
Kedua tangan Arkha rentangkan, melonggarkan otot-ototnya. Rasa pegal karena tidur dengan posisi yang tidak nyaman, akhirnya sedikit berkurang. Arkha menggerak-gerakkan kepalanya, menolehkan ke kanan dan ke kiri. Setelah di rasa enakan, Arkha menatap Kanaya yang kini juga menatap ke arahnya. Menunggu penjelasan yang pasti dari pertanyaan yang dilontarkan oleh wanita itu.
"Tentu saja anak kita," jawab Arkha dengan santai.
"Tuan, aku mohon kali ini jangan bercanda. Hidupku sudah rumit, jadi jangan Tuan tambah lagi." Keluh Kanaya.
Kanaya menatap memohon pada pria yang duduk di sampingnya saat ini. Dia sudah terlalu capek dengan takdir yang selalu mempermainkan hidupnya.
Melihat Kanaya yang menatapnya seperti itu, membuat Arkha tidak tega. Namun, mengingat betapa malangnya nasib wanita itu, Arkha benar-benar tidak bisa melepasnya. Ada sebuah rasa tanggungjawab di hatinya untuk wanita ini.
"Aku tidak mau berdebat lagi, dan aku tidak akan menelantarkan anakku sendiri." Arkha masih keukuh dalam menjalankan rencananya. Lagian menurut cerita yang ia dengar dari Keanu, Kanaya adalah wanita yang baik dan tidak neko-neko.
Selama Arkha memperhatikan wanita ini beberapa hari terakhir, memang benar apa yang dikatakan oleh Keanu. Kanaya merupakan wanita yang tidak banyak tingkah. Hanya saja wanita ini sedikit ceroboh.
__ADS_1
"Tuan, aku mohon lepaskan aku. Percuma Tuan membelungguku. Aku wanita biasa, tidak memiliki kelebihan apapun!" Kanaya tidak mau menyerah dalam membujuk Arkha. Dia berharap, pria ini mau melepaskan dirinya.
"Tidak bisa, Naya. Ada mahluk kecil yang bersemayam di rahimmu. Dan itu keturunanku. Aku tidak bisa jauh dengannya." Putus Arkha berkata dengan tegas.
"Tapi belum ada kejelasan tentang kehamilanku, Tuan penculik! Bagaimana bisa Tuan menyimpulkan itu semua?" Kanaya tidak mau mengalah begitu saja. Karena dia yakin, kalau dia tidak hamil.
Arkha begitu gemas dengan sikap keras kepala yang Kanaya miliki. Wanita ini tidak gampang dikelabuhi.
"Kalau begitu kita buktikan sekarang," tantang Arkha. Matanya menatap intens ke arah Kanaya. Hal itu mampu membuat Kanaya terdiam.
"Bagaimana, Naya? Apa kau mau diperiksa sekarang?" Tantang Arkha lagi di sertai senyuman miring yang terbit di bibir tipisnya.
Arkha tahu kalau Kanaya tidak akan berani memeriksakan dirinya perihal kehamilan yang dikarang oleh Arkha. Karena Arkha tahu betul, jika wanita ini belum siap dengan kenyataan kalau memang dirinya hamil sungguhan.
__ADS_1
"Mmmm... Itu..." Kanaya terlihat sangat gugup. Dia tidak berani menerima tantangan dari tuan penculik yang menatapnya dengan tatapan sulit untuk Kanaya artikan.
Keringat dingin bermunculan dari dahi Kanaya. Arkha menyadari itu. Tangannya terangkat untuk kemudian mengusap dahi Kanaya dengan sentuhan lembut. Lebih baik ia sudahi hari ini.
"Udah, jangan dipikirkan lagi. Lebih baik kita pulang sekarang," ucap Arkha.
Kemudian berdiri dari duduknya, berniat ingin memanggil dokter ataupun suster. Karena keadaan Kanaya sudah sadar, dan dokter tadi berpesan, jika Kanaya sudah sadar, dia diperbolehkan pulang.
"Tapi Tu--" ucapan Kanaya terhenti, ketika Arkha membuka suaranya.
"Jangan coba-coba protes dan menentang keputusanku. Aku hanya mau yang terbaik untuk anakku." Lagi-lagi Arkha menggunakan kelemahan Kanaya untuk menjerat wanita itu.
Setelah mengatakan itu, Arkha berbalik arah lalu melangkahkan kakinya menuju pintu. Bibirnya terangkat ke atas membentuk sebuah senyuman kemenangan.
__ADS_1
Kalian beneran nggak mau like di setiap part? Sayang banget, padahal aku mulai kumat lagi😥