Gadis Kecil Om Dokter

Gadis Kecil Om Dokter
Kecemasan De


__ADS_3

"Kudek!" panggil De untuk kesekian kalinya. Kaki jenjang itu melangkah ke arah kamar Cyara, sebab gadis itu tidak terlihat di mana-mana.


Bahkan saat De berteriak kencang pun Cyara tak menyahut. Membuat pikiran De mendadak kacau.


"Kudek, buka! Jangan mengajakku bercanda!" teriak De sambil menggendor pintu, tetapi sumpah demi apapun tidak ada suara apapun di sana, selain kesunyian.


Perasaan cemas itu semakin mendera. Sebab De sudah hulu-hilir mencari keberadaan Cyara. Dia sengaja datang membawakan makan siang untuk gadis itu, tetapi entah pergi ke mana Cyara, sebab sudah dua hari ini Cyara keluar apartemen tanpa meninggalkan pesan apapun pada De.


De terlihat kalang kabut, apa dia terlalu lengah hingga Cyara tertangkap oleh pamannya?


"Astaga, ke mana dia sebenarnya?" gumam De, dia menggerakkan kenop pintu, dan ternyata tidak dikunci sama sekali. De mendorongnya hingga benda persegi panjang itu sukses terbuka.


De menelisik suasana di dalam ruangan tersebut. Dan ia hanya melihat ranjang yang kosong. Tidak ada tanda-tanda Cyara, dia malah semakin merasakan keheningan yang menyapa dadanya.


Namun, De tidak menyerah, dia segera berlari ke arah kamar mandi dan jawabannya sama saja. Pria berjambang lebat itu berubah semakin panik. Ia keluar dan berlari ke bawah untuk menanyakan pada pihak keamanan.

__ADS_1


"Ke mana sebenarnya gadis itu?! Bisa-bisanya dia pergi tanpa minta izin dariku."


Dengan nafas terengah-engah, De menghampiri satu orang yang tengah berjaga. Dia hendak menanyakan tentang Cyara, tetapi sebelum itu terjadi kedua netra De melihat tubuh mungil dengan stelan serba hitam berjalan memasuki lobby.


Dan hal itu sukses mengurungkan niat De, pria itu yakin dia adalah Cyara. Dugaan De semakin diperkuat dengan Cyara yang membuka masker dan topinya.


Di sana kekesalan dalam diri De muncul, bisa-bisanya Cyara pergi tanpa memberitahu apapun padanya. Bahkan ia masih bisa berjalan dengan santai, sementara ia sudah panik, takut Cyara ditangkap oleh Austin tanpa sepengetahuan dirinya.


Namun, satu yang tidak De sadari bahwa wajah Cyara terlihat dingin, sebab gadis itu masih sangat marah. Dia kecewa, mengetahui fakta bahwa orang-orang terdekatnya adalah musuh yang sebenarnya.


"Om!" sentak Cyara, tetapi De memilih tidak peduli, dia terus menarik lengan Cyara dan baru melepaskannya saat mereka sampai di apartemen.


Pergelangan itu terlihat memerah, karena De yang sudah mencemaskan Cyara. Akal sehatnya tidak bisa diajak berpikir hingga De menatap tajam gadis itu.


"Aku sudah berbaik hati padamu, tapi apa kamu tidak bisa menghargai kebaikan orang lain?! Aku memberikan semua yang kamu butuhkan, tapi hanya satu pesan kamu tidak mampu untuk mengirimnya?"

__ADS_1


"Sesempit apa waktumu, sampai meluangkan hal seperti itu saja tidak bisa!? Kamu tahu aku mencarimu ke mana-mana? Kamu tahu dari tadi aku mencemaskanmu, tapi orang yang aku cemaskan malah terlihat santai berjalan di depanku?"


"Pikiranmu itu ke mana, hah?" bentak De sambil meremat tangannya yang terkepal di bawah sana.


"Oh, aku tahu kamu bertanya aku akan sering datang ke mari atau tidak karena kamu ingin bebas? Kamu ingin menikmati semua ini tanpa ada gangguan dariku, seperti itu?" rancau De yang sudah diselimuti api amarah.


Dia sedang menguapkan semua rasa kesal akibat mencemaskan Cyara. Tangannya beralih bertolak pinggang dengan otak yang tak habis pikir. Bagaimana bisa Cyara pergi begitu saja, tanpa memikirkan dirinya.


"Kamu tahu waktuku terbuang sia-sia hanya untuk meladenimu? Sekarang aku tanya habis ke mana kamu, sampai kamu tidak mau aku tahu?!" sentak De dengan suara yang begitu menggema.


Bahkan membuat bahu Cyara berjengit saking kagetnya. Namun, bukannya merasa bersalah karena sudah keluar tanpa izin dari De. Cyara yang sedang merasa kesal pun malah berbalik menatap tajam.


"Kamu tahu apa akibatnya keluar dengan sembarangan, kamu harusnya berpikir—"


"CUKUP! Aku bukan anak kecil, aku tahu apa yang harus lakukan! Dan Om tidak akan pernah mengerti, apa yang aku lalui!!!" bentak Cyara tak kalah menggebu, lantas setelah itu ia memilih berlari ke arah kamar dengan menangis.

__ADS_1


Cyara tak peduli pada De yang terus menatapnya, bahkan ia menutup pintu dengan begitu kencang. Menyuarakan amarah yang meletup di dadanya.


__ADS_2