Gadis Kecil Om Dokter

Gadis Kecil Om Dokter
Bagai Anak Itik


__ADS_3

Cyara sudah tampak rapih. Dia keluar dan menemui De yang duduk di sofa tak jauh dari kamarnya. Kaki gadis itu bergerak riang, lalu berdiri tepat di depan pria berjambang lebat itu dengan senyum ceria.


"Aku sudah siap, Om," ucap Cyara dengan berkedip dari balik kacamata hitam yang dipakainya.


De melongo melihat penampilan Cyara yang begitu tertutup bagai kue tradisional yang dibungkus daun pisang. Sebab hampir tidak ada celah yang dapat ia lihat. Dari atas sampai bawah, hanya telapak tangan saja yang dibiarkan terbuka.


"Hei, kamu ini mau pergi berbelanja atau mau pergi ke kutub utara?!" cetus De, seraya bangkit dan terus menelisik penampilan Cyara.


Dia menggeleng tak habis pikir, bagaimana gadis ini menemukan semua benda yang dipakai di lemari Aneeq.


"Aku sengaja pakai pakaian seperti ini, supaya aku tidak ketahuan oleh orang-orang Pamanku, Om. Memangnya salah? Bukankah aku jadi terlihat keren?"


"Keren apanya? Kamu terlihat seperti kue lemper, tahu tidak?!" Bukannya mendapat pujian, Cyara malah harus mendengar hinaan. Dia mencebik dan menurunkan kaca matanya untuk menatap De dengan tatapan kesal.


"Tapi kan kue lemper enak, Om."


"Aku tidak sedang membahas rasanya, Cia!"


Mendengar suara De yang menggeram membuat bahu Cyara merosot. "Baiklah, kalau Om tidak suka, aku akan berganti pakaian."


Cyara sudah melangkahkan kakinya, tetapi De langsung menangkap pergelangan tangan Cyara. "Tidak ada waktu lagi untuk meladeni tingkahmu yang aneh itu. Kita pergi sekarang!"

__ADS_1


De menyeret gadis itu keluar. Cyara tak dapat melawan, dia hanya mampu mengikuti langkah kaki De yang begitu lebar. Langkah yang terasa sangat cepat, hingga Cyara terseok-seok.


Sesampainya di mobil, tanpa banyak bicara De langsung memasangkan seat belt di tubuh Cyara. Membuat gadis itu sadar, bahwa De tidak memiliki banyak waktu dengannya.


***


Clarke Super Mall.


Salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota ini. Tempat yang nyaris tidak pernah sepi, sebab mall ini dibuka selama 24 jam.


Setelah turun dari mobil, Cyara kembali memakai kaca mata hitam yang ada di tangannya. De melirik sekilas, ternyata memang ada untungnya juga gadis itu memakai pakaian seperti itu. Sebab tidak akan ada mata para pria yang memandangi tubuh Cyara.


Bagaimana mau melihat? Dari atas sampai bawah tertutup semua.


Patuh, Cyara kembali mengekor pada De. Namun, dia merasa kesulitan berjalan sebab langkah kaki pria itu tidak dapat dia imbangi. Cyara mendengus, hingga akhirnya dia lebih memilih untuk berlari dan memeluk erat lengan De.


Pria berjambang lebat itu tersentak dan langsung berhenti. "Apa yang kamu lakukan?! Sekali saja tidak menyusahkanku, bisa 'kan?" Tanyanya sedikit menyentak.


"Jalan Om kecepatan, Cia kan susah. Udah tahu aku kecil," gerutu gadis cantik itu.


"Kamu bisa menyuruhku berjalan pelan-pelan," jawab De seraya melepaskan pegangan Cyara. Karena dia mulai merasakan sesuatu yang lain menyapanya. Sentuhan Cyara cukup berbahaya.

__ADS_1


Cyara menggelengkan kepala. "Aku tahu Om nggak bisa jalan pelan-pelan. Makanya lebih baik kita pegangan. Lagi pula, apa Om tidak takut aku hilang?"


De menghela nafas berat. Dari pada mereka terus berdebat dan menjadi tontonan para pengunjung, lebih baik ia membiarkan Cyara memeluk lengannya sepanjang langkah mereka.


Cyara sudah beberapa kali keluar masuk toko, ia membeli beberapa pakaian dan juga dalaman. De hanya pura-pura tak melihat saat Cyara memilih benda berbentuk kaca mata dan juga segitiga tersebut. Toh ia sudah bisa menebak sebesar apa milik gadis itu.


Ada apa dengan otakmu, De?


Seolah ada yang berbisik, mengingatkan pria itu agar tidak berpikir macam-macam. Akhirnya De tersadar, dia kembali menatap Cyara yang masih asyik berbelanja dengan tersenyum riang.


"Aku sudah selesai, Om, apa Om tidak ingin membelinya sekalian?" tanya gadis itu dengan menenteng barang belanjaan.


De menggeleng. "Tidak, ada banyak di rumah. Lagi pula memangnya kamu tahu ukuran milikku berapa!" Ketus pria itu membuat Cyara mengerutkan kedua alisnya.


Sementara para pelayan yang mendengar itu hanya mampu tersenyum-senyum. Mereka terus menatap De yang datang sendiri ke meja kasir untuk membayar tagihan belanjaan Cyara. Sedangkan gadis itu hanya senantiasa mengekor bagai anak itik yang tak ingin kehilangan induknya.


***


Ada yang tahu Clark Super Mall punya siapa?


Cari jawabannya di sini ❤️❤️❤️

__ADS_1



__ADS_2