
Cyara berguling ke arah kanan sambil menggelung selimut, setelah satu pelepasan berhasil mereka dapatkan. Deru nafas gadis cantik itu terdengar begitu nyaring, sementara De berdiri dengan tubuh telanjangnya.
"Kita baru saja sampai, Poo. Tapi kamu sudah mengajakku panas-panasan," gerutu Cyara, masih berusaha menutup anggota tubuhnya, sementara pakaian mereka sudah berserakan entah ke mana. Sebab De melemparkannya asal saja.
"Aku sudah menahannya dua hari, Moo, lagi pula kamu sendiri yang bilang, kalau ranjangnya sangat nyaman. Ya, jangan salahkan aku, kalau aku langsung mencobanya." De melangkah ke arah meja kecil di depan sofa, di sana ada teko kaca yang sudah diisi oleh air putih.
De menuangnya ke dalam gelas, lalu melangkah ke sisi Cyara. Gadis itu tampak mencebik gara-gara ucapan suaminya.
Cup!
"Kita sedang berbulan madu, jadi jangan marah-marah," ucap De, seraya membantu Cyara untuk bangkit dari ranjang. Lalu menyerahkan satu gelas berisi air putih itu pada Cyara.
Satu gelas panjang itu nyatanya tak mampu membasahi tenggorokan Cyara yang selalu kering karena terlalu banyak mengeluarkan suara. Jika sudah berdua, entah kenapa De selalu dapat memanfaatkan momen tersebut, ya meskipun tak dipungkiri bahwa dia pun suka. Walaupun sedikit sakit, tapi ujungnya mendesaah juga.
"Lagian Poo ngeselin!" jawab Cyara seraya menyerahkan gelas kedua, dia mengelap mulutnya yang basah menggunakan punggung tangan.
"Bisa beritahu aku alasannya?"
"Tidak tahu! Pokoknya aku ingin keluar dari kamar dan jalan-jalan."
"Okey, setelah ini aku akan mengajakmu untuk melihat air terjun. Tapi ada syaratnya ...." De tersenyum licik, sementara Cyara mengernyitkan keningnya.
__ADS_1
"Apa?!"
"Kamu harus membayar setiap kali kita ke pergi ke objek wisata."
"Bayar? Bukannya Mommy dan Daddy memberikan semua fasilitas ini gratis?"
De menggeleng.
"Tidak denganku, kamu harus bayar!"
"Cih, perhitungan sekali. Berapa yang harus aku bayar?"
De menyeringai dengan sorot mata penuh damba. Tanpa aba-aba pria itu menarik selimut dan naik ke atas ranjang. Mengungkung bagai predator yang siap menerkam.
"Poo ...." Suara Cyara seperti hilang, hanya ada gerakan bibir yang membuat De mengulum senyum. Pria itu sedikit menggerakkan wajah, hingga detik selanjutnya bibir mereka sudah bersatu padu, dan saling bertukar saliva.
Jari-jemari Cyara merabaa wajah tampan suaminya. Sedikit terasa kasar, sebab De telah mencukur bulu jambangnya. Namun, apapun itu Cyara akan tetap suka.
Pria menurunkan kepala, menjelajahi leher jenjang Cyara, dan memberikan hickeey. Sebuah mahakaryanya yang begitu indah.
Hingga pucuk hidung pria itu bermuara pada puncak pegunungan yang menyembul malu-malu. Namun, sadar atau tidak, kali ini pucuk merah jambu itu terlihat jauh lebih menonjol dari sebelumnya, dan tentu saja hal tersebut membuat De merasa bangga.
__ADS_1
"Lihat, aku berhasil membuatnya keluar, aku yakin sebentar lagi mereka akan membesar," ucap De, yang membuat pipi Cyara memerah.
Gadis itu menggigit bibirnya, sementara De meremass dua pegunungan itu, memegangnya kuat lalu menghisap hingga Cyara mengeluarkan lenguhan panjang.
"Ught!"
Kepalanya menenggak dengan dada yang semakin membusung, De semakin suka melihatnya. Seketika kelelakiannya bangkit, hingga beberapa kali menusuk-nusuk perut Cyara.
"Satu objek, satu kali main."
Cyara tidak peduli pada ucapan De. Dia hanya bisa menganga dan fokus pada geleyar aneh yang memenuhi aliran darahnya.
"Tunjukkan jalannya, Moo."
Entah kenapa untuk yang satu ini Cyara langsung paham, sebab sedari tadi ular di bawah sana seperti kebingungan. Hingga dengan cepat gadis itu menuntun benda panjang itu menemui sarangnya.
De sedikit memberi tekanan, hingga Cyara merasa tersentak, sementara dua raga itu kembali bersatu padu, siap melayang bersama menikmati surga dunia.
"Kalau bayarannya kurang memuaskan, harus tambah sesuai kebutuhan!"
Cyara mendelik, tetapi dia tidak bisa protes sebab De langsung memacu tubuhnya dan membuat Cyara tak berdaya.
__ADS_1
***
Udah pinter ngakalin ya, ajaran siapa sih? 🙄🙄🙄