
Satu minggu sudah mereka tinggal berasama. Selalu saja ada yang diributkan setiap harinya jika mereka berpapasan. Hingga puncak keributan itu terjadi tadi pagi, sebelum Arkha berangkat ke kantor.
Pagi ini, Kanaya baru menyadari jika selama satu minggu ini ia berpindah ke ranjang, semua itu karena ulah dari Arkha yang memindahkan dirinya. Anggapan Kanaya yang mengira dirinya mengigau dan berpindah tempat ke ranjang yang sama dengan Arkha, ternyata itu salah. Dia juga merutuki dirinya yang terlalu nyenyak saat tidur, hingga tidak sadar dengan sentuhan yang diberikan Arkha kepadanya.
"Jadi, selama ini yang memindahkanku ke tempat tidur itu, kamu?" Tanya Kanaya sambil berkacak pinggang di depan Arkha, yang tengah menikmati sarapan roti yang dilapisi dengan selai nanas.
Arkha tidak melirik ke arah Kanaya sedikit pun. Pria itu bersikap cuek sembari menikmati sarapan paginya yang terasa nikmat selama satu minggu ini. Padahal menu yang dia makan sama dengan apa yang ia santap sebelumnya. Mungkin keberadaan Kanaya lah di sini yang mampu mempengaruhi selera makan Arkha. Meskipun telingnya juga terasa panas, akibat ocehan demi ocehan yang terucap dari mulut wanita ini.
Kemudian Arkha berdiri, lalu mengambil selembar roti yang sudah ia olesi dengan selai coklat.
"Apa kau tidak capek mengomel sedari tadi?" Ucap Arkha bersamaan tangannya memasukkan roti yang dia pegang tadi ke dalam mulut Kanaya.
__ADS_1
Sontak saja hal itu berhasil membungkam mulut Kanaya dan otomatis berhenti mengomel kepada Arkha.
"Tu-tuan, aku belum selesai ngomong!" Protes Kanaya dengan mulut yang penuh.
Lantas Arkha memasukkan kembali sisa roti yang ada di tangannya ke dalam mulut Kanaya. Tidak memberikan celah untuk wanita ini mengoceh kembali.
"Sudah, habiskan sarapanmu, setelah itu aku antar ke tempat kerja. Nanti siang aku jemput pas waktu makan siang." Ucap Arkha terdengar seperti sebuah perintah di telinga Kanaya.
"Memang Kak Arkha mau bawa aku ke mana? Nanti aku ada janji sama Keanu. Kita mau beli bahan buat stok di restoran." Balas Kanaya sembari mengusap sudut bibirnya yang basah.
"Ke butik."
__ADS_1
"What! Ngapain kita ke sana?" Buru-buru Kanaya menghampiri Arkha yang sudah bersiap untuk berangkat kerja. "Kamu nggak mungkin nagajak aku untuk nikah siri, kan?" Tanya Kanaya terbilang sangat konyol menurut Arkha.
"Kalau kamu mau, ayo. Aku tak keberatan sama sekali." Balas Arkha begitu santai. Dia paling suka melihat wajah Kanaya yang kesal kepadanya.
"Nggak, nggak! Aku nggak mau! Lebih baik jadi istri simpanan orang kaya, daripada harus menikah siri sama Kakak." Tolak Kanaya tegas seraya menggelengkan kepalanya cepat.
Arkha mengeratkan rahangnya mendengar kalimat yang keluar dari mulut wanita ini. Lantas kemudian membuat Arkha ingin menjitak kening Kanaya.
"Itu sama saja, bodoh!" Sangking geramnya pada Kanaya, tanpa sadar Arkha menjitaknya sedikit lebih keras. Hingga membuat Kanaya mengafuh sakit.
"Sakit tau, Kak!" Protes Kanaya sambil mengusap keningnya yang disentil Arkha barusan.
__ADS_1
Mata Arkha melebar saat melihat bekas sentilannya di kening Kanaya yang membekas merah. Ia merasa bersalah. Kemudian Arkha memajukan badannya ke arah Kanaya, mengecup singkat permukaan kulit yang memerah tersebut.