Gadis Kecil Om Dokter

Gadis Kecil Om Dokter
Kembali Kalut


__ADS_3

Siang harinya, Cyara ikut bersama dengan Candra untuk membeli makanan di luar, dengan mengendarai sepeda motor milik pria itu mereka menyusuri jalan raya.


Cyara memakai masker lengkap dengan penutup kepala, sebab dia tidak mau kalau sampai ada yang tahu tentang jati dirinya. Apalagi orang-orang yang Austin kirim.


Tak sampai lama, mereka akhirnya sampai di sebuah kedai makanan. Candra menepikan sepeda motornya di sisi jalan, lalu mengajak Cyara untuk turun. "Ci, udah nyampe." ucap pria muda itu.


Cyara mengangguk sekilas, lalu mengikuti langkah Candra. Mereka memesan beberapa bungkus makanan titipan orang-orang yang hendak makan siang—termasuk De.


Matahari tampak begitu terik, panasnya menerpa hingga ke kerongkongan. Cyara yang merasa kepanasan sekaligus haus, izin pada Candra untuk membeli minum terlebih dahulu.


"Kak, aku beli minum dulu yah. Kakak mau nitip nggak?" tanya Cyara sebelum melangkah menuju stand minuman yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Candra tampak berpikir sejenak, lalu mengeluarkan uang pecahan lima puluh ribu.


"Boleh deh, kamu pakai saja uangku," ujarnya membuat Cyara tersenyum, lantas setelah itu Cyara melangkah dengan riang menuju stand minuman.


Dia yang sangat kehausan langsung meminum orange juice yang ada di tangannya. Tanpa dia ketahui, ada dua orang yang sedang memperhatikan gerak-geriknya. Cyara menghela nafas lega, merasakan kerongkongannya yang basah.


"Hah, segar sekali," gumam gadis cantik itu sambil mengelap pinggiran bibirnya. Dia menatap lurus, dan dia mulai merasa sebuah keanehan. Cyara terpaku sebab ia merasa seperti tengah diawasi, dia melirik ke sana ke mari dan langsung menutup wajahnya menggunakan masker, tak lupa dia juga menurunkan topi yang ia pinjam dari Candra.


"Nona, ini minuman anda," ucap seorang pedagang, yang membuat Cyara sedikit mengangkat kepala.


Gadis itu menerimanya dengan cepat, dan tak peduli dengan uang kembaliannya. Meski pedagang tersebut meneriakinya. Dengan tergesa-gesa Cyara melangkah, lama semakin lama, langkahnya semakin terasa cepat.


Hingga akhirnya Cyara berlari, tepat seperti dugaannya dua orang itu mengejarnya. Cyara kembali berlari dengan tunggang langgang. Tak peduli dengan Candra yang ada di stand makanan.


Perasaan gadis cantik itu mulai kalut, dia tak dapat berpikir dengan jernih di antara laju kakinya yang tak dapat dia hentikan.

__ADS_1


"Itu benar-benar mereka," gumam Cyara, dia sedikit menoleh ke belakang. Ada dua orang berbadan besar yang berlari tak kalah cepat dengannya.


Nafas gadis itu terengah-engah. Dia berlari untuk kembali pulang ke rumah sakit. Entah keajaiban dari mana, hingga tanpa perlu menghafalnya, Cyara seolah tahu ke mana kakinya harus melangkah.


Ketiga orang itu berkejaran, padahal banyak orang di sana, tetapi seolah mereka tidak memiliki rasa peduli. Cyara semakin berlari kencang. Dia bahkan tidak peduli dengan air mata ketakutannya. Dia meyakinkan diri, bahwa Austin tidak akan pernah bisa mendapatkannya.


"Paman, tidak akan bisa lagi menangkapku, aku harus semangat!" lirih gadis itu menyemangati dirinya sendiri. Padahal dalam hati dia berteriak kencang, dengan ketakutan yang mendera.


"Ayo, Cia, bisa!" pekik Cyara, dia semakin menambah kecepatan larinya. Dia sedikit menoleh ke belakang, dan dia bisa melihat dua orang itu belum mau menyerah. Ludah Cyara terkecat, dia ingin meminta tolong tetapi pada siapa?


Semua orang terlihat egois, sebab tidak ada yang peduli padanya. Cyara hanya bisa berusaha dan pasrah dengan kehendak Tuhan. Nafas gadis itu sudah tersengal-sengal, dia membelokan kakinya ke arah kiri dan masuk ke sebuah lorong yang sempat dia lewati.


Di lorong tersebut suasana terasa sepi. Hingga Cyara menangis semakin kencang. Laju air matanya tak kalah deras dengan laju kakinya.


"Hei, berhenti!" teriak salah satu dari mereka. Bibir Cyara pucat pasi, dia tak ingin ditangkap lagi, atau penyiksaan yang dia terima akan semakin banyak.


Cyara sedikit memekik dan tersentak, saat sebuah batu mengenai punggungnya. Namun, hal tersebut tak membuat dia menyerah begitu saja. Dia sedikit melompati pagar hidup yang ada di sekitar jalanan. Atap rumah sakit sudah cukup terlihat, Cyara tidak ingin lengah sedikitpun.


"You can do it, Cia!"


Batu kembali menghantam anggota tubuh gadis itu. Akan tetapi Cyara menahannya sekuat tenaga. Rasa sakit ini tak seberapa, ketimbang dia harus tertangkap dan menjadi budak nafsuu pamannya.


Beberapa mobil melintas, Cyara menggunakan hal tersebut untuk melarikan diri. Dia masuk dalam kerumunan pejalan kaki, lalu menyelinap ke dinding gerbang rumah sakit. Nafas Cyara terengah-engah dengan bibir yang tak berhenti untuk bergetar. Dia benar-benar sangat takut sekarang.


Sementara dari balik jendela kaca ruangannya, De memerhatikan dengan seksama. Gadis yang ia anggap sebagai Cyara. Dia sedikit menyipitkan mata, dan ternyata benar tebakannya.

__ADS_1


"Untuk apa dia di sana?" gumam De seraya bangkit dari kursi dan menatap ke luar jendela. De menangkap sesuatu yang lain, apalagi saat dua orang yang terasa mencurigakan mondar-mandir di sisi jalan, depan rumah sakit.


"Mereka?"


***


Cia kok kayak oon yah?


Yups, anggap aja begitu. Kenapa? Dari kecil dia udah ditinggal ibunya, dia dimanja cuma sama bapaknya. Ditambah dia juga anak horang kaya, mau apapun, ini itu, pasti ada saat itu juga.


Tapi, karena dari dulu jarang ada yang merhatiin, ya intinya cuma Andrew aja. Dia jadi suka cari perhatian, dan ingat! patokan seseorang dewasa itu bukan dari umurnya.


Gue (ngothor uler-uleran) aja masih suka nyebut nama, kalo lagi ngomong. Lho, kenapa Cia gabisa?


Gue juga nggak suka yang berat-berat, lihat dari moyangnya aja, banyaknya komedi dari pada kumenangis, lagi-lagi menangis.


Tapi garing, Thor!


Tapi monoton, Thor!


Tapi bosen, Thor!


Gue nggak maksa ya cinta, gue cuma bisa berusaha menyajikan opo sing ono ning endas, dan terkadang juga ikutin apa mau kalian. Tapi kalau kalian tetep gabisa nerima, aku yo legowo, aku ra iso opo-opo.


Salam anuđź‘‘

__ADS_1


Dah lama nggak salam-salam.


__ADS_2