
"Maka dari itu, temani aku malam ini," perkataan Arkha terdengar begitu ambigu di telinga Kanaya.
"Maksud Tuan, Tuan mau tidur dengan saya lagi? Itu sama saja dengan saya menyerahkan diri saya ke kandang macan, Tuan!" Tanpa Kanaya sadari, dia berkata dengan nada tinggi. Sehingga membuat sebagian pengunjung kedai itu menatap ke arah mereka berdua. Terlebih lagi kepada Kanaya.
Arkha segera membekap mulut wanita yang ada di hadapannya saat ini. Bisa-bisanya wanita itu berkata hal yang begitu sensitif, dengan begitu kerasnya. Mana lagi di tempat umum.
Arkha menyeret wanita itu ke seberang jalan, menuju mobilnya terpakir dilinggir jalan. Tangannya masih berada di mulut wanita itu, agar wanita itu tidak berkata aneh lagi.
Tentu saja Kanaya melakukan perlawanan kepada pria yang tengah meyeretnya. Dia belum siap untuk menjadi budak orang lain. Terlebih lagi budak pemuas selera laki-laki.
"Mmmmhhh...." Kanaya berusaha keras agar terlepas dari pria penculik ini. Namun, semua itu sia-sia saja.
Dengan gerakan kasar, Arkha memaksa Kanaya masuk ke dalam mobilnya. Wanita ini sungguh merepotkan dirinya. Baru kemudian melepas tangannya dari mulut wanita itu.
__ADS_1
"Tuan nggak berniat menjualku, kan?" Kanaya memundurkan tubuhnya hingga mepet ke pintu mobil, saat pria yang menculiknya itu masuk dan duduk di kursi kemudinya.
Arkha menatap Kanaya sekilas, lalu menghidupkan mesin mobilnya untuk kemudian membelah jalanan kota LA ini. Arkha membawa mobilnya menuju temoat yang tenang, tidak terlalu ramai untuk merela melakukan negosiasi. Lebih tepatnya Arkha memaksa wanita di sampingnya ini, menerima tawarannya. Jika wanita ini menolak, dia akan menggunakan kejadian mereka di kamar hotel tempo hari yang lalu.
"Tuan, saya mohon, jangan jual saya." Kanaya terus saja memohon kepada Arkha. Akan tetapi, tak sekalipun pria itu menanggapi ucapan Kanaya.
Diam-diam Arkha tersenyum saat wanita di sampingnya ini mengira akan menjualnya ke orang lain. Bagaimana cara wanita itu berpikir? Mana ada penjual orang, setampan diriku. Batin Arkha.
Kanaya langsung diam seraya menutup mulutnya dengan tangan gemetar. Lebih baik dirinya menuruti pria ini, daripada akan dijual semua organ tubuhnya. Itu lebih mengerikan dari menjadi budak laki-laki hidung belang.
Dalam hati, Arkha tersenyum melihat betapa patuhnya wanita ini. Arkha tidak menyangka, kalau wanita ini beranggapan dirinya benar-benar seorang penculik. Pemikiran yang sangat aneh, menurutnya.
Tiga puluh menit kemudian, mobil yang ditumpangi mereka sampai ke tempat tujuan. Arkha memarkirkan mobilnya di pinggir jembatan. Lalu menekan tombol yang ada disisi kanannya, sehingga atap mobil terbuka. Hal itu semoat membuat Kanaya takjub dengan kecanggihan mobil yang baru ia tumpangi.
__ADS_1
Apa dia orang yang sangat kaya raya? Atap mobilnya aja bisa terbuka sendiri hanya dengan menekan salah satu tombol yang berjejer di sampingnya. Batin Kanaya.
"Nggak usah gitu, liatnya. Aku tau, aku memang sangat tampan," suara Arkha membuyarkan lamunan Kanaya.
"Cih! Percaya diri banget, orang ini." Gumam Kanaya kesal dengan ucapan Arkha.
"Aku tidak tuli. Jadi, masih bisa mendengar suaramu yang lirih itu." Sahut Arkha menanggapi gerutuan Kanaya.
"Hei, Tuan penculik! Mau apa anda membawa saya ke sini? Bisa-bisa saya dipecat dari pekerjaan saya tadi." Sepertinya, Kanaya harus berjuang lebih keras lagi untuk mendapatkan pekerjaan sampingan lagi.
"Tentu saja mau menculikmu!" Jawab Arkha asal dengan wajah yang datar.
Mata Kanaya melotot tak percaya dengan ucapan pria ini, yang terang-terangan ingin menculik dirinya.
__ADS_1