
Choco masih berlari sambil menggenggam tangan Clarissa. Dia terus terkekeh karena tak dapat membayangkan bagaimana wajah adik kembarnya yang berhasil ia ganggu. Salah siapa berciuman di tempat umum?
Bikin hati jomblo seperti dirinya meronta-ronta saja.
Sementara di belakang pria itu, Clarissa hanya bisa mengikuti langkah kaki Choco. Gadis manis itu sama sekali tidak berani membantah, apalagi bertanya.
Choco baru mengurangi laju kakinya begitu mereka sudah cukup jauh dari posisi De dan Cyara. Pria itu menoleh sekilas ke arah Clarissa yang terlihat terengah-engah.
Lalu pandangan matanya turun ke arah tangan yang saling menggenggam itu, "eh maaf-maaf, aku tidak sengaja tadi. Kamu capek yah aku ajak lari-lari?" tanya Choco mencairkan suasana yang tiba-tiba terasa canggung.
Clarissa menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya secara perlahan. Dia terus seperti itu hingga dia sedikit lebih tenang. "Tidak apa-apa, Tuan, aku hanya terkejut, dan jujur saja aku kesulitan untuk mengimbangi langkahmu karena aku memakai heels."
Gadis itu tertunduk dengan pipinya yang merona, kejujuran itu membuatnya merasa sedikit malu.
Mendengar itu, Choco pun gelagapan dia melihat ke bawah di mana kaki Clarissa yang memakai heels cukup tinggi, pria tampan itu terlihat garuk-garuk kepala. "Astaga, aku benar-benar lupa. Sekali lagi maafkan aku."
Choco melihat sekitar, di dekat mereka ada sebuah taman yang dibuat di tengah-tengah mansion. "Ayo ke sana, biar aku periksa kakimu siapa tahu ada luka." ajak Choco sambil menunjuk kursi besi yang tersedia.
"Aku tidak apa-apa, Tuan, kakiku masih bisa berjalan," tolak Clarissa merasa tak enakan. Namun, Choco malah kembali menarik lengannya. Hingga dia hanya bisa pasrah.
Dia dengan terpaksa mengikuti langkah kaki pria yang sangat mirip sekali dengan kekasih adik tirinya.
__ADS_1
Hanya saja, Choco memiliki jambang yang tipis, paling tipis dari pada yang lainnya. Hingga pria itu terlihat paling muda.
Kedua orang berbeda jenis kelaminn itu duduk berdampingan. Choco langsung menunduk untuk membuka heels yang Clarissa kenakan, tetapi gadis itu langsung menghentikan niatnya.
"Tuan, tidak perlu, biar aku saja. Kalau kamu bersikap seperti itu, aku malah merasa tidak enak," ujar Clarissa dengan sedikit menggigit bibir bawahnya, Choco memerhatikan benda ranum itu, terlihat merah dan menggoda.
"Baiklah, kamu saja yang buka, aku hanya ingin memeriksanya. Kalau memang lecet, nanti aku akan pergi ambil obat dan sandal yang nyaman untukmu," jelas pria itu, mengalihkan otak dan pandangan matanya dari sesuatu yang belum semestinya.
"Memangnya Tuan punya sandal wanita?" tanya Clarissa dengan tersenyum tipis.
"Bukan punyaku, tapi punya Mommy."
Sebuah jawaban yang membuat Clarissa terkekeh, Choco merasa heran dengan gadis ini, kenapa bisa menunjukkan wajah semanis itu di hadapannya.
"Yah, koleksi sandal Mommy kan banyak, kalau aku ambil satu itu tidak akan menjadi masalah. Dan ingat, jangan memanggilku Tuan, panggil saja kakak."
"Kenapa begitu?"
"Haish, aku ini masih muda, tampan dan juga pintar. Panggilan Tuan hanya untuk mereka para pengusaha yang sudah memiliki perut buncit dan juga beruban."
Clarissa semakin tidak tahan, kekehannya terdengar keras hingga ia menutup mulut. "Baiklah, aku akan patuh. Mulai sekarang aku akan memanggilmu Kakak. Kakak siapa?"
__ADS_1
"Choco."
"Iya, Kak Choco," ulang Clarissa dengan tersenyum manis.
Untuk beberapa saat, keduanya hanya bisa saling tatap dengan arti yang entahlah. Hingga Choco mulai tersadar, dia sedikit membuang nafas kasar, lalu kembali menundukkan kepalanya.
"Aku akan periksa kakimu," kata Choco dengan sedikit terbata.
Clarissa hanya mampu bergeming, dia membiarkan Choco memeriksa kakinya dengan seksama. Pria itu mulai bersuara begitu melihat robekan kulit yang terlihat sangat kecil. "Kakimu terluka sedikit."
"Ya sudah, biarkan saja. Tidak terlalu terasa kok."
"Benar?"
Clarissa mengangguk cepat, dan melihat itu Choco langsung bernafas dengan lega.
"Oh iya, untuk yang di meja makan, jangan terlalu dianggap serius, Mommy hanya bercanda," ucap Choco meluruskan ucapan ibunya. Dia hanya tidak ingin Clarissa berpikir yang tidak-tidak.
*
*
__ADS_1
*
"Kalau serius pun tidak apa-apa. Kan kita tidak tahu ke depannya bagaimana."