
"Tapi sayang, udah nggak bisa dimanfaatin lagi," balas Arkha tidak terima.
Melihat akan ada perdebatan panjang antara adik dan suaminya, Yutasha segera menarik adiknya untuk masuk ke dalam pantry.
Di dalam pantry tersebut, sudah ada beberapa karyawannya yang sedang menunggu kedatangan Arkha. Mereka membawa setangkai mawar merah di tangan mereka masing-masing until diberikan kepada Arkha, nanti.
Mata Arkha melebar, dirinya tidak pernah membayangkan kalau karyawannya akan membuat kejutan seperti ini untuknya. Mengingat sikap Arkha yang tidak ada kata tolerir untuk setiap kesalahan bawahannya tersebut.
Kenapa mereka memilih tempat ini sebagai tempat kejutan untuk Arkha? Karena Arkha selalu membuat kopi-nya sendiri di pantry, tanpa menyuruh sekretarisnya. Alasannya adalah karena Arkha tidak mau merepotkan bawahannya untuk kepentingan pribadinya sendiri.
"Surprise!" Teriak mereka kompak.
__ADS_1
Ada yang meletuskan balon berisikan kertas kerlap-kerlip, ada juga yang langsung menghampiri Arkha untuk mengucapkan selamat langsung kepadanya.
"Selamat, Pak, atas menangya tender yang Bapak pimpin," ucap sekretaris Arkha, Ghea. Lalu Ghea memberikan mawar yang dia bawa ke atasannya.
"Makasih, Ghe. Itu juga berkat kerja keras kalian selama ini," balas Arkha.
Kemudian mereka silih berganti mengucapkan selamat kepada Arkha. Hingga semua sudah mendapat gilir, Arkha mengajak para bawahannya itu untuk makan siang di sebuah restoran yang terbilang cukup lezat masakannya.
Tidak terasa waktu makan siang tiba, hampir semua karyawan yang berkumpul tadi berangkat ke restoran yang di maksud oleh Arkha. Mereka datang ke sana terlebih dulu, sementara Arkha sedang menemui tamunya sebentar. Tamu yang benar-benar tidak pernah Arkha harapkan lagi kedatangannya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Arkha dengan suara datar. Tidak ada lagi nada kelembutan yang Arkha berikan pada lawan bicaranya saat ini.
__ADS_1
"Apa kau tidak merindukanku?" Wanita itu berkata dengan nada yang begitu lembut, selembut gula kapas. Lalu beranjak dari duduknya, untuk kemudian menghampiri Arkha.
Rasa sakit di hatinya kembali muncul, ketika wanita ini muncul di hadapannya lagi. Arkha tidak percaya sampai detik ini kalau ketulusannya dinodai. Meskipun Arkha berusaha membenci wanita ini, tidak dapat Arkha pungkiri kalau rasa itu masih ada. Namun, Arkha berusaha semaksimal mungkin untuk tidak memperlihatkannya pada mantan tunangannya, Shanaz.
"Kalau tidak ada yang penting, segera keluar dari ruangan ini." Ucap Arkha dingin. Sedikitpun Arkha berusaha untuk tidak melihat wajah Shanaz. Dia tidak mau sampai tumbang ke dalam lembah kekecewaan lagi.
Menjalin hubungan yang tidak sebentar, hampir setiap waktu bersama, tidak mudah bagi Arkha untuk menghapus nama wanita ini dari dalam hatinya. Ingatan indah akan kebersamaan mereka selama ini, serta impian-impian yang ingin mereka raih bersama, tak jarang pula melintas di kepala Arkha.
"Apa kamu masih marah padaku?" Tanya Shanaz seperti tidak punya dosa kepada Arkha.
Arkha mengedikkan bahunya, kemudian dia berdiri lalu meraih ponsel yang tergeletak di atas meja, serta meraih jasnya yang tersampir di gantungan samping tempat duduknya.
__ADS_1
"Jika kau tidak mau keluar, aku yang akan keluar dari ruangan ini." Sarkas Arkha.