Gadis Jebakan

Gadis Jebakan
Cemburu


__ADS_3

Terhitung sudah sepuluh menit Kanaya diam dan hanya menjawab ala kadarnya saja. Entah apa yang membuat wanita itu berubah mood-nya. Tidak seperti sebelumnya yang selalu penasaran dengan apa yang sedang dikerjakan oleh Arkha pada saat di kantor maupun sepulang dari Kantor.


Hal itu juga tidak luput dari perhatian Arkha. Pria itu tahu betul jika kekasihnya sekarang sedang kesal padanya. Meskipun ia tak tahu apa penyebab yang membuat Kanaya seperti itu. Daripada penasaran, maka dari itu Arkha menanyakan langsung perihal perubahan emosi Kanaya.


"Kamu kenapa sih, Sayang? Kok jadi jutek begitu?" tanya Arkha dengan nada suara yang lembut dan mesra.


"Nggak kenapa-kenapa," jawab Kanaya singkat. Bukannya apa, ia hanya merasa kesal saja pada Arkha karena tidak menyebutkan nama model yang akan bekerjasama dengan kekasihnya itu. Ada rasa yang janggal di hatinya.


Entah karena apa, Kanaya sendiri tidak tahu pasti. Yang ia tahu, dirinya harus mengetahui siapa saja orang yang berhubungan dengan kekasihnya itu. Walaupun ia tidak mengenalnya, setidaknya sudah mengetahui namanya.

__ADS_1


"Sayang ... janganlah bersikap seperti ini. Bicaralah, kalau kamu enggak bicara, mana aku tahu apa penyebab yang membuatmu berubah jutek seperti ini. Aku kira aku akan melihat senyuman manismu untuk menghilangkan rasa capekku seharian ini. Bahkan untuk stok energiku besok. Tapi apalah daya jika yang aku dapat kekesalan darimu. Entah aku besok bisa fokus atau tidak pada pekerjaanku. Karena aku pasti akan fokus memikirkanmu seharian," Arkha menampilkan wajah sedihnya, seraya merubah posisinya menjadi tengkurap. Menatap sendu ke arah Kanaya, berharap kekasihnya itu merubah mimik wajahnya.


Benar saja apa yang dikatakan oleh Arkha. Harusnya dirinya bisa mengurangi rasa capek kekasihnya, meskipun hanya dengan menghiburnya. Kanaya merasa bersalah pada Arkha, pada saat melihat pria itu menaruh kepalanya di atas bantal dengan posisi tengkurap. Terlihat sekali rasa capek di wajahnya. Apalagi Arkha meluangkan waktu tidurnya hanya untuk bisa menelpon dirinya. Lantas apa yang ia berikan pada Arkha? Rasa kesal yang tak tahu penyebabnya.


"Kamu nggak ngantuk? Bukannya besok masih harus kerja?" Kanaya mencoba mengalihkan topik pembahasan mereka.


"Enggak, sebelum kamu mengatakan dulu kenapa kamu berubah jutek sama aku," balas Arkha kemudian menguap. Bekerja seharian tanpa istirahat, bahkan ia makan siang di dalam ruangannya sambil terus mengecek berkas-berkas yang diberikan Joshep kepadanya. Tentu saja tubuhnya minta untuk diistirahatkan segera.


Mendengar hal itu, mampu menumbuhkan bunga-bunga mekar di dalam hatinya. Arkha tidak menyangka bisa membuat Kanaya cemburu sesingkat ini. Padahal ini hanya nama saja, bagaimana jika Kanaya melihat dirinya di kantor yang selalu menjadi pusat perhatian dari wanita di sana. Bisa-bisa dirinya akan dikurung dan disuruh berdiam diri saja di rumah.

__ADS_1


"Apa kamu sedang cemburu, Sayang?" Arkha menahan tawanya melihat ekspresi Kanaya yang salah tingkah seperti itu. Ingin sekali ia segera memeluk tubuh kekasihnya itu.


"Ya sudah kalau tidak mau jawab. Aku matikan telponnya sekarang," kesal Kanaya yang malah digoda oleh Arkha.


"Tunggu dulu, Sayang! Iya, iya ... aku jawab. Kamu semakin cantik jika sedang cemburu seperti ini," seakan tak pernah puas menggoda kekasihnya.


"Sayang ....," geram Kanaya seraya menatap tajam ke arah Arkha. Karena kesabarannya sudah cukup terkuras sedari tadi.


"Lena Smith, model yang sedang Joshep coba hubungi dan aku ajak untuk bekerjasama dalam rencana dadakan dini, Sayang. Udah, dong ... jangan ngambek lagi, ya? Meskipun aku suka lihat kamu yang cemburu seperti ini," masih saja pria jahil ini menggoda Kanaya.

__ADS_1


"Siapa tadi namanya? Lena Smith?" Ulang Kanaya mencoba memastikan kalau apa yang ia dengar tidaklah salah.


Siapkan Emosi sebentar lagi, karena akan masuk konflik utama. Yang kemarin² itu hanya pemanasan sajašŸ˜…


__ADS_2