
Tanpa terasa prosesi akad pun selesai digelar. Para tamu undangan yang hadir, silih berganti meninggalkan kediaman keluarga Burrack yang bagaikan istana tersebut. Kini Arkha dan Kanaya telah resmi menjadi sepasang suami istri. Baik itu secara hukum, ataupun secara keyakinan mereka.
Sang mempelai pria tidak hentinya mengulas senyumannya kepada para sanak saudara Kanaya yang hadir, dan juga keluarganya yang memang dipersilahkan untuk menginap di kediaman keluarga Burrack. Meskipun sebenarnya merek mempunyai rumah dan hotel di kota ini. Akan tetapi Gladio tetap memaksa mereka agar mau menginap di rumahnya malam ini. Karena dia ingin lebih dekat lagi dengan keluarga Arkha.
"Nggak usah dilihatin seperti itu. Dia tidak akan kabur-kabur lagi," seloroh Revald yang juga datang diacara pernikahan Arkha. Sontak saja mereka yang ada di ruangan santai kediaman keluarga Burrack, tertawa mendengar ejekan dari sahabatnya Arkha tersebut. Karena mereka juga tahu jika Kanaya pergi meninggalkan Arkha setelah menghabiskan malam bersama.
"Ternyata begini rasanya punya istri, Vald. Memandangnya saja sudah membuat kita kenyang. Nggak ingin jauh-jauh rasanya," balas Arkha tanpa menatap ke arah Revald. Tatapannya menuju sang istri yang terlihat malu-malu. Begitu sangat menggemaskan di matanya. Sedangkan dirinya tak henti-hentinya mengulas senyum di bibirnya.
Sementara Kanaya hanya bisa menundukkan kepalanya. Karena ucapan suaminya, kini dirinya menjadi pusat perhatian dan bahan ejekan dari para orang yang berada di sana.
"Benar, Vald. Kamu kapan nikahnya? Jangan mau ngurusin perusahaan Arkha terus. Dia yang bertambah kaya, sedangkan kamu bertambah tua dan tidak laku nantinya," sahut Erlangga diiringi gelak tawanya yang tertahan. Karena jemari sang istri diam-diam mendarat di pahanya.
"Maklum lah, Kak. Dia kan pria jomblo yang hakiki. Sedari kenal dengan Revald, aku belum pernah melihat dia menjalin kasih dengan wanita. Atau mungkin memang benar kamu mempunyai kelainan, Vald?" Sahut Arkha. Kali ini dirinya yang menyerang balik atas ejekan yang di lontarkan oleh sahabatnya tersebut.
__ADS_1
"Apa mau aku buktikan?" Tantang Revald menatap Arkha dengan tatapan permusuhan.
Kemudian Revald berdiri, lalu melangkahlan kakinya menuju dimana Kanaya berada. Hal selanjutnya yang dilakukan Revald membuat semua orang tercengang. Termasuk Arkha sendiri. Pria itu meraih tangan Kanaya yang bebas, karena yang satunya lagi dipegang erat oleh suaminya.
"Ayo, Nay. Kita buktikan," ucap Revald tanpa merasa bersalah sedikit pun. Sedangkan Kanaya terlihat bingung dibuat sahabat suaminya ini.
Tentu saja, perbuatan Revald yang lancang itu membuat dirinya mendapat sebuah tendangan dari Arkha di kakinya. Pria yang baru sah menjadi seorang suami tersebut tersulut emosi dengan candaan dari sahabatnya.
"Mau aku bikin sosis bakar, itumu?" Sungut Arkha berkata dengan intonasi nada yang tinggi. Sedangkan semua orang yang berada di sana hanya tertawa saja melihat pertikaian diantara mereka berdua.
Gladio merasa senang, karena malam ini rumahnya terasa ramai, meskipun acara akad sudah berakhir. Ia tidak menyangka jika keluarga Arkha semenyenangkan seperti ini.
"Bagaimana kalau kamu aku carikan wanita di sini?" usul Gladio tiba-tiba kepada Revald. Membuat semua orang mengalihkan perhatiannya kepada pria tua itu. Lebih-lebih lagi Revald. Pria itu nampak memucat seketika. Karena dia akan merasa sungkan jika menolaknya. Revald tahu, Gladio itu siapa. Orang yang mempunyai pengaruh besar di negara ini.
__ADS_1
"Ah, itu...," Revald tidak tahu harus berkata seperti apa lagi.
"Kha, berikan Revald kepada Kakek. Biar dia diangkat menjadi anak dari Lilliana dan Philip, " ucap Gladio tanpa mereka duga. Terlebih lagi Revald sendiri. Dengan seenaknya pria tua itu berkata seolah dirinya adalah sebuah barang.
"Kalau itu bukan wewenang Arkha, Kek. Kakek tanyakan sendiri sama orang yang bersangkutan." balas Arkha yang tidak mau ikut campur dalam permasalahan yang Revald hadapi kali ini. Memang benar-benar teman nggak ada akhlak.
"Ya sudah, kalau begitu aku masuk ke kamar dulu sama Naya. Mau menikmati malam kedua," ucap Arkha yang memilih mengindar, membiarkan Revald menghadapi Gladio sendirian. Tidak lupa pula Arkha melemparkan senuah senyuman tertahannya pada Revald. Membuat Revald ingin menghajar sahabatnya itu.
"Kok malam kedua, Kha? Bukannya dimana-mana itu malam pertama ya?" Sahut Arjun, papanya Arkha yang sedari tadi memilih diam dan tidak ikut dalam perbincangan mereka.
"Malam pertamanya udah dicicil duluan, Pa. Kayak Kak Yuta dulu," jawab Arkha yang kemudian meninggalkan mereka semua di ruang santai tersebut, dengan menarik lembut Kanaya menuju kamar wanita yang baru saja berstatus sebagai istrinya.
Sedangkan Arjun nampak memikirkan ucapan anak bungsunya tersebut. Sedangkan Erlangga, Yuta, Diana, Darren, dan Karina hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Arkha.
__ADS_1
~Bersambung~
Cieeee yang nungguin malam kedua Bang Arkha😂. Tenang, aku kasih nanti malam. Jam 9 an ya🤭 Biarkan para bocil tidur dulu. Tapi kalo nggak Dusta💃🏻💃🏻