
Kelopak mata Austin semakin melebar dengan sempurna, sementara mulutnya terus menganga. Tidak! Tidak mungkin Cyara bersama dengan orang seperti Aneeq. Apalagi sampai bekerja sama.
Mereka kenal dari mana? Yang ia tahu keponakannya itu tidak pernah mengenal siapapun selain keluarga mereka.
Austin terus menggeleng tak percaya, mulai merasa bahwa kedatangan gadis itu akan membawa petaka.
"Bagaimana, Tuan Austin? Apa kamu masih berpikir bahwa kamu tidak memiliki masalah?" tanya Aneeq dengan melipat kedua tangan di depan dada. Dia ingin memancing Austin agar mengeluarkan sifat aslinya.
Pemarah dan serakah.
Tatapan mata Austin beralih untuk melihat ke arah Aneeq yang terus tersenyum meledek. Dia semakin mengepalkan tangannya kuat, benar-benar merasa direndahkan.
"Aku tidak tahu apa yang kalian rencanakan, sebaiknya kalian pergi, karena kami sedang rapat," ucap Austin, dia mengusir Aneeq dan berniat untuk melanjutkan rapat tersebut. Namun, Austin yang sudah ingin duduk segera ditahan oleh tim penyidik.
"Maaf, Tuan, tapi anda harus ikut kami."
"Jangan berani menyentuhku!" sentak Austin sambil menepis kedua tangan yang ingin mencekal pergelangan tangannya. Karena semua pengawal berada di bawah, maka tidak ada yang bisa melindunginya.
Bisik-bisik mulai terdengar, semua orang bertanya-tanya ada apa sehingga adik dari pimpinan tertinggi di perusahaan RY Group seperti diserang oleh keluarganya sendiri.
"Paman, lebih kamu menyerah, ikutlah dengan mereka supaya kamu tidak merasa malu karena menjadi perbincangan banyak orang," ucap Cyara buka suara, dia melangkah maju menatap Austin tanpa rasa takut.
__ADS_1
Berbeda dengan terakhir kali mereka bertemu, Austin bisa merasakan itu.
"Apa yang kamu bicarakan? Dan lagi pula bukankah kamu itu hilang? Lalu kenapa tiba-tiba kamu datang di saat seperti ini? Ke mana kamu saat ayahmu sakit? Kamu benar-benar anak tidak tahu diuntung!" cerca Austin, membuat spekulasi baru, berpikir bahwa Cyara menghilang karena tidak mau mengurus Andrew yang sakit-sakitan.
"Winda, cepat kamu lanjutkan rapat, aku tidak punya waktu untuk meladeni bocah ingusan seperti dia. Aku sangat tahu, dia itu sulit diatur dan hanya ingin menghamburkan uang ayahnya."
Mendengar itu, Cyara tercengang dia tidak menyangka Austin akan sepicik itu. Memutar balikkan fakta yang ada, bahwa sebenarnya dia lah yang gila harta.
"Maaf, Tuan, tapi sepertinya kita harus selesaikan masalah ini terlebih dahulu, RY Group dan para pemegang saham tidak akan mungkin menerima pemimpin yang bermasalah," jawab Winda dengan tegas.
Seketika Austin meradang. "Apa maksudmu?!" Teriaknya mengagetkan semua orang. Pria itu hendak melangkah ke arah Winda tetapi segera ditahan.
"Jangan macam-macam, Tuan. Jika anda terus memberontak dan mengulur waktu, kami terpaksa membawa anda dengan cara paksa."
"Tidak ada surat wasiat apapun dari Daddy untuk menjadikan dia pemimpin di perusahaan ini, karena kelak Daddy akan menyerahkannya padaku—Tuan Jo adalah pengacara Daddy, kalau kalian tidak percaya, tanyakan saja padanya. Karena yang berdiri di depan kalian hanyalah seorang pembohong, dia iblis yang hanya bisa menyakiti semua orang! Dan asal kalian tahu, dia hanyalah seorang anak yang dipungut keluargaku, dia tidak memiliki hak apapun—termasuk duduk di kursi Daddy-ku!" teriak Cyara dengan lantang, nafas gadis itu terengah seiring dengan suaranya yang menggema.
Austin sudah tidak tahan lagi, dia yang sangat geram mendengar ucapan menohok Cyara segera mengambil sesuatu yang ada di belakang tubuhnya.
Dor!
"Argh!" jerit Austin saat merasakan kakinya yang tertembak. Pistol di tangannya jatuh, bersamaan dengan tubuhnya yang hampir ambruk.
__ADS_1
Ternyata dia kalah cepat, tim penyidik yang sudah memprediksi hal itu akan terjadi segera mengambil tindakan. Padahal di tempatnya Aneeq sudah sangat geram, andai tidak ada aparat keamanan mungkin dia sudah menembak kepala Austin hingga pelurunya menembus otak dangkal pria itu.
"Sekarang juga ikut kami!"
"Tidak! Aku tidak akan ikut dengan kalian, semua itu bohong. Dia hanya mengarang cerita." Austin meronta-ronta, picingan mata dengan gigi depan yang saling menyatu tanda dia tengah mengerahkan seluruh tenaganya.
"Jangan lupakan, Tuan, bahwa anda juga telah melecehkann saya, jika anda memang tidak melakukan apa yang dibicarakan oleh Nona Cyara, tapi ada pasal lain yang menjerat anda," ucap Winda.
Austin menggeram.
Belum sempat dia berontak, suara seseorang kembali terdengar. "Betul, Tuan, sebuah penyuapan juga bukankah sudah masuk ke tindak kriminal?"
"Bejattt! Kalian semua kurang ajar! Lepaskan aku! Aku telah dijebak!" teriak Austin, keringat sudah memenuhi dahinya, kini dia tidak memiliki sekutu lagi untuk melawan Cyara, karena semua orang malah balik menyerangnya.
Nafas Austin tersengal, dia mulai merasakan sakit pada dadanya. Namun, dia tidak menyerah, dia masih berusaha melarikan diri sebelum dia benar-benar mendekam di penjara.
"Lepaskan aku, Sialan! Kalian tidak bisa seperti ini padaku."
Austin diseret keluar, dengan kakinya yang sudah berdarah-darah. Dia tidak berhenti memaki, sementara nafasnya terasa hampir hilang.
Saat Austin melewati pintu, dia melirik penuh dendam ke arah Aneeq, tetapi pria itu malah menggodanya.
__ADS_1
"Selamat jalan, Tuan Tikus, kamu akan bertemu dengan teman-temanmu."