
Malam datang, suasana pantai yang sudah tampak gelap, diterangi oleh cahaya bulan dan bintang yang menggantung indah di atas sana. Hamparan air membentang luas, sesekali ombaknya berlarian dan saling mengejar.
Sementara di daratan, butiran pasir terlepas, terbawa air yang naik dan menariknya untuk turun bersama.
Sementara kedua sejoli itu masih berpagut mesra, menyisakan siluet yang begitu indah. Mereka hanyut bersama angin yang meliuk di udara. Menyisakan semilir yang berhembus merdu, dan juga mendayu begitu manja.
De baru menurunkan tubuh Cyara, setelah mereka sama-sama puas, karena berciuman begitu lama.
"Apa kamu sudah sangat lapar?" tanya De seraya menyelipkan anak rambut Cyara yang terbang ke sana ke mari, mengikuti hembusan angin.
Cyara mengembuskan nafas, dia masih sedikit terengah sisa ciumannya bersama dengan De.
"Iya, Poo, aku benar-benar lapar."
"Kalau begitu ayo kita makan malam, aku sudah siapkan semuanya untukmu," ujar De, seraya menautkan jari jemari mereka. Dia menggenggam erat tangan Cyara.
"Benarkah? Kamu menyiapkan apalagi, Poo?"
"Nanti kamu juga tahu, Moo."
Kini De sudah mulai menarik tangan Cyara agar mereka melangkah. Cyara mengulum senyum, begitu takjub dengan perubahan sikap suaminya. Kenapa De terlihat sangat manis sekarang, Cyara harap De akan terus seperti itu hanya pada dirinya.
"Aku senang, karena selalu mendapat kejutan darimu."
__ADS_1
"Harus! Karena aku memang ingin membahagiakanmu setiap waktu. Jadi berjanjilah untuk selalu di sampingku, meski kelak dunia tak berpihak pada kita."
Cyara mengangguk sambil mengulum senyum tipis. Merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia ini, karena mendapatkan suami seperti De.
Ternyata di balik sikap dingin pria itu, ada ribuan kehangatan yang tersimpan. Dan sekarang, entah sudah kehangatan nomor berapa yang De suguhkan untuknya.
Mereka terus melangkah, hingga kedua kaki Cyara tiba-tiba berhenti. Sebab gadis itu hanya bisa menatap takjub pada satu objek di depan sana. De benar-benar menyiapkan semua ini dengan begitu sempurna.
"Ayo jalan, Moo!" ajak De, melihat Cyara mematung di ujung karpet merah yang sudah terinjak kakinya.
Rasanya gadis itu ingin menangis, dia terharu sekali dengan momen romantis ini, momen yang tidak akan pernah dia lupakan untuk seumur hidup.
"Cih, kamu ini benar-benar yah! Aku tidak mengerti kenapa kamu bisa berubah seperti ini," rancau Cyara dengan sesenggukan, bahkan tangan langsingnya beberapa kali memukul dada bidang De.
"Kenapa, Moo? Kamu tidak suka yah? Aku salah? Aku hanya—"
"Aku gemas, aku terharu, kenapa kamu bisa semanis ini? Bukankah dulu kamu adalah pria yang kaku? Bukankah dulu kamu itu galak, dan selalu memarahiku? Dan sekarang, kamu lihat? Apa aku bisa percaya ini kamu? Ini benar-benar kamu 'kan, Om?"
Cyara menangkup kedua sisi wajah De, sementara pria itu sudah tersipu. Ah, tidak! Telinganya pasti merona.
"Kamu tidak percaya ini aku?"
__ADS_1
"No! I don't believe."
De terkekeh, lalu menggigit pipi Cyara hingga gadis cantik itu menjerit.
"Aw, sakit!" keluhnya dengan dengan bibir mencebik.
"Bagaimana? Apakah kamu sudah percaya kalau semua ini nyata? Dan ini adalah aku, De, suamimu?"
Cyara bergeming, dia menatap dua bola mata biru di depannya. Hingga akhirnya dia menggeleng kecil. "Gendong aku sampai ke sana, baru aku akan percaya."
De langsung mengembangkan senyum, dia mengusak puncak kepala Cyara karena merasa sangat gemas.
Tanpa ba bi bu De mengangkat tubuh Cyara dan menggendongnya ala bridal style. Dua kaki jenjang itu menapaki karpet merah dengan sorak-sorai angin pantai, semua yang ada di sana seolah menjadi saksi bagaimana De mencintai wanita yang ada di gendongannya ini.
"Aku bosan mengatakan ini, kamu cantik."
Blush!
Pipi Cyara langsung berubah warna seketika.
***
__ADS_1
Gue mah pegangan uler ajalah, ga usah digendong 🥱🥱🥱