Gadis Kecil Om Dokter

Gadis Kecil Om Dokter
Moo&Poo #17


__ADS_3

Seharian itu mereka benar-benar menghabiskan waktu di dalam kamar. Namun, tidak ada kegiatan apapun yang mereka lakukan, sebab keduanya kembali tertidur pulas setelah sarapan.


De dan Cyara sama-sama tak memakai apapun, mereka hanya bergelung dalam satu selimut dan saling memeluk.


Para petugas yang biasa melayani mereka pun merasa keheranan, karena sampai pukul 2 siang, tidak ada tanda-tanda pintu kamar akan terbuka.


"Maklumi saja, namanya juga pengantin baru, pasti sedang semangat-semangatnya," ujar pelayan wanita yang biasa memasak makanan untuk para penghuni pulau.


Yang diajak bicara langsung mengangguk. "Dari kemarin memang mereka terus seperti itu. Bahkan aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Hii ... aku sampai merinding."


"Cih, kamu pasti mengintip yah?"


"Hanya sebentar, habis itu aku langsung pergi karena tidak tahan."


Wanita itu terkekeh.


"Pasti langsung pergi buang benih."


"Sembarangan!"


Dan suara gelak tawa itu semakin mengudara. Tentang urusan bercinta, bukan hal tabu lagi bagi mereka. Sebab mereka sering kedapatan rejeki nomplok, melihat kegiatan itu di depan mata. Ya, tentu saja mereka hanya bisa menelan ludah.


Cyara mengusakkan kepalanya pada dada bidang De. Sementara sebagian tubuhnya sudah dikunci oleh kaki jenjang pria itu.


Cyara mengerjap begitu merasakan perutnya yang terasa keroncongan, sebab mereka melewatkan makan siang. Mereka seolah tak peduli pada urusan perut, karena yang mereka butuhkan hanya istirahat untuk memulihkan badan.


"Poo," lirih Cyara dengan suara serak, dia menengadah menatap wajah tampan suaminya yang masih terlelap.

__ADS_1


"Sayang, aku lapar."


Suara gadis cantik itu sudah berubah sebuah rengekan. Tangan Cyara terangkat, lalu mengusap satu sisi wajah suaminya. "Sayang, ayo bangun. Aku lapar."


Tak ada reaksi apapun dari De, hingga Cyara merasa sedikit kesal. Akhirnya gadis cantik itu mencubit bibir De, menggerakkannya dengan gemas hingga pria itu mengerutkan dahi.


Saat itu, hari sudah semakin sore, matahari beranjak turun dan senja akan segera datang.


"Poo, ayo bangun, aku lapar. Dan kamu sudah berjanji untuk melihat sunset sore ini."


Mendengar itu, De memegang pelipisnya yang terasa tegang. Lalu pelan-pelan membuka mata, hingga ia dapat melihat wajah cantik Cyara.


"Give me a kiss!" ujar pria tampan itu seraya menyodorkan pipinya. Patuh, Cyara langsung memberikan apa yang De mau.


Pria itu mendesaah kecil, lalu bangkit dari ranjang. Dia melihat keluar jendela, dan benar saja hari sudah hampir senja.


"Pakai pakaian yang sedikit hangat, Sayang," ujar De, melihat Cyara yang memakai dress bunga-bunga dengan lengan pendek. Dia tidak ingin sang istri kedinginan, meskipun ada dirinya yang siap memberikan kehangatan.


"Aku akan memakai rompi, Poo."


"Baiklah."


Setelah mereka selesai berpakaian, De langsung meraih pergelangan tangan Cyara. Mereka bergandengan menuju pantai, dengan senyum yang sama-sama mengembang sempurna.


Cyara baru mengalihkan pandangan matanya dari De, begitu semburat jingga sudah memenuhi langit barat. Sementara matahari tenggelam, dan menyisakan keindahan yang hanya bersifat sementara.


__ADS_1


"Sayang, ini sangat indah," ungkap Cyara, dia melepaskan tangan De, lalu berlari ke bibir pantai. Ingin semakin melihat keindahan itu dari dekat.


De tersenyum. Dia melangkah pelan untuk menyusul Cyara, hingga sebuah rengkuhan manja memenuhi pinggang gadis cantik itu.


"Aku sudah pernah bilang, di dunia ini, tidak akan ada yang bisa menandingi keindahanmu. Kamu—adalah sesuatu yang paling sempurna, yang pernah aku miliki."


Pipi Cyara merona, mengalahkan corak indah di atas sana. Dia berbalik, dan seperti biasa mereka selalu menciptakan pagutan di setiap momen berharga.


Cyara memeluk leher De, sementara pria itu menahan tubuh Cyara hingga gadis cantik itu terangkat.


"Aku mencintaimu, Derrick Mojave Tanson."


Uluman senyum kecil dari bibir mungil itu selalu membuat De merasa tidak waras. Apalagi setelah mendengar Cyara menyatakan cinta, rasanya jantung De langsung menggila.


De hendak mencium bibir Cyara lagi, tetapi gadis itu langsung menahan dada De, lalu memaksa turun.


"Ayo kejar aku!" ucap Cyara seraya berlari menjauh. Ternyata gadis itu mengajak De untuk bermain.


Tanpa pikir panjang, De langsung mengejar Cyara dengan langkahnya yang pelan, membiarkan Cyara merasa menang.


Cyara tergelak kencang.


"Kejar yang benar, Poo. Masa begitu saja tidak bisa!" cibir gadis itu. De tak merespon dia hanya berlari kecil menakut-nakuti Cyara.


Hingga saat gadis itu lengah, De langsung menarik tangan Cyara, hingga istrinya itu berteriak dengan tawa yang membahana.


"Lihat aku berhasil menangkap Kucing Dekil yang manis," ujar De seraya memutar tubuh Cyara.

__ADS_1



__ADS_2