
Setelah makan malam dengan Cyara, De memutuskan untuk segera pulang. Dia tidak ingin menambah kecurigaan semua orang tentang masalah Cyara yang ia sembunyikan.
Sampai di mansion, De tidak langsung masuk ke dalam kamar, dia lebih dulu menyambangi ruang kerja Aneeq sebab pria itu telah mengirim pesan. Aneeq telah menunggu ia datang.
Dengan langkah ragu dan sedikit gemetar, De akhirnya sampai di depan ruangan sang kakak. Namun, bukannya lekas mengetuk pintu, pria itu malah mondar-mandir di sana. Ah, sial! Dia malah gelisah, takut kalau sampai dihajar oleh Aneeq.
"Duh, bagaimana ini? Walaupun aku terlihat garang, tapi Aneeq jauh lebih menyeramkan."
Gumam pria berjambang lebat itu, walaupun mereka seumuran, tetap saja dia lebih menghormati Aneeq sebagai kakak tertua. Dia tidak bisa semena-mena memaki pria itu, sebab ia juga yang salah karena telah menyembunyikan identitas Cyara.
Lama berdiri di sana, akhirnya De mendengar suara pintu dilempar oleh sesuatu. "MASUK!" Ketus Aneeq, membuat De menelan ludahnya. Habis sudah riwayatnya, sepertinya dia akan beralih menjadi pasien karena dihajar oleh sang kakak.
De menarik nafas dan membuangnya secara kasar, dia terus melakukan itu hingga tangannya berhasil memegang kenop pintu. Dengan tangan gemetar, De memutarnya hingga perlahan-lahan benda persegi panjang itu dapat terbuka.
Deg! Alangkah terkejutnya saat dia melihat ke depan Aneeq sudah berdiri dan menatapnya dengan tajam. Gigi pria itu bergemeletuk dengan rahang yang mengeras, semakin membuat De tak kuasa untuk melangkahkan kakinya.
Brak!
__ADS_1
Aneeq menendang pintu hingga menimbulkan bunyi yang cukup nyaring. Beruntung De langsung menghindar, kalau tidak mungkin tangannya sudah tidak dapat digunakan.
Baru saja De ingin buka suara, dirinya sudah ditarik oleh Aneeq, bogem mentah melayang begitu saja mengenai wajah pria berjambang lebat itu. "Izinkan aku menghajarmu beberapa kali, supaya otakmu itu bisa dipakai!"
Aneeq benar-benar sudah merasa geram. Dia semakin mencengkram kerah kemeja De dan melayangkan tinjunya di perut pria itu. Setidaknya dengan itu, dia bisa sedikit lebih tenang. Sebab bayangan Jennie yang menangis selalu terlintas dalam benaknya.
Dia tidak habis pikir, bagaimana jika tadi siang Jennie bertindak gegabah dan membahayakan diri serta anak mereka. Jika itu terjadi, mungkin saat ini Aneeq sudah benar-benar gila.
"Argh!" De memekik sambil memegangi perutnya yang terasa sangat sakit, apalagi ia baru saja makan malam.
Terpaan nafas Aneeq terdengar memburu, gigi pria itu masih saja beradu, dia melayangkan tangannya kembali tetapi yang dia tinju malah dinding yang tak bersalah.
"An, aku minta maaf," ucap De penuh sesal. Dia tahu Aneeq tidak tega menghajarnya lagi, sebab hal itu akan menjadi pertanyaan bagi ibu mereka.
Zoya pasti tidak akan diam saja, melihat anak-anaknya terluka, tanpa mereka bicara, sang ratu ular pasti akan mencari tahu, apa titik masalahnya.
"Aku tidak butuh omong kosong, ceritakan padaku siapa dia, dan ada hubungan apa kamu dengannya. Sebelum aku melaporkan semuanya pada Mommy," ujar Aneeq dengan nada sedikit mengancam. Dia mengibaskan tangannya yang sedikit nyeri lalu melangkah untuk mengambil tissue.
__ADS_1
Nafas De masih terengah-engah, dia mengangkat kepala dan mencoba untuk bicara. "Dia—An—"
"Ya, aku tidak akan bicara pada Mommy, semua terserah kamu."
De sedikit menghela nafas lega.
"Dia orang yang kemarin kamu selidiki."
Deg! Mendengar itu, Aneeq langsung memutar tubuhnya dengan bola mata yang membulat sempurna. "Apa?! Dia Cyara anak Tuan Andrew? Apa kau sudah gila?" Sentak pria tampan itu sambil memperhatikan wajah De yang terlihat pias.
"Iya, tapi dengarkan aku dulu. Aku tidak sengaja bertemu dengannya, saat itu dia habis diculik dan meminta bantuanku. Awalnya aku menganggap dia bohong, tapi lama-lama aku percaya, karena ada beberapa orang yang mengejarnya. Dan kamu tahu siapa dalang semua ini?"
Aneeq menatap De dengan wajah yang sulit diartikan. Pria itu hanya diam menunggu adik kembarnya kembali bicara.
"Austin, pria itu yang menculik Cyara, gadis itu hampir saja diperkosaa tapi nasib baik masih memberkatinya, dia bertemu denganku di rumah sakit. Dan aku membawanya pulang ke apartemenmu."
"Kamu yakin?"
__ADS_1
"An, aku melihat ketakutan di wajahnya, semua itu tidak biasa, dan apakah kamu tahu? Ibu tirinya ternyata bersekongkol dengan pamannya. Aku tidak mungkin tega mengusir dia, aku sudah berjanji untuk membantunya, maka dari itu kamu harus bantu aku."