
Sementara Kanaya bermain dengan Gressya di ruangan lain. Terlihat Arkha dan Yutasha masih berada di ruangan santai rumah ini. Nampaknya mereka terlibat pembahasan yang cukup serius. Tercetak jelas di wajah Arkha yang terlihat frustasi.
"Kak, aku nggak bisa melakukannya," desis Arkha. "Aku nggak mau memaksanya lagi sekarang, daripada aku tang akan kehilangan dia." Lanjutnya lagi. Kali ini Arkha menyugar rambutnya ke belakang dengan gerakan sedikit kasar.
Sementara Yutasha masih menatap adiknya lekat. Ia hanya menyarankan langkah yang paling baik untuk Arkha dan Kanaya. Terlebih lagi buat Kanaya, menurutnya pihak yang paling rugi di sini.
"Kalian sudah melakukan itu, dan kamu masih nggak ingin menikah dengannya, Kha? Dia sudah tidak sempurna lagi sebagai seorang gadis, Kha. Dan itu semua kamu yang merenggutnya. Apa kamu tidak takut jika dia sampai hamil duluan? Kamu tahu, kan konsekuensinya seperti apa jika sampai Naya hamil duluan?" Ingat Yutasha.
"Bukan aku yang nggak mau, Kak! Tapi Naya yang selalu menolak niat baikku itu. Llau aku harus gimana? Paksa dia? Itu jelas nggak mungkin. Karena aku nggak mau dia sampai benci padaku untuk yang kedua kalinya. Mohonlah untuk mengerti posisiku, Kak," lirih Arkha. Posisinya sangat sulit saat ini.
__ADS_1
"Lalu bagaimana tentang rencanamu yang akan balik lagi ke LA? Apa kamu sudah mengatakan ke Naya?" tanya Yutasha yang tahu perusahaan Elajar yang dikelola oleh Arkha mengalami sebuah masalah. Dan hal itu mengharuskan Arkha yang datang ke sana. Lantas, Yutasha mengkhawatirkan hidup adiknya tersebut. Jika memang hal itu akan menyita waktu Arkha untuk berada di sana lebih lama, lalu bagaimana dengan Kanaya di sini?
"Aku belum bicara sama dia, Kak. Aku juga bingung, ngajak dia atau menyuruhnya tetap tinggal di sini bersama kalian. Sedang dia di sana juga tidak memiliki keluarga," terang Arkha mengatakan kegundahannya kepada Yutasha.
"Jika kamu ngajak dia ke sana, bukankah kalian akan tinggal satu atap lagi? Lalu tidak menutup kemungkinan jika kalian akan mengulang hal itu lagi, bukan?" Tebak Yutasha. Karena memang nyatanya jika sudah pernah merasakan hal seperti itu, maka akan selalu ingin mengulangnya lagi dan lagi.
"Akan aku bicarakan lagi dengan dia nanti Kak. Mana yang lebih baik untuk kita berdua," balas Arkha terlihat kalau tidak ingin melanjutkan obrolan ini.
Tepat setelah mengatakan hal itu, Erlangga datang untuk menjemput istri dan anaknya. Setelah kepergian mereka, Arkha menarik lembut lengan Kanaya untuk duduk di sofa yang terletak di balkon rumah teraebut. Memeluk erat wanitanya itu ke dalam dekapannya, manaruh kepalanya tepat di bahu sebelah kanan Kanaya.
__ADS_1
"Ada apa? Sepertinya kamu sedang tidak dalam ke adaan baik-baik saja?" tanya Kanaya melihat Arkha yang pendiam. Tidak sepert biasanya yang selalu bersikap jahil kepadanya.
"Apa ini tandanya kamu mengkhawatirkanku?" tanya Arkha mengangkat kepalanya dari bahu Kanaya, untuk kemudian menatap dari dekat mata wanita bule tersebut.
"Iya, karena kamu tidak seperti biasanya. Agak aneh juga kalau seperti ini," balas Kanaya tetap fokus pada sebuah buku yang ada di pangkuan tangannya.
Arkha semakin mengeratkan tangannya ke tubuh Kanaya. Menghembuskan napasnya dengan pelan, lalu mulai merangkai kalimat yang tepat untuk ia utarakan pada Kanaya.
"Nay ... aku harus balik ke LA. Bagaimana menurutmu?" ucap Arkha yang membuat Kanaya terkesiap kaget hingga buku yabg ada di tangan wanita itu sampai lepas dari genggamannya.
__ADS_1