
Cyara terlihat gugup, dia tidak pernah berpacaran, juga tidak pernah mengenal seorang pria. Bagaimana bisa saat ini dia malah ingin menikah dan menemui kedua calon mertuanya.
"Om, apakah harus secepat itu?" tanya Cyara terbata. Kedua mata De memang menatap wajah Cyara, tetapi tangannya bergerak untuk memasangkan pengait braa milik gadis itu.
"Kalau tidak cepat-cepat nanti ularnya lepas kandang sebelum waktunya, memang kamu mau?" De balik bertanya, Cyara sontak saja menurunkan pandangannya, bagian tubuh itu masih terlihat menyembul. Tidak pakai malu-malu, malah seolah menantang dirinya.
Cyara reflek menelan ludah, kenapa dia malah jadi merasa gelisah. Bahkan inti tubuhnya sedikit berkedut, membayangkan benda itu memasuki dirinya.
"Tapi bagaimana kalau nanti ibu dan ayah Om tidak menerimaku? Aku kan terlihat seperti anak kecil, berbeda sekali dengan kakak iparmu, bahkan untuk ukuran dada saja, aku tidak ada apa-apanya," keluh Cyara seraya mengerucutkan bibir. Dia merasa banyak kekurangan, lain dengan De yang termasuk tipe pria ideal.
"Mommy dan Daddy tidak seperti yang ada dalam bayanganmu, mereka baik. Bahkan mereka sering menyuruhku mencari seorang kekasih, andai aku membawamu, pasti mereka akan sangat senang. Dan ingat, kamu ini masih masa pertumbuhan, aku masih bisa membesarkannya dengan caraku sendiri," jawab De meyakinkan Cyara, dia sedikit menyeringai nakal, membuat gadis itu langsung melipat kedua tangannya di depan dada.
"Om, mau apa?"
"Sudahlah, sekarang lebih baik kamu ikut bersamaku," ucap De, dia meminta Cyara turun dari pangkuannya. De sedikit merapihkan pakaian, terlihat cukup kusut tetapi itu sama sekali tidak mengurangi ketampanannya.
__ADS_1
"Ayo!" De mengulurkan telapak tangannya ke arah Cyara. Gadis itu tersenyum lebar, merasa senang karena usahanya membawa De ke apartemen ini tidaklah sia-sia.
Mereka melangkah keluar dengan bergandengan tangan. Bahkan saat di lift pun pria itu sama sekali tidak melepaskan Cyara, De melingkarkan tangannya penuh di sepanjang bahu gadis itu, membuat Cyara merasa begitu dicintai.
Namun, kegugupan Cyara kembali menyapa, saat mobil mewah itu sudah masuk ke halaman mansion yang tak kalah mewahnya. Cyara terkagum-kagum dengan apa yang dilihatnya, ternyata tebakannya benar, De termasuk dalam keluarga kaya. De bukanlah dokter biasa.
"Kuman, ayo turun!" ajak De sambil melepaskan sabuk pengaman.
Cyara tersadar saat mendengar panggilan De untuknya. "Kenapa Om memanggilku Kuman?"
Lagi, pipi Cyara langsung merona. Kenapa De berubah jadi tukang gombal? Dan sialnya dia malah senang. Cyara menggigit bibir bawahnya dengan senyum tertahan, dia melirik De yang sudah membuka pintu, rasanya dia ingin berjingkrak-jingkrak sekarang.
Pria itu mengitari mobil dan membuka pintu untuk Cyara. Tak ingin membuat gadis itu merasa was-was De selalu menggenggam tangan Cyara hingga masuk ke dalam mansion.
Cyara hanya bisa mengekor dengan wajah yang terus celingukan, antara penasaran sekaligus kagum menjadi satu. Namun, tiba-tiba jantungnya seperti ingin lepas, begitu De menghentikan langkah dan terdengar suara seorang wanita.
__ADS_1
"Sayang, kamu membawa siapa?" tanya Zoya, dia melihat tangan De yang terus menggenggam tangan Cyara, dan tentu saja hal itu sangat mengganggu pikirannya.
Cyara seperti ingin tersedak ludahnya sendiri mendengar kata sayang itu? Apakah itu ibu dari pria yang dicintainya.
"Cia, ayo angkat wajahmu!" bisik De tepat di telinga Cyara. Organ dalam tubuh gadis itu semakin berdetak kencang, pelan-pelan dia mengangkat kepala hingga dapat dia lihat seorang wanita cantik yang terlihat anggun tengah menatap ke arahnya.
Glek!
Baru saja Cyara ingin mengulas senyum. Akan tetapi ucapan De kembali membuat dirinya mematung.
"Dia Cyara, calon istriku, Mommy."
***
Apakah Mommy njoy akan jantungan?🤣🤣🤣
__ADS_1