Gadis Kecil Om Dokter

Gadis Kecil Om Dokter
Tengah Malam


__ADS_3

Di mansion.


Ziel sudah masuk ke dalam kamar bersama dengan dua wanita yang dicintainya, yaitu Jennie dan Zoya. Seperti rencana pria kecil itu, malam ini mereka akan tidur bertiga.


Aneeq mengekor dengan wajahnya yang sudah sedikit kuyu. Tidak mungkin kan malam ini dia benar-benar harus tidur dengan ayahanda raja ular?


Yang ada dia tidak bisa tidur dengan bermanja-manja sambil pegang semangka.


Terdengar helaan nafas kecil keluar dari mulut pria tampan itu. "Mom, bagaimana kalau kita tidur berempat? Aku tidak mungkin tidur dengan Daddy!" Rengek Aneeq dengan wajahnya yang terlihat masam.


Zoya yang saat itu sedang menggandeng tangan Ziel untuk masuk ke dalam kamar mandi, langsung menoleh dan menatap putra sulungnya. "Sempit dong, An. Nanti kami jadi tidak leluasa. Lagi pula kalau kamu ikut tidur di sini, nanti siapa yang menjaga Daddy? Bagaimana kalau dia bangun tengah malam? Sehari saja coba bantu Mommy untuk mengurusi Daddy-mu."


Zoya sedikit mengeraskan suara. Bukan karena dia malas meladeni Ken, tetapi dia juga ingin berbagi waktu dengan cucunya. Minimal berikan dia waktu semalam untuk bersama dengan Ziel.


Aneeq terlihat menahan nafas, melihat ibunya yang berbicara seserius itu. "Tapi bagaimana kalau Daddy tidak mau aku urus?"


"Belum dicoba!" ketus Zoya, dia meneruskan langkah, membawa Ziel untuk mencuci kakinya sebelum naik ke atas ranjang.


Pria itu melihat ke arah Jennie, wanita hamil itu hanya mengangkat kedua alisnya dan tersenyum paksa. "Sudahlah, jangan membantah. Hanya semalam, besok aku akan membiarkan Ziel memilih, tidur dengan kita atau dengan Grandmanya."


Aneeq pun tak bisa berbuat apa-apa, dia mencebikkan bibir dan melangkah ke arah istrinya. Pria itu sedikit memberikan kecupan selamat malam sebelum akhirnya benar-benar pindah ke kamar sebelah.


Cup!


"I love you, Jen," ungkap Aneeq seraya mengusap pipi Jennie yang mulai membulat.


"I love you more, semoga tidurmu nyenyak," balas Jennie.


Di kamar utama, Ken terbaring lemah dan senantiasa memejamkan matanya. Sementara di tangan kiri pria paruh baya itu masih tertancap jarum infus, supaya Ken sedikit lebih bertenaga.


Karena dia memang jarang mendapat asupan makanan. Lagi pula, bagaimana mau makan? Kalau mencium aromanya saja sudah berhasil membuatnya muntah-muntah.

__ADS_1


Melihat itu, Aneeq pun merasa iba. Dia jadi teringat masa kecilnya, masa di mana dia selalu menyusahkan kedua orang tuanya, terlebih Zoya.


Aneeq menarik selimut hingga menutupi dada sang ayah. Bahkan dia juga meraih tangan yang sudah sedikit keriput itu untuk dikecupnya.


"Maafkan An ya, Dad. Sampai sekarang An masih belum bisa sepenuhnya membahagiakan kalian."


Kemudian dia memilih untuk berbaring di sofa. Biarlah untuk malam ini dia yang akan menjaga sang ayah, toh itu semua itu tidak sebanding dengan apa yang Ken berikan untuknya.


Hingga tak berapa lama kemudian, Aneeq pun ikut terlelap. Dia melipat kedua tangannya di depan dada dan sedikit meringkuk.


Malam semakin pekat, bergerak menyambut fajar yang akan datang.


Sementara di atas ranjang, Ken mulai mengerjapkan kelopak matanya. Pria itu melirik ke samping, biasanya dia langsung bisa melihat wajah istri tercintanya. Namun, kenapa sekarang tidak ada?


"Baby?" panggil Ken dengan suara lirih.


Namun, tidak ada jawaban apapun, kamar itu terasa kosong dan hanya dihuni oleh dia seorang.


Mendengar suara sang ayah, Aneeq pun ikut terbangun, dia mengucek sebelah mata seraya menguap.


"Ada apa, Dad? Apa Daddy butuh sesuatu?"


Ken menggeleng lemah. "Zoya."


Aneeq langsung paham, pastilah pria yang cinta mati dengan ibunya ini tengah mencari-cari keberadaan istrinya.


"Mommy di kamar sebelah, tidur dengan Ziel dan Jennie," jawab Aneeq apa adanya.


"Panggilkan dia!" Ken sedikit mengibaskan tangan, meminta agar Aneeq segera menjauh. Sebab di tengah malam seperti ini, dia tidak memiliki cukup tenaga untuk sekedar berlari menuju wastafel dan memuntahkan isi perutnya.


"Ini sudah malam, Dad. Mommy pasti—"

__ADS_1


"Panggil!"


Haish, Aneeq tidak dapat membantah. Atau dia akan semakin melihat Ken marah-marah. Akhirnya pria itu pun keluar dan mengecek kamar sebelah.


Beruntung tidak terkunci sama sekali, Aneeq langsung membangunkan sang ibu yang saat itu terlelap dengan memeluk tubuh Ziel.


Zoya sedikit tersentak, tanpa membuang waktu dia langsung melipir ke kamarnya. Hingga dia bisa melihat Ken yang sudah menunggu kedatangannya. "Baby ...." Rengek pria paruh baya itu.


"Ada apa, Sayang?" Kini Zoya sudah merangkak di atas ranjang, dan berbaring di samping Ken.


"Kenapa meninggalkanku?"


"Aku di sebelah."


"Tidak mau!"


"Kenapa?"


"Kangen ...," ujarnya bertambah merengek. Yang mana membuat Zoya terkekeh, dia mengusap dahi Ken yang sedikit berkeringat lalu mengecupnya.


"Aku sudah di sini, jadi tidurlah."


"Mau ini."


Zoya langsung menghela nafas kecil, mengerti ke mana arah ucapan Ken, sebab sorot mata pria itu pun ikut berbicara. Dia sedikit membuka dress bagian atas, tetapi sebelum dia mengeluarkan isinya, di belakang sana ada yang bersuara.


*


*


*

__ADS_1


"Hah, seharusnya aku bisa menebak akan seperti apa ujungnya. Kenapa juga aku mengikuti Mommy masuk ke kamar ini lagi."


__ADS_2