
Setelah kejadian kemarin, Arkha benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah nantinya jika sampai dirinya tidak bisa membuktikan jika Kanaya hamil. Terlebih lagi mereka akan melangsungkan pernikahan besok. Bagaimana nantinya jika sampai kakek Gladio akan memisahkna mereka. Inilah hal yang membuat Arkha tidak bisa tidur sampai sekarang. Sungguh, dia tidak mau jika sampai dipisahkan oleh Kanaya lagi.
Arkha kemarin juga langsung menghubungi para keluarganya untuk segera datang ke negara ini. Karena ia akan melangsungkan pernikahannya bersama Kanaya di negara ini. Sesuai permintaaan kakek Gladio. Mereka semua tiba pada malam hari dan saat ini sedang menginap di hotel yang merupakan milik Elajar Company. Dan saat ini yang tinggal dengan Arkha ialah Yutasha dan anaknya, Gressha. Sementara Erlangga akan datang besok, di hari H pernikahan Arkha. Karena sedang ada suatu pekerjaan yang nggak bisa Erlangga tunda.
"Kak, aku musti bagaimana?" tanya Arkha kepada kakaknya, Yutasha. Arkha nampak sangat frustasi dengan keadaan yang dia hadapi sekarang ini.
"Gimana apanya? Kalau ngomong itu yang jelas," protes Yutasha karena Arkha tidak memperjelas pertanyaannya sehingga membuat Yutasha tidak mengerti.
"Aku bilang ke Kakek Gladio kalau Kanaya hamil, pas waktu aku meminta restu kepada beliau. Sementara Kakak tahu sendiri, kalau Kanaya enggak hamil. Dan jika terbukti Kanaya enggak hamil, maka kakek tua itu akan memisahkan kami. Semua orang di sini juga tau tabiat dia seperti apa. Pria tua yang akan melakukan apa pun dengan apa yang sudah terucap dari bibirnya," desah Arkha yang tidak tahu lagi bagaimana cara memikirkan solusi yang tepat untuk permasalahannya yang satu ini.
__ADS_1
Yutasha nampak tertawa melihat adiknya yang bingung seperti ini. Karena biasanya adiknya ini selalu tahu apa yang musti dia lakukan. Berbeda dengan saat ini. Arkha nampak kacau.
"Ya ... jika begitu kamu musti cepat aja bikin adonannya. Biar cepat mengembang itu perut Naya," balas Yutasha dengan santainya. Tanpa memikirkan arti dari kalimat yang dia ucapkan. Membuat Arkha semakin geram saja dengan sifat kakaknya itu.
"Kakak kira bikin adonan donat? Setelah habis diuleni langsung mengembang, begitu?" Kesal Arkha. Bukan malah memberinya solusi, kakaknya malah membuat lawakan yang menurutnya sangat menyeblkan.
"Tinggal kamu bilang aja ke Kakek Gladio itu, kalau Kanaya tidak sedang hamil. Lebih baik jujur, tanpa harus berbohong dan menimbulkan masalah. Ini kebiasaan burukmu yang tidak Kakak suka. Jika ada hal yang lebih mudah untuk dilakukan, kenapa harus bersusah payah seperti ini? Bikin pusing aja, kan?" ujar Yutasha dengan kalimat jenakanya.
Apa yang dikatakan oleh kakaknya ada benarnya juga. Kenapa dirinya mau bersusah payah seperti ini, jika ada jalan yang lebih mudah seperti yang dikatakan oleh kakaknya.
__ADS_1
"Lalu bagaimana setelah aku jujur, Kakek tua itu malah membatalkan pernikahan kami?" tanya Arkha nampak ragu.
"Ya... mending begitu dong, Dek. Jadi kamu nggak musti menyandang status Duren, Duda Keren yang cerai setelah satu hari sah." Yutasha tidak tahan lagi untuk menahan tawanya.
Wanita berparas cantik, dan perut yang buncit ini sangat puas telah bisa menggoda adiknya hinggak seperti itu. Sudah sangat lama dirinya tidak bercanda seperti ini dengan adiknya. Ada rasa keeinduan saat mereka tinggal bersama dulu. Saling ledek, saling jahil, dan saling melindungi. Yutasha merindukan saat-saat seperti itu yang tidak bisa mereka ulang lagi. Karena kehidupan mereka yang sudah berubah. Sudah memiliki pasangan masing-masing.
"Daripada aku jadi duda, ya mending aku garap aja nanti malam, Kak. Biar langsung jadi," balas Arkha yang ia yakini dengan kalimatnya barusan pasti kakaknya ini akan marah besar terhadapnya. Karena Yutasha paling anti dengan sikap seorang pria yang merendahkan wanita. Menjatuhkan harga martabat dari wanita itu sendiri.
"Jika kamu berani melakukannya, maka aku akan suruh Kak Ayumna menidurkan itumu selamanya," ancam Yutasha dengan nada serta tatapan yang serius ke arah Arkha.
__ADS_1