
Erlangga dan Yutasha masuk ke dalam kamar yang disewa Arkha. Mereka mencari keberadaan Arkha yang tak kunjung menyahuti panggilan mereka. Hingga mereka menemukan keberadaan Arkha yang terlihat tidak begitu baik. Pria itu terduduk di depan lemari dengan tatapan yang kosong.
Erlangga dan Yutasha menghampirinya. Membantu Arkha untuk berdiri dari tempatnya. Lalu mengarahkan Arkha ke sisi ranjang. Erlangga mencoba menenangkan Arkha dengan memberikan pengarahan tentang konsekuensi yang Arkha pilih.
Sedangkan Yutasha tanpa sengaja melihat ada bercak noda merah di permukaan seprei ranjang Arkha. Matanya membola, tak percaya jika adiknya memang benar-benar berubah menjadi pria yang tidak bermoral. Amarahnya semakin naik ketika melihat surat yang ditinggalkan Kanaya di sisi ranjang yang tidak jauh darinya berdiri.
Yutasha membaca ucapan demi ucapan yang Kanaya sampaikan melalui surat tersebut. Sebagai sesama wanita, Yutasha tahu betul seperti apa perasaaan Kanaya saat ini. Pasti wanita itu merasa sendirian di dunia ini. Dan yang pasti wanita itu beranggapan kalau hidupnya sudah hancur sekarang ini.
__ADS_1
Karena merasa kecewa dengan adiknya, dan amarahnya tidak bisa ia kendalikan lagi. Lantas Yutasha melangkah mendekat ke arah di mana Arkha duduk. Lalu detik selanjutnya Yutasha menampar Arkha dengan sangat keras.
Hal itu membuat Erlangga terperanjat tidak percaya. Pasalnya selama ini ia tidak pernah melihat istrinya melakukan kekerasan pada Arkha. Bahkan wanita itu akan marah jika adiknya dibicarakan yang tidak baik. Namun, sepertinya kali ini Yutasha mempunyai alasan yang kuat, setelah Erlangga juga melihat apa yang menjadikan istrinya itu seperti sekarang ini.
"Apa dengan begini kau merasa bangga, Arkha Al-Fatih Maerran?" tanya Yutasha dengan intonasi nada tinggi. Erlangga yang tidak pernah melihat istrinya marah seperti sekarang ini, bergidik ngeri sendiri.
"Apa kau merasa telah menjadi pria yang hebat dan keren, hah!" Yutasha tidak berhenti di situ saja. Wanita yang mempunyai paras meneduhkan itu mencecar adiknya dengan berbagai kalimat sarkasnya. Inilah sisi Yutasha yang paling Arkha takuti. Kakaknya itu tidak hanya menyerang dari segi fisik saja, melainkan lebih ke psikologisnya.
__ADS_1
"Apa kau lupa kalau dirimu itu lahir dari rahim seorang perempuan, Arkha! Kakakmu juga seorang perempuan, begitu pula dengan keponakanmu. Apa kau rela jika Gressya akan diperlakukan seperti kau memperlakukan Kanaya? Tidak, kan? Apa kau pernah berpikir, bagaimana terkekangnya Kanaya saat hidup bersamamu? Lalu ini!" Tunjuk Yutasha pada permukaan seprei yang terkena noda darah. "Kau sudah menghancurkan hidup wanita itu dengan sangat sempurna, wahai adikku." Ucap Yutasha dengan tertawa sinis kepada Arkha. Menyayangkan sikap adiknya yang seperti ini.
"Kak, aku minta maaf. Tolong bantu aku," pinta Arkha sambil bersujut di depan Yutasha. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi mencari Kanaya. Karena ponsel yang merupakan benda satu-satunya untuk ia bisa berhubungan dengan wanita itu, di tinggal di atas nakas samping tempat tidur.
Yutasha memalingkan wajahnya, seolah tidak mau melihat adiknya. Erlangga yang melihat itu semua, mencoba menenangkan hati sang istri. Biar bagaimana pun, Arkha tetaplah adiknya dan Yutasha kini tengah hamil muda. Jadi harus bisa mengendalikan emosinya agar tidak berlebih.
"Kak...," panggil Arkha kembali. Berharap kakaknya ini mau menbantu dirinya dalam mencari Kanaya.
__ADS_1
"Mas, aku mohon jauhkan Kanaya dari Arkha. Aku tidak mau melihat hidup gadis itu hancur untuk kedua kalinya gara-gara adikku sendiri. Dan juga, pindahkan Arkha ke cabang perusahaan yang ada di Surabaya. Nanti aku yang akan ngomong sama Papa, kalau Mas nggak mau bantuin aku." Ucapan Yutasha bagai bilah yang menusuk tepat di dada Arkha. Bagaimana bisa kakaknya setega ini terhadap dirinya.