Gadis Jebakan

Gadis Jebakan
Kesempatan Kedua


__ADS_3

Mau tidak mau Arkha harus menurut. Karena hanya dengan ini dirinya bisa bertemu dengan Kanaya. Arkha tidak akan membuang kesempatan yang datang kepadanya. Setelah Darren menyuruh orang suruhannya meblockade bandara, menutup semua akses masuk maupun keluar selama tiga puluh menit, Arkha bergegas secepatnya menuju bandara. Butuh waktu sepuluh menit untuk Arkha sampai di bandara. Bukan hal yang asing, karena Arkha memiliki skil mengemudi tingkat dewa. Bahkan Erlangga yang terbilang paling jago dalam mengemudi, masih kalah dengan dirinya.


Menutup pintu mobilnya dengan kasar, Arkha kemudian berlari masuk ke dalam bandara tersebut. Ia menelisik setiap wanita yang kira-kira perawakannya hampir sama seperti Kanaya. Meneliti mereka satu per satu. Hingga pada menit ke dua puluh, Arkha menerima laporan dari orang suruhan Darren. Orang itu berkata bahwa melihat wanita bule yang sedang dicari oleh Arkha.


Tanpa membuang waktu lagi, Arkha segera berlari menuju tempat yang dikatakan oleh orang suruhan papa angkatnya tersebut. Dengan hati yang was-was, takut jika wanita itu akan menolak kehadirannya. Ia harus bisa meyakinkan Kanaya kali ini.


Sembari menunggu, Kanaya memilih duduk di taman yang terletak di samping Bandara. Wanita itu tengah melihat ke arah anak kecil yang tengah bermain dengan ibunya saja. Mereka nampak begitu bahagia.


Ada sekelibat pikiran dirinya di masa mendatang. Akankah dirinya akan seperti itu jika mempunyai seorang anak? Namun yang pasti ia belum siap. Karena kehidupannya yang masih terbilang rumit. Apalagi hubungannya dengan keluarganya yang belum juga membaik.

__ADS_1


Kanaya menunduk pada saat ada sebuah bola bergelinding ke arahnya. Tangannya terulur mengambil bola itu, lalu menegakkan kembali badannya. Sebelum itu, ia melihat ada sebuah sepasang kaki yang berada tepat di hadapannya.


"Maaf, ini bolanya," ucap Kanaya kemudian mengangkat wajahnya.


Betapa terkejutnya Kanaya pada saat melihat ada seseorang pria yang saat ini berdiri dengan sempurna di hadapan dirinya. Pria itu mengulas senyum ke arahnya. Dengan susah payah ia mencoba kabur darinya, namun pada kenyataannya pria itu selalu bisa menemukannya. Secepat inikah aku tertangkap? Padahal aku belum kabur dari negara ini. Keluh Kanaya di dalam hati. Lalu ia memalingkan wajahnya, berniat beranjak dari tempatnya untuk kemudian pergi dari sana.


Kanaya tak bergeming di tempatnya. Kemudian wanita itu lebih memilih until beranjak dari sana. Namun, Arkha mencegahnya dengan cara memegang tangan Kanaya dengan pelan.


"Nay, tak bisakah kamu membuka hatimu untukku?" Arkha masih saja tetap memohon pada wanita itu. Yang nyata-nyata tidak menghiraukan keberadaannya sama sekali.

__ADS_1


Tidak pernah sekalipun Kanaya bayangkan jika pria ini bisa bersikap sedemikian lembut kepadanya. Dan lihat itu, tatapan pria itu seolah memohon dengan sangat kepada dirinya.


"Berikan aku kesempatan untuk membuktikan semua kesungguhanku, Nay," ucap Arkha lagi dengan nada serius namun tidak mengurangi kelembutannya.


Kanaya nampak bimbang. Haruskah ia memberi kesempatan pada pria yang telah membohongi dirinya? Ataukah menjadi wanita yang tidak memperdulikan perasaan orang yang sudah menolongnya selama ini dari hutang yang ditangguhkan kepadanya? Jika tidak, pasti dirinya akan menjadi budak para lelaki hidung belang tersebut.


Kanaya benar-benar berada di posisi yang sulit saat ini. Ingin ia menjadi wanita yang egois dan menghiraukan perasaan penolongnya. Namun nyatanya, sisi baik dari dalam dirinya memperdebatkan itu semua.


"Nay ... beri aku kesempatan satu kali lagi, dan kalau memang kamu masih tidak mempunyai perasaan kepadaku, aku yang akan melepasmu. Menjamin hidupmu akan tenang dari gangguan kehadiranku," desak Arkha mencoba meyakinkan Kanaya perihal perasaannya yang tulus kepada wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2