selalu menyanggah apa yang Arkha ucapkan, kini mengatup rapat seolah pasrah dengan keadaan. Lalu Arkha memutari mobilnya, membuka pintu bagian kemudi. Setelah itu pria yang memiliki wajah Asia tersebut mendudukkan tubuhnya dengan sempurna di jok bagian kemudi.
"Bukan, bukan. Bukan itu maksudku. Sebutan sayang antara sepasang kekasih," protes Arkha.
"Kita bukan sepasang kekasih,"
"Masih otewe," Arkha memang sengaja memancing perdebatan diantara mereka. Ia merasa asing dengan sikap Kanaya yang pendiam saat ini.
"Ya," sahut Kanaya malas.
Kemudian Kanaya memalingkan wajahnya dari Arkha, lalu menatap ke arah luar jendela. Menyandarkan kepalanya yang kian terasa pening. Kenapa hidupnya tidak mulus seperti jalan tol, yang sudah dapat diperkirakan sebelumnya.
Gemas melihat Kanaya yang mengabaikan dirinya. Membuat Arkha memajukan tubuhnya ke arah Kanaya. Bahkan wajahnya saat ini berada dekat di samping Kanaya.
"Sudah diputuskan, panggil aku Sayang. Jika kamu melanggar, maka harus menerima hukuman dariku," bisik Arkha tepat di telinga Kanaya. Sengaja menghembuskan napasnya kasar.
__ADS_1
Kanaya kaget saat mendengar apa yang dikatakan oleh Arkha. Dan yang lebih mengejutkan lagi, hembusan napas Arkha terasa begitu hangat di permukaan kulit lehernya. Membuat tubuhnya meremang seketika. Kemudian Kanaya dengan cepat menoleh ke arah samping, berniat melayangkan protes. Namun, hasil lain yang ia dapat.
"Kamu mmpphhh--"