Gadis Kecil Om Dokter

Gadis Kecil Om Dokter
Itu-itu


__ADS_3

Mendengar pekikan Cyara, De langsung mengangkat kakinya dengan perasaan bersalah, dia membuang wajah sebab tak sanggup berhadapan dengan wajah Cyara. Bisa-bisanya dia tidak sadar, kakinya berpijak di mana.


"Maaf," ucap De, dia membelakangi tubuh Cyara, dan mengusap kepala. Sementara gadis cantik itu masih sesenggukan, melihat kakinya yang nahas, akibat diinjak tanpa perasaan oleh De.


De sedikit menoleh. "Sudahlah, jangan menangis. Aku tidak sengaja, lagi pula kenapa kamu tidak bilang dari tadi sih?!" Sudah salah, pria itu masih sempat-sempatnya memarahi Cyara.


"Bagaimana Cia bisa bilang, kalau Om nyerocos terus dari tadi," protes gadis cantik itu sambil mengelap pipinya yang basah. Namun, karena air di dalam hidungnya pun ikut turun naik. Cyara mengangkat seragam, De yang melihat itu langsung mendelik.


"Heh! Kamu mau apa?" sentaknya, membuat tangan Cyara berhenti bergerak, kemudian mengangkat kepala.


"Ingus Cia mau jatuh, Om," jawab Cyara dengan jujur.


De menganga. "Astaga! Ada tisu, Kudek." Pria berjambang lebat itu meraih beberapa lembar tisu dengan kasar, lalu menyumpal hidung Cyara, gadis manis itu hampir saja terhuyung akibat gerakan De, tetapi dia masih mampu mempertahankan posisinya.


Cyara bergeming, memerhatikan De yang sedang membersihkan hidungnya. Namun, detik selanjutnya decakan keras terdengar. De tak bosan-bosannya menatap Cyara dengan tajam.


"Kenapa diam?! Elap hidungmu, kamu pikir harus aku yang melakukannya?" sentak pria itu dengan sorot mata berapi-api. Entah kenapa, setiap kali berdekatan dengan Cyara, bawaannya selalu sensi. Seperti seorang wanita yang sedang menstruasi.


Cyara menelan ludahnya kasar, lalu meraih tisu yang ada di tangan De, membersihkan air yang mengalir deras dari dalam hidungnya.

__ADS_1


Sementara De terlihat tengah mengatur nafas. Pagi-pagi dia sudah seperti habis lari maraton, akibat menghadapi Cyara, yang kelakuannya nauzubillah.


"Om," panggil Cyara, tetapi De tak langsung menjawab. Berulang kali dia berusaha untuk tetap tenang. Dan semoga saja Cyara tak membuat dirinya kembali naik darah.


"Ada apa?" jawab De dengan suara memelan, rasanya pun dia sudah sangat lelah kalau harus terus-menerus tarik urat.


Cyara terlihat ragu, tetapi dia tidak ingin kalau sampai ucapan De terjadi. "Om, tidak benar-benar akan mengusir Cia, kan?"


Lagi-lagi De bergeming, dia merasa tak sampai hati kalau harus mengusir bocah ingusan itu ke jalanan. Hah! Kenapa dia malah merasa menjadi orang jahat sekarang, padahal dia sangat ingin terlepas dari bocah bernama Cyara.


"Cia tidak tahu harus ke mana, kalau Om Dokter usir Cia, Cia jadi gembel dong?" ujarnya dengan suara yang bergetar. Dia menunduk dalam, menatap sepatunya yang terlihat cekung, gara-gara diinjak oleh pria yang ada di hadapannya.


De menghembuskan nafas kasar, lalu berkacak pinggang. Menatap suasana di luar sana, sedangkan pikiran pria itu melalang buana. Akhirnya De mengangguk pasrah, semoga saja apa yang dilakukannya adalah sesuatu yang benar. Tinggal bagaimana dia menyikapi sikap Cyara yang begitu bar-bar.


"Terima kasih, Om. Cia janji, nggak akan ngeselin deh," ucap gadis manis itu, De terpaku sejenak, baru saja dia ingin bicara agar Cyara melepaskan tubuhnya, tetapi Cyara malah lebih dulu menarik diri dan melenggang keluar dari ruangannya.


Tanpa bicara.


***

__ADS_1


Akibat tugas Cyara tidak ada yang beres, akhirnya Candra harus membantu gadis itu untuk kembali membersihkan beberapa titik rumah sakit. Saat itu Cyara keluar dari ruangan De dengan bola mata dan hidung yang memerah.


Candra dengan sigap menarik tangan Cyara. "Ci, kamu kenapa? Dokter De ngapain kamu? Kamu dimarahi?" Tanya Candra beruntun.


Namun, yang ditanya malah tersenyum sambil menggelengkan kepala. Candra menatap heran, kalau tidak? Kenapa mata Cyara memerah seperti habis menangis? Sebenarnya apa yang terjadi di antara mereka.


"Ci, jangan bohong. Kamu nggak bisa ngelak sama aku, kamu habis nangis 'kan? Kamu diapain sama Dokter De?"


Candra masih tetap kukuh ingin mendengar penjelasan Cyara. Mereka bicara di salah satu sudut rumah sakit, Cyara mengangkat wajah dan kembali menggelengkan kepala.


"Om Dokter nggak ngapa-ngapain Cia kok, Kak. Tadi cuma salah paham."


"Salah paham apa?"


"Tadi Om Dokter ituin Cia, Cia kan kesakitan. Terus Cia nangis deh. Tapi Cia nggak apa-apa, soalnya Om Dokter nggak jadi usir Cia," jelas gadis itu, semakin terdengar ambigu di telinga Candra.


Membuat pikiran pria muda itu jadi ke mana-mana. Sampai menjurus ke hal yang tak senonoh. "Maksud kamu? Kamu abis diituin sama Dokter De?" Tanya Candra sedikit terbata.


Dan yang paling membuat Candra melebarkan kelopak matanya. Saat Cyara menjawab dengan anggukan kepala.

__ADS_1


"Hehe, nggak apa-apa. Cia ikhlas kok."


Candra langsung gelagapan. "Ikhlas?"


__ADS_2