
Jennie terus memegangi mulutnya yang menganga. Sementara matanya menelisik gadis cantik yang masih tertidur nyenyak di atas ranjang. Pikiran ibu hamil itu berkelana, dia yakin Aneeq tidak akan mengkhianatinya, tetapi kenapa ada gadis ini di sini? Siapa dia?
Jennie baru saja pergi memeriksakan kandungannya bersama dengan Zoya. Dia datang ke apartemen karena ingin mengambil barang miliknya, tetapi dia malah dibuat terkejut oleh kehadiran Cyara.
Perasaan ibu hamil itu mulai tak enak. Dia yang akhir-akhir ini mudah tersentuh akhirnya hanya bisa menangis.
"Aneeq tidak mungkin mengkhianatiku," ucap Jennie sambil menggelengkan kepala. Dia menarik nafas dan menghembuskannya secara perlahan, mencoba bersikap tenang, dia tidak boleh gegabah, sebab semuanya belum jelas.
Pelan, dia menghapus air matanya, meskipun rasanya sangat berat. Jennie memutuskan untuk membangunkan Cyara, dia ingin tahu dari sisi gadis itu.
Saat Jennie mendekat, dia malah semakin dibuat sesak, sebab Cyara memakai pakaiannya. Ludah wanita itu tercekat di tengah tenggorokan. Namun, Jennie tak goyah dia menggoyangkan bahu Cyara dengan cukup keras.
"Bangun!" ucap Jennie sedikit bergetar. Dia berusaha menyembunyikan kesedihannya agar ia tidak terlihat lemah, andai memang benar kalau gadis ini adalah simpanan suaminya.
"Aku bilang bangun!" Kali ini Jennie mengeluarkan suara cukup keras. Tak bisa bohong, wajah Cyara terlihat sangat manis dan sangat muda. Jauh dengan dirinya yang sudah dewasa.
__ADS_1
Merasakan sebuah pergerakan dan juga suara-suara bising yang memenuhi indera pendengarannya, kening Cyara mulai mengernyit. Dia sedikit mengerjap hingga seseorang yang berdiri tak jauh darinya dapat ia lihat.
Kelopak mata Cyara melebar seketika. Dia terduduk karena merasa terperangah. Siapa wanita ini? Kenapa tiba-tiba ada di kamarnya?
Cyara mencoba mengingat-ingat, hingga memori itu kembali, Cyara pernah melihat wanita ini menggendong anak kecil dalam sebuah figura foto yang disimpan di lemari pakaian.
Apakah dia ada hubungannya dengan De? Sebab Cyara bisa melihat bola mata wanita itu memerah nyaris menangis.
"Siapa kamu?" tanya Jennie, bibirnya bergetar hebat sementara dadanya benar-benar terasa sesak. Dia meremat kepalan tangannya di bawah sana.
Dia harap apa yang dikhawatirkan tidak pernah terjadi, Aneeq adalah miliknya—selamanya.
"Teman?" ulang Jennie, benarkah Aneeq memiliki teman seorang gadis kecil? "Sudah berapa lama kamu di sini?"
Ditanya seperti itu, tangan Cyara malah gemetar, dia tidak pernah berada di posisi seperti ini. "Seminggu lebih."
__ADS_1
Rasa sakit di dada Jennie kian meningkat, tetapi dia terus mencoba untuk sabar. "Lalu?" Jennie menjeda ucapannya, bola mata wanita itu sudah memanas siap meluncurkan bulir-bulir bening. "Kenapa kamu memakai bajuku? Apa kamu sudah meminta izin?"
Cyara semakin merasa terperangah. Jadi, baju yang ia pakai masih ada pemiliknya. Cih, bagaimana sih? Dia jadi serba salah sekarang. Cyara menggigit bibir bawahnya dan menundukkan kepala.
"Maaf, Nyonya. Tapi pemiliknya yang mengizinkan aku memakai baju ini, sejak aku datang pertama kali, dia membiarkan aku bebas melakukan apapun, termasuk memakai pakaian yang ada di lemari," jelas Cyara, sebab ia benar-benar tidak tahu, kalau sebenarnya apartemen ini adalah milik saudara kembar De.
Jawaban Cyara membuat kesalahpahaman itu semakin nyata.
Jennie semakin menutup mulutnya, bahu wanita berdada besar itu naik turun dengan air mata yang sudah menetes. Akhirnya dia terisak-isak, saat itu Cyara yang merasa bersalah segera turun dari ranjang.
"Nyonya, ada apa? Kenapa anda menangis?"
"Cukup! Jangan mendekat!" ketus Jennie, amarah di dadanya akhirnya meletup. Dia segera menghapus air matanya dan memicing tajam ke arah Cyara.
"Asal kamu tahu, aku adalah istrinya, aku sedang mengandung anaknya. Andai dia bersikap baik padamu, aku pastikan dia hanya menganggapmu sebuah mainan!" ucap Jennie dengan nada geram.
__ADS_1
Lantas setelah itu dia pergi dari apartemen. Membawa luka pedih di hatinya dan meninggalkan Cyara yang tampak kebingungan.
"Jadi, Om Dokter sudah menikah? Dia membohongiku?"