
Setelah selesai berkemas, Dina dan Arjun akhirnya bertolak ke Surabaya. Karena memang toko roti mereka tidak bisa ditinggal terlalu lama. Sebenarnya Dina masih ingin menghabiskan waktu bersama Kanaya, kekasih putranya. Meskipun terhalang oleh bahasa, namun ada Arkha dan suaminya yang dengan telaten mentranslate obrolan dua wanita yang ternyata memiliki hobi yang sama, yaitu membuat kue.
"Mama sebenarnya masih ingin di sini lebih lama lagi, Pa. Boleh, ya? Satu minggu aja," pinta Dina kepada sang suami dengan nada memohon.
"Nggak bisa, Ma. Kamu, kan ada banyak pesanan minggu ini. Masa iya, dibatalin?" ujar Arjun mengjngatkan sang istri. Karena memang toko roti mereka mempunyai banyak pelanggan, dan kebetulan juga dalam minggu-minggu ini ada pesanan untuk hajatan pernikahan yang lumayan banyak di toko roti mereka.
Mendengar hal itu, lantas Kanaya menatap ke arah Arkha dan meminta untuk dijelaskan. Karena tidak tega melihat mimik wajah Dina yang memelas seperti itu kepada Arjun. Arkha dengan telaten menjelaskan apa yang diinginkan mamanya. Tanpa Arkha duga, Kanaya melangkah maju ke arah orang tuanya. Lalu apa yang diucapkan selanjutnya oleh wanita itu sungguh mengejutkan mereka semua.
__ADS_1
"Kalau begitu, aku boleh ikut Mama dan Papa pulang ke Surabaya? Aku bisa bantu-bantu di sana. Daripada di sini, pasti akan sangat bosan. Karena tidak ada teman satu pun yang aku kenal," seloroh Kanaya tanpa melihat wajah Arkha yang menahan geram.
Bisa-bisanya wanita itu berkata seperti itu di depan sang mama. Karena jika sang mama menyetujuinya, maka dirinya tidak akan bisa bertemu dengan Kanaya untuk beberapa hari sampai ia dipindah tugaskan ke Surabaya sesuai keinginan Yutasha.
"Sayang... kamu tidak lagi bercanda, kan? Lalu bagaimana dengan diriku?" tanya Arkha seraya menahan rasa gemasnya terhadap Kanaya.
Kemudian Dina beralih menatap Kanaya dengan tatapan penuh kelembutan. Semenjak dikenalkan dengan Kanaya, Dina langsung menyuruh wanita bule itu memanggilnya mama, dan memanggil arjun dengan sebutan papa. Karena Dina tahu dari cerita Arkha, kalau wanita bule itu sudah tidak memiliki keluarga. Kedua orang tuanya meninggal, dan hubungannya dengan sanak saudaranya tidaklah baik.
__ADS_1
Dari situ, Dina merasa kasihan pada Kanaya. Di usia yang masih sangat muda, wanita itu harus mengalami hidup sendirian di dunia ini tanpa adanya keluarga yang menjadi tempat keluh kesahnya. Maka tidak heran, jika dirinya langsung sayang kepada Kanaya. Dibalik rasa simpatik, putranya juga terlihat sangat mencintai wanita bule itu.
"Bukannya begitu, Ma. Tapi, kan Kanaya baru berkunjung ke sini untuk pertama kalinya. Jadi aku ingin memperkenalkan dulu budaya yang ada di negara kita. Biar dia tidak bingung nantinya sewaktu berada di Surabaya. Mama tahu sendiri, bukan? LA sama Surabaya bedanya juauh buanget," ungkap Arkha dengan modus yang terselubung.
Niat utamanya adalah menghabiskan waktu bersama Kanaya. Lagi pula mereka juga baru baikan, masa iya harus tinggal terpisah secepat ini. Belum lagi dirinya harus kembali ke kota LA untuk menyelesaikan urusannya terlebih dulu, baru berpindah ke Surabaya. Keputusan Darren juga belum final.
Masih banyak yang musti Arkha kerjakan. Belum lagi juga mengecek usahanya sendiri yang bergerak di bidang otomotif. Yang sekarang ia percayakan kepada Revald, sahabat baiknya.
__ADS_1
Sementara Kanaya hanya memperhatikan mereka berdua debat. Karena tidak paham dengan apa yang mereka bicarakan. Merasa dirinya seperti orang bodoh, Kanaya bertekad dalam hati ingin mempelajari bahasa Indonesia dengan baik. Agar bisa ikut masuk ke dalam obrolan mereka.