
Di ruang santai tersebut masih terasa mencekam bagi Revald. Rupanya semua keluarga Arkha tidak membantu dirinya untuk menolak tawaran yang Gladio berikan kepadanya. Mereka dengan sangat tega meninggalkan Revald berdua saja dengN Gladio. Sementara Lilliana dan Philip memilih memasrahkan semuanya kepada Gladio. Karena mereka tidak mau membuat Revald tertekan. Sebab wajah pria muda itu sedari tadi terlihat sangat tertekan semenjak Gladio menawarkan untuk mengangkat Revald menjadi bagian dari keluarga mereka.
"Bagaimana, Revald? Apa kau mau menerima tawaran dariku?" sudah beberapa kali Gladio menanyakan hal yang sama kepada Revald. Namun pria berdarah campuran itu tak bergeming di tempatnya. Seolah tengah memikirkan ucapan Gladio dengan serius.
"Aku tidak bisa memutuskannya sendiri, Kek. Aku masih mempunyai keluarga di Indonesia, meskipun kedua orang tuaku sudah tidak ada," balas Revald yang sedari tadi hanya terdiam membisu.
"Tidak ada bagaimana maksud kamu, Vald?" tanya Gladio tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Revald.
Sementara pria berdarah campuran itu terlihat berubah air mukanya. Ini merupakan luka dalam, yang selalu ia pendam selama ini. Bukannya tidak ingjn mengenang mereka, hanya saja perbuatan mereka yang tidak ingin Revald ingat.
"Mereka sudah meninggal, Kek." jawab Revald dengan singkat. Tidak ingin membahas mereka kembali.
__ADS_1
"Lantas kamu selama ini tinggal bersama siapa?" tanya Gladio yang sangat penasaran dengan pemuda sahabat cucu menantunya tersebut.
Cara kerja Revald sangatlah cekatan. Gladio tahu tentang sepak terjang pemuda ini dalam memajukan perusahaan milik Arkha. Perusahaan PT. MAERRAN Tbk. sukses dsn maju, semua juga berkat Revald. Namun, untuk masalah informasi pribadi tentang pri ini sendiri, Gladio tidak mengkoreknya. Lantas yang ia lakukan sekarang mengorek informasi tentang Revald dari orangnya sendiri.
Kemudian Revald bercerita tentang hidupnya yang selama ini tidaklah sesempurna penampilan dirinya kepada pria tua tersebut. Gladio merasa tersentuh dengan cerita dibalik sosok Revald yang terlihat periang dan tanpa memiliki beban tersebut. Hal itu membuat Gladio semakin ingin mengangkat Revald menjadi bagian keluarga Burrack. Agar Lilliana dan Philip mempunyai pewaris nantinya. Karena biar bagaimana pun mereka membutuhkan orang untuk meneruskan perusahaan mereka sendiri. Dan selama ini Gladio belum menemukan orang yang cocok untuk diangkat menjadi anak Lilliana dan Philip.
Meninggalkan Gladio dan Revald, beralih pada sebuah kamar yang terlihat begitu banyak kelopak bunga mawar merah disetiap sudut kamar. Serta beberapa lilin yang berjejer rapi menyala di tengah-tengah kamar tersebut. Sementara itu ada sepasang suami istri yang terlihat sedang berdebat di atas tempat tidur.
"Nggak mau! Aku mau mandi dulu, Kak. Badanku terasa lengket. Kamu juga, kan?" tolak Kanaya yang kemudian berjalan meninggalkan Arkha dengan wajah memohonnya.
Arkha tidak mempunyai pilihan lain, selain mengikuti ucapan istrinya. Bisa saja dia memaksa seperti sikapnya yang sudah-sudah. Hanya saja Arkha ingin memberikan kesan yang mendalam di malam pengantin mereka, meskipun bukanlah malam pertama bagi mereka. Karena pengalaman pertama mereka yang tidak sebegitu menyenangkan buat Kanaya. Kali ini Arkha ingin melakukannya dengan benar dan membekas diingatan Kanaya nantinya.
__ADS_1
Dengan hati yang sedikit kesal, Arkha memilih menunggu Kanaya menyelesaikan kegiatan membersihkan diri. Sementar itu di dalam kamar mandi, Kanaya merasakan gugup yang sangat luar biasa. Padahal ini bukanlah yang pertama bagi mereka. Namun kenapa suasana malam ini begitu membuatnya sedikit gelisah.
"Kenapa aku gugup seperti ini?" tanya Kanaya pada pantulan dirinya dari balik cermin. "Dan kenapa juga aku mengenakan pakaian kurang bahan seperti ini. Mana dibagian bawahku terasa tidak nyaman. Seperti sedang tidak mengenakan apa-apa," gumam Kanaya pada pakaian yang dia pakai. Pakaian yang dia pakai saat ini merupakan hadiah dari Tanisha, kakak angkat suaminya.
Tidak mau berpikir yang membuatnya pusing sendiri, lantas Kanaya membawa langkahnya keluar dari kamar mandi. Dengan langkah oelan ia menuju tempat tidurnya. Kanaya terkejut saat tidak mendapati Arkha di dalam kamarnya. Lalu ia berniat ingin mencarinya, jika saja tidak sadar dengan kondisi dirinya saat ini.
"Masa iya aku keluar dengan pakaian seperti ini? Yang ada nanti malah jadi bahan olokan," kata Kanaya pada dirinya sendiri. Kemudian ia memutuskan untuk naik ke atas tempat tidur dan menyelimuti tubuhnya hingga sampai bagian leher.
~Bersambung~
Pada nungguin, ya?🤣
__ADS_1
Tenang, aku sendiri pun juga ingin cepat-cepat. Tapi apalah daya kalo dicepatin malah nggak greget sama sekali. Jadi pelan-pelan saja ya, biar lebih terasa. ehðŸ¤