
Entah kenapa Kanaya merasa ada yang tidak nyaman dengan dirinya. Pingin marah, tapi entah karena apa. Tidurnya pun akhir-akhir ini juga tidak teratur seperti hari-hari sebelumnya. Terhitung sudah sepuluh hari Arkha kembali ke LA. Jauh lebih lama dari yang diperkirakan pria itu. Dan terakhir kali mereka melakukan video call pada saat lima hari yang lalu. Karena pria itu selalu sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan untuk mengirimi Kanaya pesan, hanya mampu Arkha lakukan tiga kali dalam sehari. Sebelum berangkat kerja, pada waktu istirahat makan siang, dan pada saat pria itu beranjak ke dunia mimpinya.
Kanaya tidak pernah melakukan protes kepada Arkha. Ia mencoba mengerti keadaan kekasihnya yang memang tengah menyelesaikan permasalahan yang terjadi di kantor. Namun, ada yang mengganjal pikirannya semenjak satu minggu yang lalu. Lebih tepatnya pada saat dirinya mendengar nama seseorang yang sangat ia kenali.
Pada saat Kanaya menghubungi orang yang dimaksud, orang itu tidak merespon panggilan teleponnya meski nadanya tersambung. Tidak hanya berhenti di situ saja, Kanaya juga mencoba mengirimkan pesan kepada orang tersebut. Akan tetapi hanya di centang dua dan sudah berubah berwarna biru.
"Kenapa perasaanku nggak enak sekali ya?" Gumam Kanaya yang sedang duduk santai di teras depan rumah orang tua Arkha, yang selama ini ia tempati.
__ADS_1
Demi mengusir kebosanan dia yang tidak melakukan apa-apa, Kanaya mencoba memghubungi Monica, sahabatnya yang berada di kota LA. Pada panggilan pertama, tidak diangkat oleh Monica. Lantas Kanaya mencoba untuk memanggilnya lagi, dan pada panggilan kedua itulah panggilannya di angkat.
"Ya, hallo," sapa suara seorang perempuan dari seberang sana.
"Apa kamu sedang bekerja saat ini?" sudah cukup lama mereka tidak melakukan panggilan seperti sekarang ini. Karena Kanaya pikir Monica sangat sibuk. Palingan mereka hanya bertukar kabar melalui pesan singkat.
"Apa kau sangat betah di sana? Hingga meninggalkan kekasihmu di sini bersama dengan wanita lain?" Tiba-tiba saja Monica mencecar Kanaya dengan kalimat sarkasnya. Membuat Kanaya menghentikan kalimat yang ingin ia ucapkan.
__ADS_1
"Kau beneran nggak tahu apa yang aku maksud? Padahal kekasihmu itu wara wiri di stasiun televisi di kota ini, Kay!" Monica tak habis pikir. Kemana saja Kanaya selama ini, hingga tidak mengetahui kekasihnya sedang ramai diberitakan dengan perempuan lain.
Jadi, selama ini Kanaya tidak mengetahui tabiat kekasihnya seperti apa? Sungguh malang sekali nasib wanita ini. Gumam Monica di dalam hati. Merasa dengan Kanaya yang selama menjalin kasih dengan pria lain selalu saja menjadi pihak yang terkhianati.
Kanaya berusaha mengatur napasnya, mencoba menenangka. Emosinya agar tidak meledak terlebih dulu, sebelum mengetahui kebenarannya secara detail. Karena selama ini kesehariannya di sini ia sibukkan dengan membuat berbagai resep kue. Tidak sekalipun Kanaya sempatkan diri untuk menonton gosip. Palingan ia menonton drama kesayangannya saja.
"Tolong jelaskan padaku apa yang diberitakan di sana tentang Arkha, Mon," pinta Kanaya mencoba untuk tetap tenang.
__ADS_1
"Baiklah, tapi sebelumnya tolonglah berjanji kepadaku, Kay? Jika memang pria ini mengkhianatimu, aku mohon pergilah dari sana. Tinggalkan pria licik itu. Dia sama saja dengan Aldirck, mantanmu yang tidak tahu diri itu," pinta Monica. Tidak ingin sahabatnya itu tersakiti berkali-kali oleh seorang pria lagi. Kanaya mengangguk meskipun tanpa suara, seolah Monica dapat melihat itu.
Setelah mengatakan hal itu, Monica memulai ceritanya tentang Arkha yang selama tiga hari ini wajahnya berseliweran di stasiun televisi dengan seorang perempuan yang diberitakan sebagai kekasih Arkha selama ini. Meskipun pria berwajah Asia itu tak pernah melakukan konferensi pers dengan para awak media yang meliput berita tentang dirinya.