
"Masih ingin bicara?" tanya De, melihat Cyara yang bergeming. Gadis cantik itu masih mencerna ucapan pria yang berada di atas tubuhnya.
Jadi, wanita itu telah salah paham padanya? Dia bukan istri De, dan De benar-benar tidak terikat hubungan dengan wanita manapun?
"Om, tidak bohong?" gadis cantik itu menjawab dengan sebuah pertanyaan pula. Namun, tatapan mata Cyara memilih objek lain.
"Kalau sedang bicara, lihat lawan bicaramu!" ucap De dengan sedikit keras. Dia terus menatap wajah Cyara yang sedang menghindarinya.
Gadis cantik itu terlalu malu, sebab sudah salah paham. Lalu apa gunanya dia menangis seharian?
"Tatap aku!" titah De akhirnya, karena Cyara tak menjawab maupun menuruti perintahnya. Gadis cantik dengan bibir tipis itu mencebik, membuat De gemas sendiri.
"Aku bilang tatap aku dan lihat baik-baik, adakah kebohongan di sana," sambung De, ingin membuat Cyara percaya, bahwa apa yang dia katakan adalah sebuah kebenaran.
Cyara adalah gadis pertama yang ia kenal dan masuk ke kehidupannya sampai sejauh ini. Meskipun ia tidak mengerti kenapa harus Cyara, gadis kecil yang bahkan membalas ciumannya saja belum bisa.
__ADS_1
Pelan-pelan Cyara menggerakkan bola matanya, hingga kedua benda yang memiliki fungsi penglihatan itu menatap De dengan begitu dalam. De terlihat sangat serius, sebab Cyara memang tidak pernah melihat pria ini bercanda.
"Jadi apartemen ini bukan milik Om, dan dia bukan istri Om? Om—"
"Ya, ini semua memang bukan milikku, aku meminjamnya. Dan kesalahan fatalnya di sini, kami tidak saling terbuka. Aku menyembunyikan identitasmu dari dia, jadi dia tidak tahu apa-apa."
"Lalu bagaimana dengan wanita itu? Dia terlihat sangat marah," adu Cyara, dia jelas tahu kemarahan di mata Jennie. Wanita hamil itu terlihat sangat kecewa.
De mendesah kecil, ini dia masalahnya. Setelah pulang dari sini, dia harus bersiap-siap untuk menghadapi sang kakak karena telah membuat wanitanya menangis. Ah, entahlah De tidak bisa membayangkan amukan Aneeq untuk saat ini.
Pria itu bangkit dari atas tubuh Cyara, lalu membantu gadis itu untuk duduk. Dengan penuh perhatian De juga menghapus jejak tangis Cyara dengan ibu jarinya. Sementara gadis cantik itu hanya bisa membatu, menerima semua perlakuan manis ini dengan debaran jantung yang terasa sangat kencang.
De yang tidak pernah bisa sabar, akhirnya menarik lengan Cyara hingga gadis itu menabrak dadanya. Kedua tangan kekar itu tiba-tiba melingkar di sepanjang pinggang Cyara membuat gadis itu lagi-lagi tak dapat bicara.
"Aku akan bicara dengannya. Dan untukmu, ingat pesanku, apapun yang terjadi aku minta jangan sekali-kali pergi. Tunggu penjelasanku, setelah itu kamu boleh menyimpulkannya. Benar atau tidak tindakanku ...."
__ADS_1
"Kamu sendiri sadar, bahwa kamu orang lain yang tiba-tiba datang ke kehidupanku, maka dari itu aku juga perlu penyesuaian denganmu ... ada banyak hal yang tidak kamu ketahui tentang aku, jadi apapun itu tanyakan dulu. Jangan bertindak gegabah dan berpikir untuk pergi tanpa melihat resiko yang akan kamu dapatkan ...."
De merasakan sebuah gerakan di dadanya, tanda Cyara mengangguk. Pria itu mengulum senyum tipis. "Aku sudah memberimu ponsel, kamu tahu gunanya untuk apa? Untuk menghubungi aku di saat kamu memang membutuhkan sebuah kejelasan. Di saat ada waktu lengang aku pasti membalasnya."
Setelah ucapan De selesai Cyara menengadah, menatap wajah tampan De yang sudah terlihat lelah, bahkan dia bisa melihat bibir pria itu, bibir yang sempat ia gigit sampai berdarah.
"Kalau begitu, Cia boleh minta satu kejelasan?" tanyanya.
"Apa?!" De menatap ke bawah, hingga pandangan mata mereka bertemu.
"Bagaimana dengan hubungan kita?"
Deg! Mata De langsung berhenti berkedip saat mendengar pertanyaan Cyara. Mulutnya tertutup rapat seolah tak dapat menjawab, ia jelas tahu dan sangat paham, bahwa tidak ada status apapun di antara mereka. Namun, ciuman itu, pelukan ini, dan semua perhatiannya terhadap Cyara. Sungguh, ia pun seperti tidak mengenali dirinya sendiri.
"Kita—"
__ADS_1
Belum sempat melanjutkan ucapannya, Cyara malah terkekeh, dia sedikit menegakkan tubuh untuk mengecup bibir De yang berdarah. "Aku hanya bercanda." Ucapnya masih dengan kekehan yang terus berdengung di telinga De, sementara pria itu hanya bisa membuang wajah.
Apa katanya? Hanya bercanda?