
Akhirnya pesta telah selesai, hanya ada beberapa orang kolega yang masih setia mengobrol dengan Ken, sementara Andrew yang kesehatannya belum terlalu stabil, sudah beranjak naik ke kamarnya untuk beristirahat.
Para petugas kebersihan dan juga tim wedding organizer mulai berbenah. Semua anggota keluarga mempelai pria juga pamit untuk pulang, karena esok mereka masih memiliki kesibukan masing-masing.
"Lain waktu nanti kita bisa bertemu. Untuk sekarang, sepertinya saya harus segera pulang, karena istri saya sedang hamil," ucap Ken pada kedua teman sebayanya.
Mereka sontak terkekeh, lalu salah satunya menepuk lengan Ken. "Anda memang hebat, Tuan Ken. Di umur anda yang sekarang masih bisa membuat Nyonya Zoya betah di rumah. Semoga istri dan anak anda selalu sehat ya."
Ken mengulum senyum, dia menarik pergelangan tangan Zoya saat wanita itu tengah melangkah ke arahnya. "Umur boleh bertambah, tapi stamina jangan sampai berkurang." Ucap pria paruh baya itu, yang langsung mendapat cubitan dari Zoya.
Namun, pria itu malah terkekeh, lalu mengecup bibir istrinya.
"Kalau begitu, kami pamit ya, Tuan Ken."
"Ah iya silahkan, sebentar lagi juga saya akan pulang." Ken mempersilahkan dua orang pria itu untuk pergi meninggalkan kediaman keluarga Ramsey.
Lalu pandangan matanya beralih pada Zoya, Ken mengapit pinggang wanita itu dan sedikit mengusak pucuk hidung mereka. "Ayo kita pamit pada De, kita harus segera pulang. Kamu dan Baby Twins butuh istirahat."
__ADS_1
"Iya, Sayang. Tadi aku lihat De ada di halaman, melihat saudara-saudaranya pulang."
"Kalau begitu kita ke sana," ajak Ken, Zoya langsung mengangguk patuh, lalu melangkah beriringan dengan suaminya.
Tepat pada di ambang pintu, ketiga orang itu bertemu, De baru saja akan masuk, sementara Ken dan Zoya beranjak keluar.
"Mom, Dad, kalian juga akan pulang?" tanya De lebih dulu.
Zoya tersenyum, melangkah maju untuk mengusap pipi De yang berbulu. "Iya, Sayang. Kami pamit yah, kamu baik-baik di sini dengan keluarga barumu. Nanti kalau kamu butuh apa-apa tinggal telepon ke rumah, Mommy akan siapkan."
"Iya, Sayang. Kalian semua akan selalu jadi bayi kecil Mommy, tidak peduli meskipun kalian sudah pandai membuat bayi," jawab Zoya dengan terkekeh. Dia tidak ingin menunjukkan kesedihan di depan De, dia harus bahagia karena melihat anak-anaknya tumbuh dewasa dan memiliki keluarga.
De sedikit mengeratkan pelukannya, sementara Zoya berulang kali memberikan kecupan di wajah sang anak. Dan tentu saja hal tersebut membuat ayahanda raja ular menaruh cemburu.
"Ck! Sudahlah, Sayang. Kita hanya pamit pulang ke rumah, bukan pindah negara, kenapa jadi banyak drama seperti ini," protes Ken, dia sedikit menarik tubuh Zoya, agar De melepaskan pelukannya. "Dan kamu—sudah sana peluk istrimu saja, jangan istriku."
"Haish, Daddy! Merusak suasana saja! Mommy itu ibuku," ketus De, tetapi Ken tidak peduli, dia langsung memeluk Zoya dengan posesif, seolah tak ingin berbagi dengan siapapun.
__ADS_1
Pria berjambang lebat itu hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah sang ayah. Sudah tak dapat berkomentar apa-apa.
"Benar apa yang dikatakan Daddy, Sayang. Istrimu sudah menunggu di kamar, tadi dia pamit pada Mommy."
De menghela nafas panjang, mengingat Cyara bibirnya pun kembali berkedut.
"Sudah sana! Kamu itu perlu bekerja keras, karena ada sesuatu yang perlu kamu rubah ukurannya," sahut Ken dengan kalimat ambigu, pria paruh baya itu kembali mendapat cubitan dari Zoya, tetapi Ken malah terkekeh dan mengusak di ceruk leher wanita hamil itu.
Sementara De mengernyit setelah mendengar ucapan sang ayah, benar-benar tak berbeda jauh dari kakak sulungnya.
*
*
*
Satu jurusan soalnya, Bang😌😌😌
__ADS_1