
Terlihat jelas di wajah Arkha, jika pria itu saat ini tengah khawatir. Bagaimana tidak khawatir, akibat kejahilan dirinya wanita itu sampai pingsan karena shock. Saat ini Arkha tengah menunggu di depan ruangan di mana Kanaya di rawat. Arkha duduk dengan gelisah, jemarinya saling bertautan.
Tidak berapa lama, pintu ruangan itu terbuka. Sontak Arkha langsung berdiri dari duduknya, lalu menghampiri dokter yang baru keluar dari ruangan itu.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" Tanya Arkha gusar. Ia tidak sabar ingin mengetahui keadaan Kanaya saat ini.
Dokter itu tersenyum ramah ke arah Arkha. Kemudian menepuk bahu Arkha dengan pelan, setelah itu baru membuka suaranya.
"Istri anda baik-baik saja, Tuan. Dia hanya butuh istirahat yang cukup, juga jangan buat dia shock dengan berita yang terlalu mengejutkan dia." Tutur dokter itu dengan nada lembut.
"Apa tidak ada hal yang serius mengenai dia, Dok?" Tanya Arkha kembali. Dia mengabaikan perkataan dokter yang mengatakan kalau Kanaya adalah istrinya.
__ADS_1
Sekali lagi dokter itu memberikan senyum ramahnya pada Arkha. Kemudian dia menggelengkan kepalanya, meyakinkan pada Arkha kalau Kanaya baik-baik saja.
"Makasih, Dok." Ucap Arkha kemudian.
Setelah sang dokter pergi, Arkha baru melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan Kanaya. Dia melihat wanita itu tenang dalam tidurnya. Mungkin juga karena dalam masa pengaruh obat.
Arkha mengambil tempat di sisi Kanaya. Tangannya terangkat meraih rambut yang menutupi sebagian wajah Kanaya. Menatap wanita itu penuh sesal, tapi dia juga tidak bisa melepaskan wanita itu begitu saja. Apalagi waktu di restoran tadi para karyawannya melihat semua adegan yang dia mainkan. Arkha tidak bisa mengabaikannya begitu saja.
Juga tadi sebelum berangkat ke rumah sakit, terjadi perdebatan antara Arkha dan Keanu. Mereka saling memperebutkan Kanaya. Saling mempertahankan keinginan mereka, hingga kemenangan Arkha dapatkan. Karena Keanu dipanggil bawahannya yang memerlukan tanda tangan manajer restoran tersebut.
Arkha sendiri juga merasa aneh dengan perasaannya kepada Kanaya. Tapi yang pasti, dia tetap ingin melindungi wanita itu. Tentu saja dia juga butuh bantuan dari wanita itu, untuk datang ke acara pesta pernikahan Shanaz yang dimajukan menjadi minggu depan.
__ADS_1
Karena rasa lelah yang menghinggap di tubuhnya, Arkha menyandarkan kepalanya di pinggiran ranjang pasien. Tidak perlu menungu lama, mata Arkha tertutup dengan sempurnya.
Kanaya mengerjapkan matanya pelan, ia ulang berkali-kali hingga kesadarannya kembali. Kepalanya masih terasa pusing. Kanaya menatap ke ruang sekitarnya, nampak begitu asing.
"Ini di mana?" Lirih Kanaya. Kemudian dia ingin bangkit dari tidurnya, tapi pergerakannya terhenti saat merasakan kram di tangan sebelah kanan. Lantas Kanaya menoleh ke arah tangannya. Kanaya terperanjat, ketika melihat tuan penculik itu tidur di lengannya. Hampir saja ia menloncat dari tempat tidur, kalau tidak ingat lengannya yang satunya lagi di infus.
"Kenapa juga Tuan Penculik tidur pake bantalan lenganku. Mana udah terasa keram." Gumam Kanaya seraya memindahkan kepala Arkha dengan pelan dan penuh kehati-hatian.
Setelah berhasil memindahkan kepala Arkha ke atas bantal yang sesungguhnya, dengan gerakan pelan dan lembut tanpa suara, Kanaya berusaha turun dari sisi lain ranjang pasien tersebut. Saat hendak kakinya menyentuh lantai, lagi, lagi ada sebuah lengan yang tanpa ijin melingkar di perutnya.
"Hati-hati kalau bergerak. Jangan buat anakku dalam bahaya lagi," ucap Arkha dengan mata masih terpejam.
__ADS_1
Kanaya membalikkan badannya, kemudian melepas tangan Arkha dari perutnya. Kali ini dia benar-benar kesal pada Arkha, dan akan menghadapi pria ini.
"Tuan, jangan seenaknya menyentuhku! Lalu, anak siapa yang Tuan maksud? Siapa yang hamil di sini?" Kanaya melontarkan beberapa pertanyaan pada Arkha. Hingga pria itu terpaksa harus membuka matanya.