Gadis Kecil Om Dokter

Gadis Kecil Om Dokter
Moo&Poo #30


__ADS_3

Pagi harinya. Cahaya matahari mulai membias di antara celah jendela kamar masing-masing. Sementara kicau burung bagai alarm yang membangunkan semua orang, membuat satu persatu makhluk bumi bangkit dari atas ranjang.


Akan tetapi tidak dengan De dan Cyara, sebab mereka hanya menggeliat, kemudian mencari kehangatan dengan saling memeluk satu sama lain. Percuma saja Cyara meminjam baju Eliana, sebab piyama tidur itu malah teronggok di lantai, seolah tidak dibutuhkan.


Semua keluarga diingatkan untuk sarapan bersama di lantai bawah. Padahal terlihat jelas dari wajah-wajah mereka, bahwa sesungguhnya mereka malas untuk beranjak keluar dari kamar. Apalagi bagi mereka yang telah melewatkan malam panas bersama pasangan masing-masing.


"Poo, aku lapar, tapi malas keluar," gumam Cyara dengan suara serak, mulutnya mungkin berbicara tetapi ia masih senantiasa memejamkan mata. Dia lelah karena semalam De mengajaknya untuk bertempur di acara pagelaran tanpa busana.


"Nanti kita sarapan di kamar saja, Moo," balas De, sama seperti Cyara , dia pun masih betah berlama-lama memejamkan mata sambil memeluk istri kecilnya.


Dan akhirnya mereka kembali tertidur pulas, hingga tak terasa matahari mulai memanas dan naik ke atas singgasana. Pukul 10 pagi, De menggeliat seraya menguap, mengusir kantuk yang terus melanda dirinya. Dia mengerjap beberapa kali, menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam indera penglihatannya.


Pemandangan pertama kali yang ia lihat adalah wajah cantik Cyara, lalu turun pada buah dada yang terlihat semakin membesar itu. De tersenyum, mulutnya yang nakal lantas merayap untuk meraih pucuk dada Cyara.


Menyesap dengan penuh kelembutan hingga wanita itu menggeliat merasakan sensasi menggelitik dan juga basah.


Alis Cyara menaut, sementara sesapan De semakin terasa nyata. Akhirnya dengan terpaksa dia membuka mata dan melihat kelakuan suaminya.


"Astaga, Poo! Kamu ini sedang apa?" ketus Cyara sambil berusaha untuk mengangkat kepala De. Akan tetapi pria itu sama sekali tak berpindah.

__ADS_1


"Aku haus," ucapnya kemudian kembali menyesap sesuka hati hingga membuat Cyara mendesaah.


"Haus itu minum, bukan seperti ini—ah!" Wanita itu mulai mengeluarkan suara, hingga melengkungkan tubuhnya.


"Ini haus yang lain, Moo."


De mengangkat tubuhnya, lalu menindih Cyara seperti semalam. Pagi-pagi seperti ini Cyara memang sudah terbiasa meladeni ular suaminya. Akhirnya dia pun kembali pasrah, saat pria berjambang lebat itu membawanya ke nirwana untuk yang kesekian kalinya.


"Sekali saja, Poo, aku sudah lapar," pinta Cyara saat De terus mengentak tubuhnya dengan hentakan yang cukup keras. De tidak terlalu fokus dengan ucapan istrinya, tetapi dia paham bahwa Cyara membutuhkan asupan tenaga.


"Sebentar lagi aku akan mendapatkannya, bersuara lah lebih keras!" ujar De, dan Cyara langsung patuh pada ucapan suaminya. Dia mendesaah kencang, dan ikut bergerak seirama dengan pinggul De.


Detik selanjutnya, De langsung mencabut diri dan memuntahkan lahar hangatnya di perut sang istri. Sesuatu yang selalu ia lakukan agar benihnya tidak jadi.


"Tidak mau, Poo! Aku maunya ayam yang paha, kalau tidak ada aku tidak mau makan," ketus Cyara dengan bibir mencebik dan kedua tangan yang melipat di depan dada.


"Sayang, biasanya juga kamu makan bagian yang mana saja. Kenapa sekarang pilih-pilih?"


"Ih, pokoknya aku tidak mau sayap. Maunya paha, paha, paha!" rengek Cyara, ia sudah seperti seorang bocah yang meminta mainan pada ayahnya.

__ADS_1


De menghela nafas kasar. Kemudian mengajak Cyara bangkit dari ranjang. "Kalau begitu ayo pergi!"


"Ke mana?"


"Katanya mau paha."


Mendengar itu, Cyara langsung berwajah sumringah. Dia pun mengangguk dan mengikuti langkah suaminya. Akan tetapi setelah mendapatkan apa yang dia mau, De tidak langsung membawa Cyara pulang ke rumah.


"Poo, untuk apa kita ke rumah sakit?" tanya Cyara menatap aneh pada suaminya.


"Ada yang perlu kita periksa."


De hanya mengatakan itu, dan terus menggandeng tangan Cyara untuk pergi ke dokter kandungan. Dia curiga, bahwa Cyara telah mengandung buah hati mereka.


"Lho, Sayang, ini ada apa?" Cyara merasa heran saat dirinya dipaksa berbaring di atas brankar.


"Sudah, jangan banyak bertanya. Lebih baik kita langsung periksa saja."


Sang dokter kandungan yang ada di rumah sakit itu tersenyum. Kemudian mulai memeriksa Cyara sesuai prosedur. Dan senyumnya semakin mengembang, begitu mengetahui bahwa ada janin yang tumbuh di rahim pasiennya.

__ADS_1


"Tebakan anda benar, Tuan, istri anda sudah hamil, diperkirakan usianya sudah masuk 15 minggu."


"Hah? 15 Minggu?"


__ADS_2