Gadis Jebakan

Gadis Jebakan
Nikmatilah


__ADS_3

"Kamu keterlaluan, Kha!" Kanaya masih saja tidak bisa memaafkan pria itu dengan mudah. Karena perbuatan pria itu, hampir setiap malam dirinya membayangkan mempunyai anak diusia yang terbilang masih sangat muda, yakni sembilan belas tahun.


Kanaya tidak bisa membayangkan akan seperti apa dirinya nanti. Mampukah ia merawat bayi yang selama ini belum pernah menyentuh seorang bayi. Lalu bagaimana tentang masa depannya kelak, jika dirinya saja hanya lulusan sekolah setingkat SMA. Kanaya belum siap akan hal itu semua.


Namun, di saat dirinya mulai berteman dengan takdir yang selalu memusuhi dirinya, ternyata takdir tetaplah takdir. Yang tidak pernah berpihak kepadanya. Harusnya ia senang setelah mengetahui bahwa dirinya tidak hamil sungguhan. Akan tetapi ada yang kurang dalam dirinya. Meski menolak kehadiran janin di dalam perutnya, dulu. Nyatanya setiap hari ia mendoakan untuk kesehatan janinnya yang hanya semu belaka.


"Aku mencintaimu, Nay. Sungguh-sungguh mencintaimu. Aku mohon, jangan pergi dariku," pinta Arkha menatap lembut manik kehijauan milik Kanaya. "Jujur, malam itu aku tidak benar-benar menyentuhmu. Hanya saja aku melepas semua pakaianmu, agar kamu beranggapan telah menghabiskan malam bersamaku," akhirnya Arkha mengatakan yang sebenarnya. Ia takut jika Kanaya tetap nekat meninggalkan dirinya. Karena Kanaya mampu melakukan itu semua.


Ada perasaan lega di hati Kanaya setelah mendengar pengakuan Arkha yang tidak benar-bemar menyentuh dirinya. Itu artinya dirinya selama ini masih virgin. Namun, mengingat apa yang dilakukan Arkha kepada dirinya, ia tetap tidak bisa memaafkan begitu saja.

__ADS_1


"Lepaskan aku dan lupakanlah perasaanmu itu," balas Kanaya tetap dengan nada suara yang tidak bersahabat kepada Arkha.


"Nay...," geram Arkha menatap lekat mata wanita itu.


"Aku mohon, lepaskanlah aku, Kha," pinta Kanaya dengan wajah yang putus asa. Tidak tahu harus berbuat apa lagi agar pria ini mau melepas dirinya.


Kanaya terdiam, memikirkan apa yang menjadi pertimbangan pria ini sehingga tidak mau melepas dirinya. Tentunya selain perasaan pria ini terhadap dirinya.


Kanaya tersenyum tipis setelah menemukan cara agar pria ini mau melepas dirinya dengan perlahan. Meskipun akan menjatuhkan harga dirinya. Toh, selama ini ia sudah tidak memiliki harga diri lagi di hadapan orang lain.

__ADS_1


Langkah selanjutnya yang Kanaya lakukan membuat Arkha membeku seketika di tempatnya. Bahkan genggaman tangannya pada tangan Kanaya sedikit merenggang. Ia tidak menyangka jika Kanaya akan melakukan hal ini terlebih dulu padanya. Karena selama ini dirinya yang terlebih dulu melakukannya.


Tanpa berkata satu patah kata pun, Kanaya memajukan wajahnya ke arah Arkha. Bahkan saat ini tangannya mengalung manja di leher Arkha. "Jika dengan begini bisa membayar semua jasamu selama ini dalam hidupku, maka aku akan melakukannya dengan senang hati," bisik Kanaya tepat di sebelah telinga Arkha dengan nada suara yang lembut. Membuat Arkha meremang seketika.


Tepat selesai mengucapkan kalimat itu, Kanaya memulai rencananya. Ia mengecup lembut bibir Arkha. Menggoda pria itu hingga pada akhirnya pria itu membalas perbuatannnya. Sejenak tatapan mereka saling terpaku, napas mereka saling memburu. Kemudian Kanaya melakukannya lagi, menggoda pria itu hingga terbuai. Entah tangan siapa yang memulai terlebih dulu hingga kini tubuh mereka saling polos tak tertutup apapun.


Dengan berani Kanaya menarik Arkha ke arah ranjang, lalu mendorong tubuh kekar pria itu hingga terjerembab di atas ranjang. Arkha cukup terkejut dengan tingkah Kanaya. Namun, dia juga lelaki normal yang tidak memungkiri terbuai dengan santapan yang ada di hadapannya sekarang ini.


"Nikmatilah sampai puas," lirih Kanaya dengan suara menggoda Arkha.

__ADS_1


__ADS_2