Gadis Jebakan

Gadis Jebakan
Tidak Rela


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Arkha membuka matanya. Dengan gerakan pelan, mencoba melepas tangan Kanaya yang melingkar di perutnya. Ia terpaksa melakukannya karena memang dirinya harus segera pulang ke apartemennya. Berat memang meninggalkan Kanaya di saat mereka baru bertemu. Namun, kali ini dirinya harus lebih bersabar dan akan segera menyelesaikan permasalahannya dengan cepat.


"Maaf, Sayang. Aku harus segera pulang, meski aku masih ingin memeluk tubuhmu," bisik Arkha sebelum itu mengusap lembut pipi Kanaya. Wajah tenang wanita itu saat tidur, juga membawa dampak pada Arkha. Dia menjadi lebih semangat untuk segera mengakhiri ini semua.


Mengecup pelan kening Kanaya lalu berpindah ke bibir wanita itu yang selalu menjadi candu untuk dirinya. Tanpa Arkha sadari, ia terlalu lama menempelkan bibir mereka. Hingga membuat kekasihnya itu terjaga. Membuka matanya dengan sempurna.


"Kak...," panggil Kanaya dengan suara khas bangun tidur.


Arkha baru tersadar setelah mendengar suara Kanaya. Entah, kenapa kali ini ia juga berat meninggalkan kekasihnya itu. Ingin menghabiskan setiap waktunya di samping wanitanya tersebut.


"Maaf mengganggu tidurmu, Sayang. Tapi aku rasa sangat malas untuk berangkat ke kantor," keluh Arkha kemudian memeluk erat tubuh Kanaya. Membaringkan kembali tubuhnya di sisi wanita itu. "Aku ingin terus memelukmu seperti ini. Seolah rinduku tak pernah terobati," lanjutnya lagi. Menelusupkan wajahnya di ceruk leher Kanaya.

__ADS_1


Sedangkan Kanaya hanya bisa membalas pelukan kekasihnya itu. Membiarkan Arkha menikmati momen melepas rasa rindunya. Padahal dari semalam pria itu tidak melepas dirinya sedetik pun. Meskipun mereka sama-sama dalam keadaan terlelap.


Cukup lama mereka dalam keadaan posisi yang tidak berubah. Tak sedikit pun pria itu ada niatan untuk segera pergi dari apartemen Kanaya.


"Sayang, bukannya kamu ada rapat hari ini? Segeralah bersiap, karena di sini aku juga sudah menyiapkan pakaian untukmu," bujuk Kanaya seraya memberi jarak di antara mereka. Guna bisa melihat wajah kekasihnya ini. Namun, pria ini menarik tubuhnya kembali dan merapatkan posisi mereka.


"Aku cukup malas untuk datang ke kantor di saat ada kamu di sini. Aku ingin menghabiskan waktuku bersamamu, Sayang," balas Arkha. Kemudian ia baru menyadari suatu hal. "Tunggu dulu, kamu barusan memanggilku apa? Coba diulangi lagi," Arkha nampak antusias ingin mendengar cara Kanaya memanggil dirinya lagi.


Melihat ekspresi Arkha yang seperti itu, lantas tidak serta merta membuat Kanaya mengabulkan permintaan kekasihnya itu begitu saja. Dia ingin menggoda sebentar pria jahil yang selalu menggodanya.


Arkha begitu gemas dengan sikap Kanaya yang sengaja ingin menggoda dirinya. Bukan Arkha namanya jika tidak bisa membalas kekasihnya yang mulai tertular oleh sifatnya.

__ADS_1


"Bolehkah sebentar lagi aku memeluk tubuhmu," pinta Arkha dengan tatapan memohon ke arah Kanaya.


"Enggak. Nanti kamu nggak berangkat-berangkat," tolak Kanaya dengan nada tegas. Kemudian dirinya bangkit lalu duduk di tepi ranjang. "Sekarang segeralah membersihkan diri. Aku akan menyiapkan makanan untuk sarapan pagi kita," lanjutnya.


Sesungguhnya Kanaya tidak ingin Arkha pergi darinya sekarang ini. Akan tetapi dirinya juga menginginkan Arkha segera menyelesaikan urusannya dengan wanita lain itu. Biarlah dirinya menjadi wanita yang egois. Karena setelah ini semua selesai, ia tidak mau berbagi pria-nya itu dengan wanita lain. Meski hanya secuil pun.


Namun, sebelum beranjak dari duduknya, tiba-tiba tubuhnya terasa terangkat ke atas. Dan kekasihnya itulah penyebabnya.


"Baiklah, kalau begitu kita mandi bersama," sahut Arkha seraya membawa Kanaya ke arah kamar mandi. Dan hal itu membuat Kanaya panik seketika. Tentu saja, Kanaya tidak diam begitu saja. Ia mencoba memberontak, namun kalah tenaga.


"Aakkhh...!" Pekik Kanaya kaget. "Iya, iya. Aku akan memanggilmu dengan benar. Sayang, tolong turunin aku. Aku harus segera membuat sarapan untuk kamu, sebelum kamu pergi, Sayang," bujuk Kanaya dengan tatapan memohon. Nampak begitu menggemaskan di mata Arkha.

__ADS_1


"Jika wajahmu seperti ini, maka aku semakin tidak rela untuk melepasmu," balas Arkha dengan senyum seringai di bibirnya.


Senyuman yang sangat mengerikan di mata Kanaya. Karena pria ini tidak pernah mengingkari ucapannya. Arkha tetap membawa langkahnya menuju kamar mandi dengan Kanaya yang berada di atas tangannya.


__ADS_2