
Meja makan sudah penuh dengan berbagai masakan. Setelah mengemas barang-barang, De dan Cyara diajak makan siang oleh Zoya. Sementara Ken, sudah duduk tenang di kursinya. Hanya ada mereka berempat, karena mansion akan terasa sepi begitu semua orang berangkat bekerja.
Mereka makan dengan tenang, tetapi sungguh perubahan dalam diri De sangat jelas terlihat. Tanpa sungkan, pria tampan itu menyuapi istrinya di depan Ken dan Zoya.
Kedua orang itu hanya saling pandang melihat kelakuan putra mereka. Meskipun hati De sekeras batu, tetapi jika sudah meleleh, ternyata tak jauh berbeda dengan sikap ayahnya, yaitu tidak tahu malu, dan tidak peduli apa kata orang.
"Oh iya, Mom, ada kemungkinan Cia sudah hamil," ujar De, langsung membuat Ken tersedak.
Uhuk!
"Hubby, pelan-pelan makannya!" ucap Zoya seraya mengulurkan segelas air putih ke hadapan Ken. Kemudian mengusap punggung kekar pria paruh baya itu.
"Yang benar saja, De, kalian baru menikah seminggu dan pulang dari bulan madu," ucap Ken sambil mengelap pinggiran bibirnya. Dia cukup terperangah, kenapa bisa begitu cepat jadinya.
Cyara tampak menciut, takut sang ayah mertua menuduhnya yang tidak-tidak. Namun, di bawah sana, De tiba-tiba menggenggam erat tangannya. Hingga membuat ia sedikit mengangkat wajah, De tersenyum tipis, Cyara akhirnya ikut tersenyum pula.
"Sayang, kan baru kemungkinan," timpal Zoya menjawab pertanyaan suaminya.
"Iya, Dad. Aku hanya bilang kemungkinan, dan semua itu hal yang wajar, dalam dunia kedokteran kasus seperti ini tidak asing lagi, banyak pasangan di luar sana baru seminggu sudah hamil satu bulan," jelas De apa adanya.
Ken menghela nafas, dia yang tidak tahu hal seperti itu, jelas saja merasa terkejut.
"Lagi pula aku yang paling tahu istriku, aku yang membobol gawangnya," sambung De dengan gamblang, yang membuat Ken mendelik.
"Yang itu tidak perlu diperjelas!" sentak Ken.
"Ya supaya Daddy tidak berpikir yang tidak-tidak."
"Sudah-sudah, kenapa jadi ribut seperti ini? Kita sedang makan lho," sambar Zoya untuk menghentikan perdebatan antara anak dan ayah itu. "Nanti coba pakai tespek dulu yah, Mommy punya di atas."
"Kami juga tadi membelinya, Mom," ujar De.
"Oh baguslah kalau begitu. Cia Sayang, maafkan Daddy yah. Dia hanya terkejut, kami tidak menuduhmu, lagi pula kalau memang iya, kami yakin suamimu yang nabung dulu."
__ADS_1
"Mom, aku bukan Aneeq!"
"Kalian sama saja!" tukas Ken, yang membuat De akhirnya kicep.
Kemudian mereka kembali melanjutkan makan siang. Suasana langsung senyap, karena hanya ada suara dentingan sendok yang beradu dengan piring. Setelah selesai keempat orang itu langsung pergi ke kamar masing-masing.
"Poo, bagaimana jika hasilnya tidak positif?" tanya Cyara sambil mengeluarkan alat tes kehamilan dari dalam kantong kresek putih.
De memeluk Cyara dari belakang, kemudian menyandarkan kepalanya di antara ceruk leher gadis itu. "Apapun hasilnya aku akan terima. Kalau memang belum positif berarti kita harus bekerja lebih keras lagi."
"Baiklah, aku coba sekarang yah."
"Iya, Sayang." De melepaskan Cyara, setelah mengecupi pipi dan puncak kepala gadis cantik itu.
Cyara pun masuk ke dalam kamar mandi, kemudian mengikuti petunjuk pemakaian alat tes kehamilan itu. Dia sedikit merasa tak nyaman, tetapi demi melihat hasilnya dia melakukan itu semua.
"Sayang, tunggu di luar saja, kenapa mesti berdiam diri di kamar mandi?"
"Tidak mau, Poo, aku ingin melihat hasilnya di sini. Supaya suprise."
Cyara tampak terkejut, kemudian melangkah cepat untuk menemui suaminya.
"Poo," panggil Cyara pada De yang kini tengah berbaring di atas ranjang. Melihat sang istri datang, De pun mendudukkan tubuhnya, kemudian menepuk paha, agar Cyara duduk di sana.
Cyara pun patuh.
"Bagaimana, Moo?" tanya De dengan alis terangkat.
Cyara tersenyum tipis. Kemudian menunjukkan hasil tes tersebut. De melihatnya dengan jelas, kedua orang itu saling pandang, tiba-tiba mereka berteriak kegirangan.
"Yeay! Itu artinya kita harus kejar tayang."
Mereka melakukan itu, karena sudah sepakat apapun hasilnya, mereka akan merasa senang.
__ADS_1
Satu garis merah itu, menunjukkan bahwa mereka harus berjuang.
*
*
*
Sampai ketemu di bulan depan, masih dengan cerita anak uler-uleran.
Sedikit cuplikan :
Karena kesalahan di masa lalu, membuat seorang wanita yang kini bekerja di sebuah club' malam bertekad menghancurkan rumah tangga seseorang.
Dia adalah Bianca, wanita cantik dengan tubuh gemulai, juga parasnya yang cantik rupawan. Namun, nasib baik sepertinya tidak berpihak padanya.
Bianca hidup sebatang kara, setelah sang ayah meninggal saat dia remaja. Semua keluarga tidak ada yang sudi menampungnya hingga dia hidup dengan liar di luar sana.
Dan ia merasa semua nasib sial itu adalah akibat perbuatan seorang wanita yang kini terlihat bahagia dengan suaminya. Hidup penuh tawa, dan bergelimang harta.
Hingga akhirnya Bianca bertekad, untuk menggoda suami wanita itu.
"Bizard Welling Tanson, aku akan membuatmu jatuh dalam pelukanku!"
***
Makasih ye, yang udah baca ampe sini 😍😍😍 Gue cipokk atu-atu pokoknya 💋💋💋
Jangan lupa, nanti mampir ke lapak Abang Bee, buat Abang Choconya kita pending dulu, Kakaknya ngamok soalnya🤣🤣🤣
Salam dari keluarga Uler-uleran 🐍
__ADS_1
Salam anu👑