
"Dia Cyara, calon istriku, Mommy."
Prank!
Satu piring buah yang sudah dipotong-potong jatuh berhamburan di lantai. Terkejut? Sudah pasti, anak lelakinya yang belum pernah membawa seorang wanita pun ke rumah, kini memperkenalkan seorang gadis dengan status calon istri. Siapa yang tidak akan terperangah mendengar pengakuan De saat ini?
Zoya menatap Cyara, gadis manis yang mulai menunduk. Dia sedikit menggeleng. "De, bisa kamu jelaskan pada Mommy?" Ucap Zoya, masih belum bisa percaya.
De sedikit merasa was-was dengan reaksi ibunya, apakah Zoya akan marah karena melihat Cyara yang terlalu muda? Atau ia hanya terkejut sampai sesuatu yang ada di tangannya terlepas begitu saja.
"Itu sudah sangat jelas, Mommy, dia Cyara, calon istri De," ulang pria berjambang lebat itu, dia menatap lekat ibunya yang terlihat menelan ludah.
Tiba-tiba senyum terbit dari bibir wanita hamil itu. Zoya semakin menatap lekat pada Cyara, seperti dejavu dia teringat dengan masa mudanya dulu. Masa di mana dia dan Ken menjalin hubungan dengan jarak usia yang terpaut sangat jauh.
Namun, semua itu tidak menghalangi jalan cinta mereka. Buktinya sampai sekarang mereka tetap bersama, bahkan dia akan kembali melahirkan untuk yang kedua kalinya.
"Kamu tidak bohong, Sayang?" tanya Zoya sekali lagi, dia melangkah semakin dekat, sementara Cyara bertambah menunduk, dengan meremass ujung roknya. Dia cemas.
"Tidak, Mommy, dia memang benar-benar calon menantumu, cantik 'kan?" De langsung membanggakan gadis yang berada di sampingnya, hingga diam-diam pipi Cyara merona. Ah, ini adalah pertama kalinya De memujinya cantik, tapi kenapa? Kenapa harus di depan calon mertuanya?
Zoya sontak mengangguk, senyumnya bertambah mengembang seiring uluran tangannya. "Halo, Cyara, kenapa kamu menunduk seperti itu? Aku Zoya, ibunya De, kamu tidak perlu takut, aku tidak akan menggigit." Ucap Zoya sambil terkekeh, mencoba mengakrabkan diri dengan calon menantunya.
"Sayang, ayo angkat kepalamu!" Sial, kenapa De harus bersikap semanis ini di saat dirinya merasa gugup, bahkan jantungnya sedari tadi jedag-jedug tidak karuan. Pelan, Cyara mengangkat kepalanya, hingga dia kembali melihat wajah Zoya.
Wajah yang membuatnya terkejut, sebab ibu dari pria yang dicintainya terlihat masih muda. Bahkan mungkin Zoya lebih cocok dijadikan kekasih atau seorang kakak.
__ADS_1
Dia melirik De sekilas, pria itu terlihat tersenyum sumringah.
"Aku Cia, Tante," jawab Cyara, dia menerima uluran tangan Zoya dan berusaha untuk tersenyum. Namun, detik selanjutnya Cyara dibuat tersentak karena Zoya menarik dan memeluk tubuhnya dengan erat.
"Kamu gadis yang hebat, hanya kamu yang bisa meluluhkan hati De yang sekeras batu. Kamu tahu? Kamu adalah wanita pertama yang dibawa dan dikenalkan pada Mommy," ungkap Zoya kegirangan, dia menggerakkan tubuhnya ke sana ke mari, hingga Cyara pun ikut bergerak.
"Benarkah, Tante?"
"Tentu saja." Zoya menarik tubuhnya dan melihat wajah Cyara yang terlihat sangat manis. "Setelah ini, kamu harus bercerita tentang pertemuanmu dengan De, ayo sekarang kita kenalan dengan calon ayah mertuamu dulu, dia ada di kamar."
"Apa ayah mertua sedang istirahat? Kalau iya, biar aku menunggunya."
"Tidak Cia Sayang, dia hanya sedikit tidak fit."
"Mommy, kenapa aku tidak ajak?"
Langkah kaki dua wanita berbeda generasi itu berhenti, mereka kompak menoleh. "Kamu kan punya kaki De, tinggal berjalan apa susahnya!" Ketus Zoya, lalu dia kembali menggandeng tangan Cyara.
Lihat, dia malah diabaikan. De mendesaah kecil, lalu mengekor pada Zoya untuk masuk ke dalam kamar kedua orang tuanya.
Di dalam sana, Ken terbaring lemas karena masih mengalami tri semester pertama kehamilan simpatik istrinya. Zoya mengajak Cyara hingga mereka berdiri di sisi ranjang, Zoya lebih dulu duduk dan membangunkan Ken yang kala itu tertidur.
Cyara kembali menelan ludah saat melihat wajah Ken. Entah sejauh apa perbedaan usia antara Zoya dan pria paruh baya itu. Ternyata cinta memang membutakan segalanya.
"Sayang, ayo bangun dulu, De ingin memperkenalkan seseorang pada kita," ucap Zoya sambil mengusap lembut dahi Ken, bukannya bangun pria itu malah melingkarkan tangannya di perut Zoya.
__ADS_1
"Aku lemas, Baby, kamu temani aku tidur saja yah." Ken masih menutup kedua matanya, tetapi indera penciuman pria itu mulai mengendus aroma lain.
"Sayang, orangnya sudah ada di sini, ayo buka matamu." Zoya melirik Cyara yang bergeming sambil memperhatikan interaksi mereka. Wanita itu tersenyum, seolah mengisyaratkan kata maaf.
Mendengar itu, Ken mulai membuka kelopak matanya. Hingga dia bisa melihat wajah Zoya yang duduk di sampingnya. Dia memajukan bibir, Zoya langsung mematuk dan meminta Ken untuk bangkit. "Ayo bangun, kamu pasti akan terkejut."
Kening Ken mengeryit, dia mencoba untuk duduk hingga pandangannya bisa melihat seisi kamar, termasuk dua orang yang berdiri berdampingan, sang anak dengan seorang gadis yang terlihat masih sangat muda.
"Baby, apa maksudnya?"
De mengajak Cyara untuk mendekat ke arah Ken. Pria itu langsung merangkul bahu Cyara dan memperkenalkan gadis itu. "Calon istriku, Daddy."
Mata Ken langsung membola, Cyara mengulurkan tangan lebih dulu untuk memperkenalkan diri, tetapi Ken bergeming—membuat Zoya mengernyit heran.
"Hubby."
Detik selanjutnya, Ken malah berlari ke arah kamar mandi dan langsung memuntahkan kembali isi perutnya.
Huwek!
"Astaga!"
***
Nyusahin ya Pak Tua ini 🙄🙄🙄
__ADS_1