
Padahal mereka terbilang baru kenal. Namun, kenapa pria ini mau bersusah payah menyelesaikan permasalahan yang sedari dulu tidak pernah bisa Kanaya atasi.
"Karena hubungan kita yang simbiosis," Arkha sengaja mengatakan kata itu agar Kanaya mau berbagi masalah dengannya. Meski ia dengan tulus mempunyai rasa terhadap Kanaya.
"Simbiosis? Bukankah itu suatu hubungan yang saling menguntungkan?" tanya Kanaya seraya melepas dekapan Arkha. Namun, pria itu tak kunjung melepasnya. "Lalu apa yang kamu dapat dari hubungan ini?" tanya Kanaya masih berusaha lepas dari Arkha.
Arkha tersenyum, lalu mengusap pipi mulus Kanaya yang basah dengan sebelah tangannya. Sementara wanita itu menatapnya dengan begitu polosnya.
"Seperti halnya saat ini," kata Arkha yang semakin membuat Kanaya bingung.
"Maksudnya?"
"Kamu menangis di dalam dekapanku, dan aku menenangkanmu hingga tenang," jawab Arkha.
"Lalu apa yang kamu dapat?" Kanaya masih belum mengerti yang dimaksud Arkha.
"Ya ... Aku dapat pelukan gratis, lah! Mana lama juga durasinya," jawab Arkha seraya mencubit gemas ujung hidung Kanaya yang merah, dengan tawa yang membahana di dalam mobil.
__ADS_1
"Nggak lucu!" Kesal Kanaya kemudian mencubiti pinggang dan perut Arkha, hingga pria itu memundurkan tubuhnya. Berusaha menghindar dari serangan Kanaya.
Bagaimana bisa di saat dirinya tengah bersedih, pria itu malah membuat lelucon yang sangat konyol menurutnya. Namun, hal itu mampu menghiburnya sedikit. Meskipun dibarengi sama sikap jahil tingkat akut pria tersebut.
Pagi ini seperti biasa. Sebelum berangkat kerja, Kanaya terlebih dulu menyiapkan sarapan untuk Arkha. Setelah semalam mengeluarkan apa yang selama ini ia pendam sendiri, kini hatinya merasa lega. Karena Kanaya bisa membagi keluh kesahnya dengan orang lain.
Meskipun sekarang Kanaya merasa sangat malu untuk berhadapan langsung dengan Arkha. Mengingat apa yang pria itu perbuat padanya pada saat pesta berlangsung. Namun, sebisa mungkin Kanaya menyembunyikan perasaannya saat ini pada Arkha. Bisa-bisa pria itu akan menggodanya kembali, mengetahui tabiat Arkha yang sangat suka melihatnya terpojok.
Setelah selesai menyiapakan sarapan untuk Arkha, Kanaya kembali ke kamarnya. Ia juga harus bersiap-siap untuk berangkat kerja. Seperti yang dikatakan Keanu semalam lewat pesan singkat. Bahwa hari ini restoran Ken-Ken akan kedatangan seorang pengusaha muda yang kreatif. Lebih hebatnya lagi pengusaha muda itu ialah seorang wanita.
Dengan baju yang kasual, serta make up tipis menyelimuti permukaan kulit wajah Kanaya, lalu memberi sentuhan terakhir di bibirnya dengan mengoleskan sedkit lip tint. Kanaya terlihat begitu cantik, meski hanya berpenampilan yang terbilang sederhana.
Untung saja Kanaya sudah siap untuk berangkat. Bagaiamana jika pria itu masuk, dengan keadaan Kanaya yang belum siap dengan pakaiannya. Bisa-bisa Kanaya pingsan untuk yang kedua kali.
"Bisa tidak, kalau mau masuk ke kamar orang itu ketuk pintunya terlrbih dulu?" Kesal Kanaya.
"Emang ada yang salah? Ini, kan apartemen milikku," balas Arkha tanpa rasa bersalah sedikit pun. Pria itu berjalan ke arah Kanaya yang masih sibuk mengamati penampilannya di balik cermin.
__ADS_1
"Ada perlu apa?" tanya Kanaya tanpa melihat ke arah Arkha. Kanaya sebisa mungkin menghindari tatapan Arkha.
"Bisa bantu ini, nggak?" Lagi-lagi pria itu bertindak seenaknya sendiri.
Arkha membalikkan tunuh Kanaya tanpa pemberitahuan terlebih dulu. Hingga posisi mereka saling berhadapan.
"Pasangkan dasi untukku," perintah Arkha dengan begitu santainya.
"Kenapa harus aku? Kan biasanya juga kamu pasang sendiri," balas Kanaya malas. Kemudian ia berniat ingjn mengambil tas kerjanya dan mengabaikan perintah Arkha.
"Karena tidak ada lagi selain kamu, Naya," ucap Arkha menahan geramnya dengan sikap jutek wanita ini. Padahal semalam wanita ini menunjukkan sisi rapuhnya.
"Aku sudah sangat telat, Tuan!" Tolak Kanaya.
"Apa susahnya sih, Nay. Tinggal begini saja, kan?" Arkha mengarahkan tanagan Kanaya meraih dasi yang belum terpasang dengan sempurna di kerah bajunya.
"Padahal bisa masang sendiri. Tapi malah mau ngerjain aku," gerutu Kanaya dengan menggerakkan tangannya. Cukup dua kali tarikan, dasi itu terpasang sempurna di kerah kemeja Arkha.
__ADS_1
Sudut bibir Arkha tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman. Lalu tanpa Kanaya duga, Arkha menghadiahi sesuatu kepada Kanaya. Membuat jantung wanita itu berdetak semakin tidak karuan.
Nggak ada yang mau ngasih gift ato vote kah?