Gadis Kecil Om Dokter

Gadis Kecil Om Dokter
Jatuh Semakin Dalam


__ADS_3

Debaran di dada Cyara semakin bertambah kencang. Sebuah kecupan kecil itu berhasil membuatnya tak berkutik. Dia terpaku dengan bola mata yang menatap lurus. Ada apa dengan dirinya?


De tak lagi bicara, rasanya ia sudah terlalu banyak mengeluarkan kata-kata hari ini, membuat dia merasa begitu lelah. Pria berjambang lebat itu akhirnya hanya diam, tetapi pelukannya di tubuh Cyara sama sekali tak terlepas.


Dia menunggu, menunggu Cyara mau bicara padanya. Dia yakin, gadis itu tidak akan bisa marah lama-lama.


Di balik tubuh kekar itu, senyum Cyara mulai terbit. Sedari tadi dia terus mencerna ucapan De tentang pria itu yang mencemaskan dirinya. Ternyata De tidak benar-benar mengacuhkannya.


Tubuh Cyara berputar hingga secepat itu dia dan De saling bertatap muka. Gadis cantik dengan bibir tipis itu berkedip, sementara De hanya memasang wajah datar dan menahan nafas.


"Kenapa Om berubah jadi cerewet?" tanya Cyara, sebuah pertanyaan yang sukses membuat bibir De berkedut. "Hari ini Om banyak bicara, tidak seperti biasanya."


"Kamu tidak sadar? Semua itu karena kamu menyebalkan!" jawab De seraya membalas tatapan mata Cyara. Namun, tatapan itu tak berlangsung lama, sebab bola mata De beralih fokus pada benda ranum yang terlihat sangat merah.


Andai dia tidak tahu malu, ingin sekali De menyesapnya.

__ADS_1


Cyara mengembuskan nafas pelan, ia sadar kalau ia memang salah. Dia sudah membentak De padahal pria itu sudah banyak membantunya.


Saat itu dia benar-benar emosi, karena dia merasa sudah dibohongi. Hidup bertahun-tahun dengan orang-orang terdekatnya, ternyata tak menjamin mereka baik semua.


"Aku minta maaf, Om. Aku salah," ujar Cyara mengaku, dia menundukkan kepala karena merasa menyesal.


Dia terlalu terkejut dengan semua fakta ini, sekarang dia tidak memiliki siapapun yang dapat dia percaya kecuali pria yang ada di hadapannya.


Dulu, De berpikir dia tidak akan pernah bisa bersikap manis seperti ini pada seorang wanita. Namun, sekarang keadaan telah memungkirinya.


"Aku ingin kamu bicara, bukan hanya minta maaf."


"Membicarakan apa?"


De menarik nafas dan membuangnya secara perlahan. "Aku tahu kamu pergi ke mana hari ini. Kamu menemui seseorang dan bertengkar dengannya. Apa aku boleh tahu masalah kalian?"

__ADS_1


Cyara mematung, otaknya langsung berkelana, dia kembali teringat pertemuannya dengan Clarissa. Dia yang tak bisa mengontrol emosi langsung menjudge saudara tirinya itu ikut andil dalam rencana Austin.


Alhasil dia memarahi Clarissa dan memilih tidak percaya pada gadis itu. Meski Clarissa sudah bersimpuh di kakinya.


"Aku sudah terlalu banyak merepotkan Om. Dan sekarang, masalahnya bertambah semakin rumit. Cia tidak tahu bagaimana caranya terlepas dari gangguan mereka, terlebih Daddy juga sedang koma," jelas Cyara dengan bola matanya yang kembali berkaca-kaca.


Pikirannya sekarang hanya tertuju pada Andrew. Dia terus memikirkan cara, bagaimana membawa pria itu pergi bersamanya.


"Dengarkan aku. Aku sudah terlalu banyak ikut campur di kehidupanmu. Andai Pamanmu tahu kamu di sini, aku pasti akan terseret juga. Jadi sekarang, ayo bekerja sama untuk melawannya," ujar De, seharian ini. Dia terus memikirkan nasib Cyara.


Dia tidak mungkin terus-menerus menampung gadis ini, sementara di luar sana banyak orang yang mencarinya. Yang ada bahaya akan semakin mengintai disetiap langkah mereka.


Suatu saat, De yakin bahwa Austin akan menemukan Cyara. Cepat atau lambat. Semua tergantung bagaimana ia menghindari itu semua.


"Om mau membantuku lagi?" tanya Cyara dengan bibir yang bergetar. Sementara harapan itu kembali ia dapatkan. Sebuah kebebasan di mana ia dan Andrew akan kembali ke kehidupan sebelumnya.

__ADS_1


De mengangguk pelan. Dia tidak memiliki pilihan lain, selain jatuh semakin dalam pada lubang yang sama.


__ADS_2