
Seorang gadis?
Aneeq baru saja mendapatkan ingatannya. Dia lupa menjelaskan pada Jennie bahwa di apartemen ada teman De yang menginap. Namun, sumpah demi apapun Aneeq tidak tahu kalau dia adalah seorang gadis.
Benar-benar sial, mereka malah jadi salah paham. Pasti Jennie mengira dia selingkuh dan menyembunyikan gadis itu di apartemen agar tidak ketahuan.
Gila, sungguh gila! De benar-benar perlu diberi pelajaran, kenapa adik kembarnya itu tidak bilang, kalau seseorang yang berada di apartemen berjenis kelamin wanita.
Aneeq memijat pelipisnya dengan satu tangan yang bertolak pinggang. Sementara Jennie masih sesenggukan, bahu wanita itu naik turun seiring tangisannya yang terdengar memilukan.
Helaan nafas panjang memenuhi udara. Aneeq mencoba meraih bahu Jennie, tapi lagi-lagi wanita berdada besar itu menepisnya.
"Jen, ayo duduk dan dengarkan penjelasanku. Aku tidak akan mengelak atau apapun itu, aku akan bicara yang sejujurnya," ucap Aneeq membujuk Jennie untuk membicarakan masalah ini dengan kepala dingin, bukan marah-marah.
"Sayang, ayolah ...."
__ADS_1
Aneeq meraih kembali tangan Jennie, dan kali ini tidak ada penolakan, sepertinya Jennie dapat diajak kerja sama. "Come on, Dear. Baby kita pasti lelah kalau Mommy-nya berdiri terus. Aku bersumpah, gadis itu tidak ada kaitan apapun denganku, jadi kamu tidak perlu menangis seperti ini."
"Tapi kenapa dia ada di sana, An?" tanya Jennie dengan suara yang sudah sumbang, matanya kembali menggenang, dan langsung disapu oleh ibu jari Aneeq.
"Makanya dengarkan penjelasanku, ayo kita duduk dan tenangkan dirimu. Ingat, semua ini tidak bagus untuk kandunganmu, Sayang. Kamu tidak boleh stres."
Mendengar itu, akhirnya Jennie semakin luluh. Dia patuh pada ajakan Aneeq untuk duduk di sofa. Keduanya duduk berdampingan, sekali lagi Aneeq menghapus jejak basah di pipi Jennie dan mengecupnya beberapa kali. "Satu yang harus kamu ingat, selamanya aku adalah milikmu."
"Cepat katakan, jangan banyak bicara lagi."
"Kamu baca!" titah Aneeq sambil mengulurkan ponselnya. "Malam itu De meminjam apartemen padaku, karena dia ingin menolong temannya. Karena dia jarang meminta tolong dan orang yang paling irit bicara, aku tidak curiga sama sekali kalau dia membawa seorang wanita ke sana. Karena kamu juga tahu sendiri, De bukan tipe pria sepertiku, dia benar-benar tidak pernah mengenal lawan jenisnya. Jadi aku berpikir bahwa teman dia seorang pria. Dan aku tidak bercerita padamu karena menurutku itu semua bukan sesuatu yang penting ...."
"Aku berani bersumpah, aku juga tidak pernah melihat gadis yang kamu maksud. Karena De menyembunyikan semuanya," jelas Aneeq dengan begitu gamblang.
"Jadi gadis itu berpikir bahwa De adalah pemilik apartemen itu? Karena dia bilang dia adalah temanmu, dia juga memakai bajuku atas izinmu."
__ADS_1
Aneeq menghela nafas, dia meraih tangan Jennie dan menciumnya. "Mungkin seperti itu, De tidak akan banyak bicara kecuali pada orang-orang yang memang dekat dengannya. Waktu itu dia hanya izin memakai barang-barang yang ada, dan aku mengizinkannya. Aku mana tahu dia juga meminjam bajumu."
Bibir Jennie mengerucut. "Kamu tidak sedang membohongiku, 'kan?"
"Astaga." Aneeq memutar bola matanya lalu menangkup kedua sisi wajah Jennie. "Kalau kamu tidak percaya, kita bicarakan nanti dengan De, biar dia yang bercerita langsung padamu."
"Tapi aku takut dengannya."
"Takut apa? De tidak akan menggigit, andai dia macam-macam aku yang akan menghajarnya. Tenanglah, apa lagi yang kamu khawatirkan?"
Akhirnya perlahan-lahan Jennie mulai percaya. Pikirannya sekarang berangsur tenang dan semakin tenang saat Aneeq membawa tubuhnya masuk ke dalam dekapan pria tampan itu. "Percayalah padaku, Jen. Aku tidak akan berpaling darimu. Perjuangan untuk mendapatkanmu sangat sulit, aku tidak mungkin melepaskanmu dengan begitu mudah, apalagi hanya untuk jambu-jambu di luar sana. Mereka semua akan kalah dengan semangka."
Bugh!
"Dasar Anaconda!"
__ADS_1