
Mereka berdua menatap cemas ke arah Gladio. Takut-takut jika pria lanjut usia ini mengatakan persyaratan yang aneh-aneh lagi. Seperti yang merek ketahui, pria ini sangat susah sekali mereka tebak.
"Apa yang mau Kakek katakan?" tanya Arkha yang sudah tidak sabaran sama sama sekali. Karena sebenarnya dia sudah memesan tiket untuk balik ke Indonesia besok lusa. Di kasih ijin atau enggak, Arkha ingin kembali ke negaranya bersama sang istri. Permintaan ijin ini hanya sebagai formalitasnya saja karen menghargai Gladio sebagai kakeknya Kanaya.
"Aku ijinkan jika Revald juga memberikan aku cucu menantu segera," benar bukan apa yang mereka khawatirkan. Pria ini selalu meminta imbal balik dari sesuatu yang dia beri.
"Kalau masalah itu Kakek tenang saja. Sebenarnya Revald sudah punya kekasih di Indonesia. Hanya saja dia belum berani memperkenalkannya kepada Kakek," sahut Arkha dengan seenak jidatnya saja. sudah ditolong begini seperti ini, masih saja menjerumuskan dirinya dan menjadikan Revald sebagai tumbal kebahagiaannya. Benar-benar teman tidak punya Akhlak. Pria yang sangat licik.
__ADS_1
Mendengar hal itu, bibir Gladio terangkat ke atas mengulas sebuah senyuman. Gladio berpikir, setidaknya akan ada pengganti Kanaya di rumah ini dan meramaikannya dengan sebuah tangisan bayi yang sudah lama sekali tidak ia dengar. Karena tidak mungkin Gladio memaksa Kanaya kembali. Takut-takut akan membuat hubungannya dengan Kanaya merenggang kembali.
"Kalau begitu, tunggu apa lagi, Vald? Kenalkan dia sama Kakek? Atau kalau enggak, Kakek yang akan mencarikanmu jodoh," ujar Gladio yang menyematkan kalimat ancaman kepada Revald.
Sementara Revald mengeraskan rahangnya menatap ke arah Arkha. Bisa-bisanya sahabatnya itu menjadikan dirinya sebagai tumbal. Benar-benar minta dikasih sianida. Apa yang akan terjadi jika dirinya tidak bisa membawa perempuan ke hadapan pria tua ini? Revald tidak bisa membayangkan jika dirinya dijodohkan dengan orang negara ini. Ia tidak menyukai wanita yanga ada di sini. Revald masih suka dengan produk lokal.
"Dia masih sekolah, Kek. Tidak bisa seenaknya saja dibawa kesini," Revald terpaksa mengarang sebuah jawaban yang dirinya sendiri tidak tahu siapa gadis itu nantinya. Sedangkan Arkha menahan tawanya melihat Revald yang nampak tenang menanggapinya, namun ia tahu jika sahabatnya itu cemas. Siapa yang akan Revald jadikan korban untuk menutupi kebohongannya.
__ADS_1
"Tidak usah kaget seperti itu, Kek. Kalau Kakek lupa, Nara juga masih berusia sembilan belas tahun. Bahkan dia sedang berbadan dua malahan," balas Revald sembari melirik ke arah Arkha yang berpura-pura tidak mendengarkan ucapan Revald.
Sementara Gladio melirik ke arah Arkha dengan mata yang memicing. Seolah ingin mencabik pria muda yang menjadi penyebab cucunya berbadan dua. "Semua itu karena bocah tengik ini." desis Gladio yang kini menatap sinis ke arah Arkha. Sedangkan Arkha berpura-pura sibuk dengan ponselnya. Lalu memilih untuk beranjak dari tempat nya.
"Aku hanya mengabulkan permintaan Kakek saja," elak Arkha yang sekarang sudah berdiri dari tempat duduknya. Bersiap ingin pergi dari sana dan menghampiri sang istri. "Oh, ya Kek. Kita akan berangkat besok lusa. Jadi aku sarankan suruh Revald segera menyeret kekasihnya itu ke sini," lanjut Arkha diiringi senyum seringainya ke arah Revald. Membuat Revald mengepalkan tangannya di bawah meja serta tatapan tajam nya ke arah Arkha.
"Jadi untuk apa kau meminta ijin jika sudah merencanakan ini semua, bocah tengik!" teriak Gladio yang selalu dibuat tekanan darahnya meningkat jika sudah berhadapan dengan cucu menantunya ini. Sedangkan Arkha tersenyum penuh maksud kepada mereka berdua yang sedang terbakar emosinya.
__ADS_1
~Bersambung~
Ada yang sadar nggak, jika aku selipkan slice of tentang Revald?