Gadis Jebakan

Gadis Jebakan
Begitu Lebih Seru


__ADS_3

Malam hari yang biasanya Kanaya gunakan untuk istirahat, atau sekedar membaca novel maupun komik kesukaannya, kini harus ia lewatkan dengan berkutat di dapur. Karena kelalaiannya tidak menghubungi Arkha terlebih dulu, membuat Kanaya berada di dapur sekarang ini. Sibuk mengolah bahan masakan untuk ia hidangkan pada Arkha.


Sementara itu Arkha tengah duduk di depan televisi, sambil mencuri pandang ke arah Kanaya. Ia memang sengaja menyuruh Kanaya memasakkan makan malam untuknya. Alasannya hanya dua. Pertama, Arkha ingin melewati malam ini berdua dengan Kanaya. Begitupun dengan malam-malam selanjutnya. Karena memang biasanya wanita itu selalu menghabiskan waktu malamnya di dalam kamar.


Lalu yang kedua, ia ingin Kanaya memasak untuknya setiap hari, agar ia bisa selalu berinteraksi dengan wanita itu. Karena Kanaya tipe wanita yang sangat cuek, tetapi juga begitu menggemaskan jika dia panik.


Arkha memperhatikan setiap gerak Kanaya yang tengah sibuk mengolah bahan daging, kemudian ditaruh di atas roti. Setelah itu dia beri beberapa saus dan ditambahi dengan sedikit selada.

__ADS_1


"Nggak usah melihatku seperti itu. Lebih baik segera habiskan makanan ini, agar tidak telat datang ke pesta mantanmu itu," ucap Kanaya dengan nada kesal.


Bagaimana tidak kesal. Setelah digendong menuju kamar apartemen Arkha, ia dipaksa mencoba gaun yang sudah dipilihkan Arkha untuknya. Sudah dibuat malu, masih saja harus menuruti semua apa yang diperintahkan pria itu. Apa daya, Kanaya hanya bisa pasrah untuk saat ini.


Mendengar kalimat yang diucapkan oleh Kanaya, serta nada yang ketus, membuat kedua sudut bibir Arkha mengulas senyum. Lantas kemudian ia beranjak dari duduknya, lalu berjalan menuju ruang makan yang berada di sebelah ruah tv.


"Bisakah kamu bersikap lembut padaku, layaknya sepasang kekasih?" Arkha berniat menggoda Kanaya. Dia sangat suka melihat reaksi Kanaya yang selalu jutek kepadanya.

__ADS_1


Namun, hal itulah yang membuat Arkha semakin jatuh hati. Karena wanita ini tidak bersikap jaim di depannya, seperti wanita pada umumnya di negara ini. Wanita itu lebih mirip dengan kakaknya, Yutasha. Sederhana dan apa adanya.


"Kita memang bukanlah pasangan kekasih. Tapi bisa jadi sebentar lagi kita adalah sepasang suami istri, misal?" Arkha tidak henti-hentinya menggoda Kanaya.


Mendengar hal itu, sontak saja membuat Kanaya tersedak makanannya. Bisa-bisanya pria itu mengatakan kalimat yang mengerikan dengan begitu santainya. Bahkan pria itu terlihat sangat menikmati burger yang Kanaya buat, seraya tidak mengalihkan pandangannya dari Kanaya.


"Tidak usah kaget seperti itu. Toh, memang nanti ke depannya kita akan menikah," ucap Arkha yang masih tetap menggoda Kanaya sambil memberikan segelas berisi air pada wanita yang tengah menatapnya tajam. "Atau kita menunggu anak kita lahir dulu baru menikah? Begitu lebih seru sepertinya."

__ADS_1


"Ya! Tuaaannnn!!!" Teriak Kanaya. Dia tidak tahan dengan setiap kalimat yang terucap dari pria yang kini berlari menuju kamarnya, seraya tertawa puas. "Dasar, orang tidak waras." Gerutunya. Tidak mau ambil pusing, Kanaya segera membereskan ruangan itu, lalu bersiap mempercantik dirinya untuk datang ke pesta pernikahan Shanaz.


Kanaya sebenarnya paling malas datang ke sebuah pesta seperti itu. Pasti nanti di sana dia juga akan bertemu dengan orang-orang yang pernah ada di dalam hidupnya, dulu. Terutama keluarga dari ayahnya. Kanaya yakin, mereka pasti akan datang di acara pernikahan Shanaz, yang Kanaya tahu juga dari kalangan atas.


__ADS_2