
Setelah De menyampaikan niat baiknya, pria itu lebih dulu pamit, karena dia ingin memberikan waktu pada keluarga kecil itu untuk membicarakan tentang Riana. De mengusak puncak kepala Cyara dengan sayang, sebelum dia keluar dari ruangan.
"Kalau butuh apa-apa, datang saja ke ruanganku," ucap pria berjambang lebat itu. Sebenarnya itu bukanlah sebuah tawaran, melainkan perintah agar Cyara datang setelah mereka selesai bicara.
Namun, pria super duper gengsi itu tidak mungkin berbicara langsung pada intinya. Dia hanya memberi kode, berharap sang kekasih mengerti.
Cyara menganggukkan kepala. "Moo pasti datang, jadi Poo harus menunggu."
Andrew dan Clarissa saling tatap, mereka melempar senyum melihat kelakuan dua sejoli itu. Di mata Andrew, De terlihat tulus dengan putrinya, ditambah umur pria itu sudah dewasa, De pasti bisa mengimbangi sikap kekanakan Cyara.
De sudah keluar dari ruangan itu, tetapi senyum di bibir Cyara belum juga pudar. Dia terlihat lebih ceria dari biasanya, membuat Andrew pun merasa bahagia.
"Anak Daddy sudah besar-besar yah ternyata, yang satu ini bahkan sudah menyukai seorang pria dan berencana untuk menikah," ujar Andrew, Cyara dan Clarissa kompak terkekeh, mereka kembali duduk di antara dua sisi tubuh pria paruh baya itu.
"Tapi semakin bertambahnya umur, aku malah takut," ungkap Cyara, tiba-tiba wajahnya berubah sendu, dia menggenggam tangan Andrew dengan bibir yang mengerucut.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Aku takut Daddy semakin tua, aku tidak ingin kehilangan Daddy, cukup Mommy saja."
Bola mata Cyara berkaca-kaca, dia menunduk dan mulai terisak. "Berjanjilah untuk terus di samping Cia sampai kapanpun. Walaupun nanti Cia sudah memiliki keluarga baru, tapi Daddy, Cla, dan Bunda tetaplah segalanya. Cia ingin kita selalu bersama."
Clarissa tidak dapat menahan air matanya, dia memalingkan wajah dengan bulir bening yang sudah meluncur deras. Sementara Andrew hanya bisa tersenyum, meski batinnya pun ikut merasa haru.
Andrew mencoba mengangkat dagu Cyara, lalu setelah itu tangannya menggenggam tangan kedua anak gadisnya. "Percayalah, Daddy tidak akan ke mana-mana, simpan Daddy di hati kalian, maka selamanya kita akan bersama. Daddy akan terus menemani Cia dan Ara, jika perlu mengorbankan nyawa, Daddy akan siap melakukannya. Dan untuk Bunda Anna, ingat, jangan pernah membenci dia seburuk apapun masa lalu itu, kalian harus percaya bahwa dia melakukan itu semua untuk melindungi kita ...."
"Bunda adalah orang baik, Daddy mencintainya seperti Daddy mencintai Mommy Cia, jadi Daddy tidak akan pernah membeda-bedakan kalian. Kalian putri Daddy, dan Daddy adalah ayah kalian, jika kalian memiliki masalah yang memang bisa diceritakan, ceritakan pada Daddy, meski kalian sudah menjadi seorang ibu sekalipun."
Tak berbeda jauh dengan Clarissa. Sumpah demi apapun, dia sangat bersyukur, dia merasa menjadi manusia yang beruntung karena memiliki ayah sambung seperti Andrew.
Bahkan di saat dia membenci tindakan Riana. Andrew yang telah dikhianati dengan mudah memaafkan dan mau mendengarkan penjelasan ibunya. Kenapa dia yang sebagai tidak bisa? Kenapa dia hanya mengandalkan emosi sesaatnya?
"Sudah jangan menangis, dari Daddy bangun sampai sekarang lagi-lagi kalian seperti ini, Daddy bosan tahu, Daddy bangun karena ingin tertawa bukan disuguhi air mata!" protes Andrew, ia berusaha menenangkan kedua putrinya.
"Itu salah Daddy, kenapa setiap Daddy bicara selalu pakai perasaan? Kita kan jadi baper," timpal Cyara dengan sesenggukan.
__ADS_1
"Hei, siapa yang mulai duluan?"
"Tentu saja Daddy!"
"Lho kenapa Daddy?"
"Karena Daddy seorang pria," timpal Clarissa sambil mengusap air matanya.
Andrew terlihat kebingungan. Dia menatap Clarissa dan Cyara secara bergantian untuk meminta jawaban. "Memangnya kenapa dengan seorang pria?"
*
*
*
"Pria itu selalu salah!" kompak keduanya.
__ADS_1