
Hari ini Revald sedang melakukan rapat di ruangannya dengan beberapa karyawan PT. Maerran tbk. Membahas tentang kemajuan perusahaan ini. Mereka akan meluncurkan produk baru yang dikhususkan untuk kaum defabilitas. Di perkembangan zaman seperti ini, mereka ingin memudahkan orang-orang yang memiliki kebutuhan khusus tersebut.
Namun, dipertengahan rapat terdengar nada dering dari ponsel Revald. Mulanya, Revald mengabaikan panggilan yang masuk ke ponsel miliknya. Akan tetapi, ponsel itu terus menerus berbunyi dan mengganggu jalannya rapat. Mau tidak mau Revald meraih ponselnya yang terletak di atas meja. Ternyata atasannya yang menelepn dirinya sedari tadi.
Menempelkan jari telunjuknya di bibir, sebagai isyarat agar mereka semua yang ada di ruangannya untuk diam. Mereka pun diam seketika.
"Ya, hallo Bos. Ada apa?" tanya Revald setelah menggeser tombol warna hijau di layar ponselnya.
"Kesini sekarang dan bawa Kanaya juga. Jelasin tentang apa yang aku alami di sini secara perlahan, dan bilang sama dia jangan mencariku terlebih dulu sebelum aku mendatanginya. Kamu jelaskan alasannya karena apa. Agar dia tidak salah paham nantinya. Juga jelaskan sama dia kalau dia yang akan menjadi model pakaian couple yang mau aku luncurkan. Mengerti, kan?" ucap Arkha panjang lebar.
__ADS_1
Sebelum Revald menjawab, Arkha kembali mengeluarkan ultimatunya. "Oh, ya. Bilang ke Naya untuk berpura-pura kita seolah sudah putus dan sangat membenciku. Agar pihak lawan tidak curiga," lanjutnya lagi.
Revald menghembuskan napasnya Kasar. Jika saja bukan sahabat sekaligus atasannya, sudah pasti ia pukul pria itu. Karena belum sempat dirinya menjawab, Arkha memutuskan sambungan telepon mereka terlebih dulu. Membuat Revald semakin geram saja.
"Oke, Gays. Sepertinya kita sudahi rapat hari ini, dan semua tanggung jawab akan aku serahkan pada Gerald. Karena Baginda Raja sudah menurunkan titahnya, mau tidak mau kita semua harus patuhi," ucap Revald dengan nada malasnya. Semua yang ada di ruangan itu menahan tawanya, hapal betul bagaimana hubungan keduanya.
Setelah menerima titah tersebut, Revald segera keluar dari gedung tempat kerjanya. Lalu membawa langkahnya menuju dimana mobilnya ia simpan. Menghidupkan mesin mobilnya, untuk kemudian berencana singgah ke rumahnya terlebih dulu. Mengemasi beberapa barang yang akan Revald perlukan di sana. Karena ia yakin, jika dirinya di sana tidaklah sebentar.
Sesampainya di sana, Revald langsung mengajak Kanaya berkemas. Membawa barang-barang yang diperlukan wanita itu nantinya.
__ADS_1
"Kita mau kemana? Kok mendadak seperti ini? Apa Arkha menyuruh kamu ngantar aku ke rumah Mama di Surabaya?" Di dalam mobil Kanaya mencecar berbagai pertanyaan kepada Revald.
Namun, pria menyebalkan itu seperti biasa, selalu menyebalkan di matanya. Tak ada satu pun pertanyaan yang dilontarkan oleh Kanaya di jawab oleh Revald. Membuat Kanaya semakin kesal pada Revald.
Kemudian wanita bule itu mogok bicara selama perjalanan menuju bandara. Tidak satu kata pun yang terucap dari mulut wanita itu. Revald tersenyum geli melihat tingkah Kanaya yang ngambek padanya. Memang mahluk yang bernamakan wanita itu selalu merepotkan. Pikir Revald.
"Apa kau tidak penasaran kenapa aku mengajakmu kembali ke negara asalmu?" tanya Revald memecah keheningan di antara mereka. Saat ini mereka sedang berada di dalam pesawat.
Kanaya tak menjawab pertanyaan Revald. Bahkan menatapnya saja pun tidak. Rupa-rupanya wanita ini dendam pada Revald.
__ADS_1
"Yakin, nggak penasaran?" tanya Revald kembali seolah menggoda Kanaya. Karena ia tahu, mahluk yang bernamakan wanita itu selalu mempunyai sifat ingin tahu lebih tinggi daripada pria.