
Setelah mendampingi Keanu dalam pertemuan tadi, Kanaya buru-buru mengganti bajunya kembali dengan seragam yang sebelumnya ia pakai. Pada saat ingin keluar dari ruangan loker, ada sebuah tangan yang menghadangnya.
"Apa hubunganmu dengan Mister Keanu?" tanya wanita itu tidak ramah kepada Kanaya. Tercetak jelas raut tidak suka di wajahnya.
"Maaf, Bu. Tidak ada hubungan apa-apa antara saya dan Mister Keanu," jawab Kanaya jujur apa adanya. Karena memang dia hanya menganggap Keanu sebagai sahabat. Tidak lebih.
"Nggak usah bohong, kamu! Apa kamu pikir aku tidak melihat kalian tadi?" kata Stevani dengan nada sinis, serta tatapan matanya yang memicing ke arah Kanaya. Mencari kejujuran di setiap ekspresi wajah Kanaya.
"Lihat apa, Bu? Waktu Mister Keanu memberikan saya setekan baju?" Kanaya bukanlah orang yang mudah mengalah begitu saja. "Oh, itu memang bagus banget, Bu. Pilihan Mister Keanu emang terdabes, pokoknya."
Kanaya dengan sengaja memprovokasi amarah Stevani. Siapa suruh perempuan mencari masalah dengannya. Sementara ia merasa tidak pernah sekalipun mengusik kehidupan Stevani.
"Kau..." geram Stevani mengepalkan tangannya dan di angkat ke udara. Bersiap untuk memberi pelajaran kepada Kanaya. "Berani berkata seperti itu kepadaku!"
__ADS_1
Stevani pun melayangkan tangannya ke wajah Kanaya. Karena belum siap, reflek Kanaya memejamkan matanya. Pasrah dengan apa yang akan ia terima sebentar lagi.
Stevani terperanjat kaget, saat ada tangan lain menahan tangannya. Lantas ia menoleh ke arah pemilik tangan tersebut. Matanya melebar tidak percaya, tangannya yang bebas menutup mulutnya yang terbuka.
"Mi-mister Arkha," sapa Stevani tergagap.
Stevani tidak menyangka, jika sahabat atasannya itu ada di tempat yang tidak bisa diakses oleh pengunjung. Namun, ia tidak heran jika Arkha bisa samapai di sini. Karena Keanu memberi akses kepada Arkha untuk pergi ke manapun pria itu mau.
"Apa ini yang diajarkan Keanu pada pegawainya? Menindas orang yang tidak memiliki kedudukan di restoran ini?" Arkha menahan geramnya kepada wanita yang kini mentapnya dengan raut takut.
Bukan tanpa alasan Kanaya seperti itu. Ia hanya takut, jika keikutsertaan Arkha dalam masalahnya dengan Stevani, dia akan dipecat setelah ini. Kanaya tahu betul tabiat Stevani seperti apa. Wanita itu merupakan tipe yang pendendam. Dia akan mencari kesalahan lawannya, meskipun itu sangat kecil.
Melihat mata Kanaya yang mematung di tempatnya, tanpa sadar Arkha meremas tangan Stevani hingga wanita itu merintih sakit.
__ADS_1
"Tuan, lepaskan dulu tangan Bu Stevani," pinta Kanaya lembut.
Setelah mendengar permintaan Kanaya denfan nada lembut, barulah Arkha melepas tangannya. "Apa kamu tidak apa-apa, Nay?" tanya Arkha penuh dengan nada khawatir.
Tangannya mengusap lembut pipi mulus Kanaya. Memeriksa setiap inci dari permukaan kulit putih tersebut. Sampai akhirnya ia tidak menemukan jejak apapun yang menyakiti Kanaya. Namun, tangannya tak kunjung berpindah dari pipi Kanaya.
"Tuan...," lirih Kanaya mengingatkan Arkha akan posisi mereka sekarang ini. Karena di sini bukan hanya ada mereka berdua saja. Tetapi juga ada orang lain.
Kanaya berusaha memberi isyarat kepada Arkha melalui matanya dengan kedua tangan Arkha masih membingkai di wajahnya. Mau memberontak seperti biasanya, tidak bisa Kanaya lakukan. Ia tidak mau mengambil konsekuensi yang akan merugikan dirinya sendiri.
Arkha tersenyum melihat wajah Kanaya yang mulai kesal terhadapnya. Ia tahu maksud Kanaya, akan tetapi bukan Arkha namanya jika tidak menjahili wanita itu di setiap ada kesempatan yang datang kepadanya.
"Kenapa? Apa ada yang sakit di tempat lain?" Arkha berpura-pura memeriksa tubuh Kanaya.
__ADS_1
Wanita itu menatapnya jengah. Ingin sekali rasanya memaki ataupun mengumpat pada pria yang selalu mengambil kesempatan dalam keluasan yang tersedia.